Ambon, Maluku – Berkaca dari dinamika konflik sosial yang beberapa kali mewarnai Maluku, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Maluku mengambil langkah responsif dengan menggandeng pemuda lintas agama dari berbagai organisasi kepemudaan (OKP). Pertemuan ini terfokus pada pembahasan strategi sinergis untuk memperkuat kerukunan dan mencegah potensi konflik agar tidak terulang di masa mendatang.
Ruang dialog berlangsung hangat dan penuh keterbukaan. Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Maluku, Dr. H. Yamin, S.Ag., M.Pd.I., didampingi Kabag TU, M. Rusdyi Latuconsina, sejumlah pejabat eselon III, dan ketua tim duduk saling berdampingan bersama pemuda lintas agama, menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi persaudaraan.
Pertemuan ini menjadi ruang penting untuk mengingatkan kembali bahwa menjaga kedamaian adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau tokoh agama, melainkan juga generasi muda.
Pemuda lintas agama yang terdiri dari pimpinan atau perwakilan Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Maluku, Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Maluku, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Maluku, Gereja Protestan Indonesia (GPI) Maluku, Pimpinan Wilayah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis) Maluku, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maluku, dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Maluku, ini dikoordinator oleh Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Maluku, Ahmad Ilham Sipahutar.
“Kami tidak ingin konflik lama terulang, seperti kejadian kemarin di Hunut yang dipicu oleh pertikaian pelajar. Ini menunjukkan bahwa memang masih ada potensi konflik yang tersembunyi didalam sekat itu,” ungkap Ketua BKPRMI Maluku, Ahmad Ilham Sipahutar dalam pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Lt. II Kanwil Kemenag Maluku, Ambon, Kamis (18/9/2025).
Ia menyampaikan, semua elemen pasti sepakat bahwa akar konflik seringkali berawal dari hal kecil, seperti salah komunikasi, provokasi, hingga penyebaran informasi menyesatkan di media sosial. Karena itu, BKPRMI menekankan pentingnya memperkuat literasi digital, memperbanyak kegiatan lintas komunitas, serta melibatkan pemuda dalam proses membangun mekanisme deteksi dini potensi gesekan.
“Selama ini kami yang terlibat langsung di lapangan untuk penguatan kerukunan umat beragama. Kami minta jangan hanya secara internal dari Kementerian Agama saja yang terlibat, pihak eksternal dari pemuda lintas agama juga penting dilibatkan dalam proses kolaborasi bersama membangun Maluku yang lebih aman dan damai,” jelasnya.
Sementara Ka.Kanwil Kemenag Maluku, H. Yamin menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh setiap kegiatan pemuda lintas iman di Maluku. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi program serta pembinaan berkelanjutan yang melibatkan organisasi kepemudaan (OKP) lintas agama sebagai mitra strategis.
Ia juga menyarankan agar pemuda lintas iman ini dapat membangun sinergis lanjutan bersama pemerintah daerah untuk mengoptimalkan peran dan fungsi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Maluku.
“FKUB adalah rumah besar kita semua. Perannya harus diperkuat dengan partisipasi aktif pemuda lintas iman, tentu dengan dukungan pemerintah daerah. Pemuda hari ini harus berdiri di depan sebagai agen perdamaian,” tegas Kakanwil Kemenag Maluku.
Peran Pemuda dalam Penguatan FKUB
Kakanwil menyebutkan bahwa pemuda memiliki keunggulan strategis, diantaranya semangat, kreativitas, dan akses luas di ruang digital.
Karena itu, keterlibatan mereka dalam FKUB diyakini mampu memberi warna baru dalam program-program kerukunan, seperti menggerakkan literasi kerukunan di sekolah, kampus, dan komunitas lokal. Selain itu, menciptakan narasi damai di media sosial untuk menangkal ujaran kebencian dan hoaks.
“Pemuda adalah jembatan yang mampu mempertemukan perbedaan. Kalau mereka terlibat aktif, FKUB akan lebih adaptif terhadap dinamika zaman,” tambah Kakanwil.
Sinergi dengan Pemerintah Daerah
Kakanwil juga mendorong perlunya peran pemerintah daerah agar membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan pemuda lintas iman. Menurutnya, sinergi ini akan memperkuat kelembagaan FKUB sekaligus memastikan setiap kebijakan kerukunan dapat diterjemahkan dalam gerakan nyata di masyarakat.
“Kerja kerukunan adalah kerja bersama. FKUB tidak bisa berjalan sendiri, ia butuh dukungan pemerintah daerah dan partisipasi pemuda. Jika ini berjalan selaras, potensi konflik bisa ditekan dan Maluku bisa tampil sebagai teladan kerukunan di Indonesia,” ujarnya.
Komitmen Pemuda Lintas Iman
Ajakan Kakanwil mendapat respons positif dari pemuda lintas agama. Mereka menyatakan siap mendukung penuh penguatan FKUB melalui peran aktif dan sinergi program.
“Kami siap menjadi bagian dari FKUB. Bagi kami, kerukunan bukan sekadar jargon, tetapi gerakan nyata yang harus dimulai dari generasi muda,” ungkap Ketua BKPRMI Maluku, Ahmad Ilham Sipahutar menyimpulkan tanggapan dari berbagai pemuda lintas iman ini.***














Komentar