SAUMLAKI, Trending-Maluku.com, — Suara lantang pemuda Lermatan, Ridolof Kelbulan, mengguncang ruang publik Tanimbar. Bukan tanpa alasan. Ia menilai kualitas kepemimpinan Ketua KNPI Kepulauan Tanimbar, Alex Belay, telah melampaui batas kesabaran pemuda.
“Jika ada lomba bicara tanpa data di Tanimbar, nama Ketua KNPI Kepulauan Tanimbar, Alex Belay, mungkin akan keluar sebagai juaranya,” ujar Kelbulan membuka kritiknya, Jumat (6/11/2026), dengan nada tajam.
Bukan karena Alex Belay tidak bisa bicara. Menurut Kelbulan, justru terlalu pandai bicara. Namun masalahnya, setiap kali bicara, isinya dinilai asal bunyi alias Asbun: ngomong besar, tanpa data, tanpa kajian, tanpa memahami persoalan yang sebenarnya.
“Tiga pernyataan terakhirnya menjadi bukti paling telanjang, betapa Ketua organisasi pemuda terbesar di Tanimbar ini justru mempermalukan pemuda Tanimbar di ruang publik,” tegas Kelbulan.
Usulan Ngawur, Blok Masela Pindah Lagi ke Laut
Pernyataan paling ngawur Alex Belay, kata Kelbulan, adalah soal Blok Masela. Ia mengusulkan agar Proyek Blok Masela dikembalikan lagi ke laut (Offshore), dengan alasan ada kemungkinan konflik sosial jika tetap di darat (Onshore). Alasannya hanya karena belum dibayarkannya tanaman warga.
“Ini logika apa? Ada paku di ban motor, lalu kita buang motornya dan beli motor baru? Ada tanaman belum dibayar, lalu kita pindahkan proyek negara yang sudah diputuskan Presiden? Ini bukan solusi, ini ngawur,” kritik Kelbulan.
Menurutnya, usulan itu menunjukkan Alex Belay tidak paham sama sekali peta Blok Masela. Ia tidak paham bahwa keputusan Onshore sudah melalui kajian puluhan tahun, sudah melalui lobi Presiden, dan sudah melalui perhitungan ekonomi negara. Ia tidak paham bahwa Onshore justru yang diperjuangkan rakyat Tanimbar selama puluhan tahun.
“Kalau proyek dipindah ke laut, yang untung siapa? Yang kerja siapa? Orang Tanimbar hanya akan jadi penonton dari pantai. Kapal lewat, gas dibawa pergi, Tanimbar tetap miskin. Apakah itu yang diinginkan Ketua KNPI? Kalau begitu, dia Ketua KNPI untuk siapa?” tegas Kelbulan.
Klaim Pempus Belum Serius: Bukti Buta Data
Asbun kedua Alex Belay adalah soal keseriusan Pemerintah Pusat. Ia menyebut Pemerintah Pusat belum serius soal Blok Masela. Padahal fakta di lapangan berkata sebaliknya. Ground Breaking atau peletakan batu pertama sudah dilaksanakan.
“Bagaimana bisa dibilang belum serius kalau Ground Breaking sudah dilakukan? Apakah Ketua KNPI tidak datang saat Ground Breaking? Atau datang tapi tidak paham apa yang dia lihat?” sindirnya.
Kelbulan menilai, seorang Ketua KNPI seharusnya membaca data sebelum bicara. Kalau ia bilang Pempus belum serius, datanya mana? Berapa anggaran yang sudah cair? Berapa progres yang sudah jalan? Mana kajian yang ia baca?
“Tidak ada. Yang ada hanya bunyi. Ini bahaya. Kalau Ketua KNPI saja tidak paham data, bagaimana pemuda di bawahnya mau paham? Akhirnya Tanimbar akan dipimpin oleh generasi yang pandai bicara tapi buta data,” ujar Kelbulan.
RS Baru di Kota, Dangkal Seperti Katak dalam Tempurung
Asbun ketiga yang paling menyedihkan, kata Kelbulan, adalah soal Rumah Sakit Baru. Saat LSM Altar dan organisasi seperti Bapera bersama masyarakat dalam diskusi grup WhatsApp mengusulkan RS Baru dibangun di pinggiran, di lokasi RS Magretti di Lauran, dengan lima alasan kuat, Alex Belay justru ngotot RS harus di pusat kota.
Alasannya? Sangat dangkal. Hanya seputar “karena kota itu pusat, karena kota itu ramai, karena semua ada di kota.”
“Itu bukan alasan pembangunan. Itu alasan orang yang asal bunyi alias Asbun,” tegas Kelbulan.
Ia pun melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya tidak pernah dipikirkan Alex Belay: Bagaimana nasib ibu melahirkan di Seira yang harus menyeberang laut ke kota? Bagaimana nasib anak demam di Fordata yang harus tunggu speedboat? Berapa miliar uang rakyat yang akan habis hanya untuk beli tanah mahal di kota? 30 tahun lagi kota Saumlaki akan seperti apa?
“Ini cara berpikir katak dalam tempurung. Katak pikir tempurungnya adalah dunia. Ketua KNPI pikir Kota Saumlaki adalah Tanimbar. Padahal Tanimbar itu luas. Tanimbar itu dari Selaru sampai Fordata,” kritik Kelbulan.
Malu Seluruh Pemuda
Bagi Kelbulan, tiga pernyataan ini sudah cukup untuk menilai kualitas kepemimpinan Alex Belay. KNPI Tanimbar hari ini, katanya, bukan kekurangan orang yang bisa bicara.
Tanimbar kekurangan pemimpin yang bisa membaca data, memahami kajian, dan berani membela rakyat pinggiran.
“Ketua KNPI seharusnya menjadi kepala yang memberi arah, bukan mulut yang asal bunyi. Seharusnya menjadi otak yang berpikir 40 tahun ke depan, bukan katak yang hanya melihat tempurungnya,” tutup Kelbulan.
“Kalau terus Asbun begini, yang malu bukan hanya Alex Belay. Yang malu adalah seluruh pemuda Tanimbar yang dipimpin olehnya.”
Hingga berita ini diterbitkan, Ketua KNPI KKT Alex Belay belum memberikan klarifikasi resmi terkait kritik atas pernyataannya soal Blok Masela dan RS Baru tersebut. Redaksi masih membuka ruang hak jawab kepadanya.














Komentar