Piru, Maluku— Aktivitas pertambangan rakyat di Gunung Cinabar, Desa Iha, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), menjadi salah satu sumber penghidupan yang turut mendorong perubahan ekonomi bagi sebagian besar masyarakat Negeri Buano. Dari kawasan tambang ini, perputaran ekonomi tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan rumah ibadah dan membuka peluang pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda.
Ketua Umum Forum Pemuda Pulau Buano Maluku (FPPBM), Imbing Tuhuteru, mengungkapkan, salah satu bukti nyata manfaat ekonomi tersebut terlihat dalam pembangunan masjid di Negeri Buano.
Menurutnya, pembangunan rumah ibadah itu ditopang oleh solidaritas masyarakat yang menggantungkan sebagian penghidupannya pada aktivitas pertambangan rakyat di Gunung Cinabar, Desa Iha.
Ia menjelaskan, partisipasi masyarakat tidak sebatas memenuhi kewajiban sumbangan dari setiap kepala keluarga. Masyarakat yang memperoleh rezeki lebih dari aktivitas pertambangan juga secara sukarela memberikan sumbangan tambahan, termasuk material bangunan, demi memperlancar pembangunan masjid.
Semangat gotong royong tersebut menunjukkan bagaimana pendapatan dari aktivitas ekonomi dapat kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan fasilitas keagamaan. Bagi tokoh tokoh masyarakat Buano, kontribusi itu bukan sekedar bantuan material, melainkan juga wujud kepedulian terhadap kebutuhan bersama dan penguatan kehidupan sosial di negeri mereka.
Dari Gunung Cinabar, Tumbuh Harapan bagi Pendidikan dan Kesejahteraan Keluarga
Menurut Imbing, perputaran uang di kawasan pertambangan Cinabar di wilayah Iha dan sekitarnya memberikan manfaat ekonomi bagi banyak keluarga Buano. Penghasilan yang diperoleh sebagian warga membantu mereka memperbaiki kondisi rumah tangga, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membiayai pendidikan anak-anak.
Ia menggambarkan bahwa sebelum hadirnya peluang ekonomi dari pertambangan rakyat, masyarakat Buano yang berjumlah kurang lebih 5.000 kepala keluarga banyak menggantungkan penghidupan pada sumber daya hutan dan laut.
Warga juga dikenal memiliki keterampilan dalam pekerjaan perkayuan dan terbiasa merantau untuk mencari nafkah.
Menurut keterangannya, para pekerja kayu asal Buano menjangkau 11 kabupaten/kota di Provinsi Maluku. Sebagian lainnya bahkan merantau hingga Papua untuk mendapatkan pekerjaan.
Tradisi tersebut mencerminkan upaya masyarakat dalam mencari penghidupan di tengah keterbatasan kesempatan ekonomi di daerah asal.
Kini, aktivitas pertambangan rakyat di Gunung Cinabar menjadi salah satu alternatif sumber pendapatan bagi sebagian warga.
Imbing menilai, perputaran ekonomi di kawasan tersebut turut memberikan ruang bagi keluarga Buano untuk memperbaiki taraf hidup dan merencanakan masa depan anak-anak mereka.
Salah satu perubahan yang disorot adalah meningkatnya kemampuan orang tua membiayai pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk menyekolahkan anak ke luar daerah.
Bagi keluarga, kesempatan menyekolahkan anak ke luar daerah merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Selain biaya pendidikan, orang tua harus mempersiapkan kebutuhan tempat tinggal, transportasi, dan biaya hidup selama anak menempuh pendidikan.
Dalam konteks tersebut, penghasilan dari pertambangan rakyat dinilai sangat membantu sebagian keluarga memperluas pilihan pendidikan bagi anak-anak mereka.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi saat ini, tetapi juga kesempatan bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan kemampuan, dan memasuki dunia kerja yang lebih beragam.
Kisah masyarakat Buano ini memperlihatkan hubungan antara peluang ekonomi, solidaritas sosial, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Sumbangan warga untuk pembangunan masjid menjadi salah satu gambaran bagaimana penghasilan dapat dimanfaatkan bagi kepentingan bersama, sementara dukungan terhadap pendidikan anak menunjukkan orientasi keluarga terhadap masa depan.
Meski demikian, keberlanjutan manfaat pertambangan rakyat tetap perlu berjalan seiring dengan perhatian terhadap keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, dan tata kelola pertambangan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, peluang ekonomi yang tersedia dapat memberikan manfaat lebih luas tanpa mengabaikan keberlangsungan lingkungan dan kepentingan generasi mendatang.
Bagi masyarakat Buano yang selama ini bertumpu pada laut, hutan, dan pekerjaan merantau, Gunung Cinabar menjadi bagian dari cerita tentang ikhtiar memperbaiki kehidupan. Dari penghasilan keluarga hingga gotong royong membangun masjid dan membiayai pendidikan anak, aktivitas ekonomi tersebut memperlihatkan harapan masyarakat untuk membangun masa depan yang lebih baik.***














Komentar