Ambon, Maluku — Dalam wawancara eksklusif bersama TVRI Maluku pada 30 Mei 2025 kemarin, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menyampaikan sikap tegasnya terhadap paradigma umum mengenai program 100 hari kerja.
Menurutnya, logika 100 hari tidak relevan jika berbicara tentang kinerja pemerintahan yang menyasar perubahan struktural dan pembangunan jangka panjang.
“Ketika kita berbicara tentang kinerja, maka kita sedang berbicara tentang masa kepemimpinan. Oleh karena itu, ketika rekan-rekan media menanyakan tentang target 100 hari kerja, saya katakan bahwa bagi kami, ukuran 100 hari bukanlah sebuah logika yang relevan,” ujar Bodewin dalam wawancara tersebut, yang digelar dalam rangka refleksi 100 hari kepemimpinannya sejak dilantik pada 20 Februari 2025.
Meski tidak menetapkan target khusus, Pemerintah Kota Ambon dalam 100 hari terakhir telah mulai mengimplementasikan 17 program prioritas yang menjadi arah kebijakan lima tahun ke depan.
Menurut Bodewin, langkah-langkah awal ini merupakan bentuk komitmen Pemkot dalam menunaikan janji politik secara bertahap dan sistematis.
Salah satu capaian penting yang disampaikan adalah pembukaan satu titik distribusi air bersih besar yang kini melayani sekitar 400 kepala keluarga.
Bodewin menyebut hal ini sebagai jawaban langsung atas kebutuhan dasar masyarakat yang selama ini menjadi perhatian.
Dalam isu pengelolaan sampah, Pemkot tengah melakukan penguatan kapasitas internal. Proses pengadaan 10 unit truk sampah sedang berjalan, sementara pembangunan beberapa Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sudah mulai dilakukan, baik melalui dana APBD maupun kerja sama dengan pihak swasta.
Penertiban kawasan pasar dan Pantai Merdeka juga telah dilaksanakan demi menciptakan lingkungan kota yang lebih bersih dan tertib.
Pemerintah Kota turut memulai pembersihan trotoar secara masif dan tengah memproses perbaikan belasan ruas jalan yang dijadwalkan untuk diaspal tahun ini.
Sektor ekonomi kreatif menjadi salah satu sorotan utama. Bodewin menyatakan bahwa pihaknya mendorong pengembangan ekonomi berbasis komunitas.
“Anak-anak muda yang bergerak di industri kreatif sudah kami fasilitasi, dan akan dibuat beberapa ruang terbuka publik sebagai percontohan, termasuk penyediaan kontainer sebagai kios penjualan,” ungkapnya.
Digitalisasi layanan publik juga mulai dijalankan, dengan harapan menciptakan sistem layanan yang transparan dan efisien.
Di bidang kesehatan, Pemkot telah menggelar skrining kanker payudara dengan partisipasi lebih dari 1.000 perempuan. Selain itu, 399 paket bantuan telah disalurkan untuk anak-anak penderita stunting melalui kerja sama lintas sektor.
Dalam upaya optimalisasi Pendapatan Asli Daerah, Pemerintah Kota telah memperbarui data Pajak Bumi dan Bangunan serta mengadakan 500 alat pencatat transaksi digital untuk restoran dan hotel.
Sektor pariwisata pun tak luput dari perhatian. Pemkot saat ini merancang pengembangan destinasi wisata berbasis nasional dan ekowisata mangrove, sambil merevitalisasi lokasi wisata lokal seperti Galala dan Tempe.
Reformasi birokrasi juga masuk dalam agenda awal.
“Izin dari Kemendagri sudah kami peroleh, dan kami sedang menunggu persetujuan teknis dari BKN untuk melakukan rotasi jabatan dan membuka seleksi terbuka,” jelas Wali Kota.
Melalui program Ambon Smart City, Pemkot telah mulai menyediakan Wi-Fi gratis di ruang-ruang publik sebagai bagian dari pembangunan kota pintar.
Di sisi sosial, upaya penanggulangan kemiskinan dilanjutkan, termasuk pemberian insentif bagi penjaga rumah ibadah seperti pura dan wihara yang akan disalurkan mulai Juni.
Dalam hal pemberdayaan pemuda, Pemerintah Kota menggandeng komunitas muda di berbagai wilayah—Air Salobar, Amohusu, dan Batu Merah Atas—untuk mendorong UMKM berbasis industri kreatif.
Penguatan lembaga adat juga ditandai dengan pelantikan sejumlah raja negeri, meski masih ada enam jabatan raja yang tengah dalam proses penyelesaian.
Menutup refleksi 100 hari kerjanya, Bodewin Wattimena menegaskan bahwa seluruh langkah ini bukanlah titik akhir, melainkan permulaan dari transformasi yang lebih luas.
“Kalau kita lihat dari segi pelaksanaan, memang belum seluruhnya selesai. Tetapi setidaknya beberapa langkah awal sudah dilakukan. Ini menjadi tanda bahwa Pemerintah Kota mulai bekerja dan berkomitmen untuk memenuhi janji politik melalui program-program tersebut,” tegasnya.
Dengan gaya kepemimpinan yang menolak gimmick seremonial, Bodewin menunjukkan bahwa perubahan yang berarti tidak lahir dari gebrakan sesaat, melainkan dari perencanaan matang dan pelaksanaan yang konsisten.***














Komentar