- Di Teluk Kayeli, ikan-ikan tak lagi berenang bebas. Mereka mengambang, membawa pesan tentang racun dan pengkhianatan.
Oleh: Azis Tunny, Ketua Dewan Pembina BPD HIPMI Maluku
Jakarta,– Gunung Botak di Pulau Buru, Maluku, adalah simbol ironi pembangunan. Gunung yang menjulang sebagai “surga emas” itu justru meracuni tanah lumbung pangan dan menghancurkan masa depan masyarakatnya. Di balik gemerlap butiran logam mulia, tersembunyi bencana ekologis, jaringan mafia, dan pengkhianatan negara terhadap rakyatnya.
Pulau Buru yang dijuluki “lumbung pangan” Maluku, menyimpan paradoks memilukan. Di balik hamparan ribuan hektar sawah dan kebun sagu, demam emas dan aktivitas tambang ilegal sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Tidak ada multiplier effect dan keuntungan apa-apa buat daerah, justru menyisahkam problem sosial dan pencemaran lingkungan yang mengancam masa depan generasi.
Sejak 2011, Gunung Warmoly atau dikenal dengan nama Gunung Botak di Desa Wamsait, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, telah berubah menjadi episentrum kerusakan ekologis yang semakin mengkhawatirkan. Merkuri dan sianida masuk dengan bebas, mengalir seperti darah dalam nadi bisnis gelap tambang ilegal.
B3 atau Bahan Berbahaya dan Beracun ini bukan hanya sudah mencemari sungai dan laut, tetapi menciptakan ekosistem bisnis bagi jaringan suplai merkuri dan sianida yang dilindungi oknum berwenang. Batu cinnabar dari Seram Bagian Barat diolah menjadi merkuri kualitas premium, lalu diselundupkan ke Buru melalui laut, dibeking oleh oknum aparat. Sementara sianida dipasok dari gudang ilegal di Surabaya.
Sebenarnya alam sudah memperingati kita. Air Sungai Anahoni pernah berubah warna menjadi biru tahun 2022 akibat reaksi kimia antara sianida dan ion besi dari limbah tambang. Peneliti Univeritas Pattimura lantas memperingatkan racun ini akan merusak ekosistem Teluk Kayeli.
Prof. Dr. Yustinus Malle dari Universitas Pattimura memegang data mengerikan. Kadar merkuri di sendimen Sungai Patipulu mencapai 16 mg/kg atau 16 kali lipat dari ambang batas aman. Lebih mengerikan lagi, tanah bekas tromol mengandung 22 mg/kg merkuri. Racun ini menyusup ke dalam rantai kehidupan melalui proses biomagnifikasi.
Salah satu proses biomagnifikasi adalah mengubah Teluk Kayeli, muara sungai dari Gunung Botak, menjadi jalur migrasi maut bagi tuna dan cakalang. Ikan-ikan ini membawa racun hingga ke piring makan konsumen global, mengancam ekspor perikanan Indonesia senilai triliunan rupiah.
Secara sederhana, racun merkuri dan sianida masuk ke dalam rantai makanan kita, dimulai dari fitoplankton yang menyerap metilmerkuri dari air yang terpapar atau sudah tercemar. Ikan kecil kemudian memakan fitoplankton yang sudah terkontaminasi itu, selanjutnya dimakan ikan besar sehingga terjadilah akumulasi racun.
Puncak dari rantai makanan ini adalah manusia mengonsumsi ikan yang sudah tercemari limbah merkuri dan sianida. Siapa yang memakan ikan itu, bisa siapa saja termasuk kita, karena perairan depan teluk Kayeli termasuk jalur migrasi ikan-ikan penjelajah seperti tuna dan cakalang.
Merkuri (Hg) dan sianida (CN) adalah neurotoksin yang bila terpapar ke manusia, akan merusak sistem saraf, otak, ginjal, dan paru-paru. Di Pulau Buru, paparan kronis telah terdeteksi melalui rambut warga desa di kaki air (muara sungai) yang mengandung metilmerkuri 5 kali di atas normal. Efeknya mengingatkan kita akan tragedi Minamata, Jepang, tahun 1950-an.
“Kami menemukan kadar metilmerkuri pada rambut warga Desa Kayeli 5 kali di atas normal,” papar Male, wajahnya muram. Ini adalah tanda awal seperti tragedi Minamata di Jepang, di mana ribuan orang menderita kelumpuhan, kebutaan, dan bayi cacat lahir akibat keracunan merkuri.
Prof. Malle mengingatkan, dampak dari terpapar racun merkuri dan sianida ini baru akan terlihat puluhan tahun kemudian. Kerugian jangka panjang ini tidak akan terbayar dengan keuntungan jangka pendek.
Ironinya lagi, omzet harian tambang ilegal di Gunung Botak ini mencapai miliaran rupiah. Tapi alih-alih berputar di ekonomi lokal, uang itu justru mengalir deras ke Makassar. Seorang pimpinan Bank Himbara di Namlea kepada saya sempat mengakui, “Perputaran uang dari Gunung Botak tidak signifikan bagi masyarakat Buru. Rata-rata langsung masuk rekening bank di Makassar. Ini pengakuan teman-teman saya di bank sana,” ungkapnya.
Gunung Botak adalah bukti nyata kegagalan pemerintah dalam tata kelola tambang. Di sini, merkuri dan sianida bukan hanya meracuni sungai dan laut, tetapi juga martabat hukum dan wibawa pemerintah. Ketika teluk tempat ikan bertelur dan migrasi berubah jadi kubangan limbah, dan lumbung pangan jadi ladang racun, maka yang sedang dibunuh bukan hanya ekosistem, melainkan masa depan peradaban Maluku.
Jaringan kriminal di Gunung Botak berdiri di atas empat pilar yakni; penambang yang tak peduli, cukong tak tersentuh hukum, oknum aparat bermuka dua, dan pemerintah yang tidak berani bertindak. Gunung Botak bukan sekadar lokasi tambang. Ia adalah monumen kegagalan negara dalam mengatasi mafia sumber daya alam yang dibekingi anak kandungnya sendiri.
Sejak 2011, siklusnya selalu berputar. Sudah lebih dari 20 kali lokasi tambang ilegal ini ditutup. Ketika tambang ilegal ramai, operasi penertiban digelar, ribuan tenda dibongkar, tapi cukong tak pernah tersentuh. Penambang pergi, lalu kembali lagi seperti rayap di musim hujan.
Buka-tutup tambang akan terus berlangsung, selama kebijakan hanya menutup lubang tambang, tanpa menutup lubang korupsi di tubuh birokrasi. Selama itu pula, emas akan tetap menjadi kutukan, bukan berkah.
Para penyelenggara negara tak bisa terus bersembunyi di balik topeng manis mereka. Sebab di Teluk Kayeli, ikan-ikan mati mengambang, dan di dasar laut itu, bayangan anak cucu kita bernapas dalam air bernama racun. Ikan-ikan yang sudah tercemari bisa jadi akan sampai di meja makan anda dan keluarga. (AT)



































































Discussion about this post