MAKASSAR — Pelestarian budaya lokal dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk dengan mengemas warisan budaya menjadi produk yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Hal inilah yang dilakukan As’ad Fadli melalui Ripuji Lontaratta, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang mengangkat aksara Lontara ke dalam produk fesyen modern.
Berdiri sejak 2019, Ripuji Lontaratta mengembangkan produk fesyen dan kerajinan (craft) berupa tas dan topi dengan memadukan desain kekinian dan motif khas Sulawesi Selatan. Sejumlah produknya, seperti Malebbi Totebag dan Maraja Bucket Hat, menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali identitas budaya lokal kepada masyarakat, khususnya kalangan anak muda.
As’ad mengatakan, usaha tersebut berawal dari keresahannya melihat semakin banyak anak muda di Kota Makassar yang mulai tidak mengenal aksara Lontara. Di sisi lain, ia melihat peluang untuk memperkenalkan kembali warisan budaya tersebut melalui produk yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup generasi muda.
“Kami melihat anak muda sekarang, khususnya di Kota Makassar, sudah mulai tidak mengenal lagi aksara Lontara. Di sisi lain, mereka memiliki minat terhadap tas dan topi yang bisa menunjang fesyen. Karena itu, kami membuat usaha ini dengan tujuan menjaga warisan budaya masyarakat Makassar namun tetap bisa tampil keren,” ujar As’ad.
Dari gagasan tersebut, Ripuji Lontaratta berkembang menjadi usaha yang tidak hanya menawarkan produk fesyen, tetapi juga membawa misi pelestarian budaya. Kini, usaha tersebut telah memiliki lima tenaga kerja dan memasarkan produknya melalui gerai fisik, media sosial, skema business to business (B2B), serta berbagai pameran dan kegiatan.
Jangkauan pasarnya pun tidak lagi terbatas di Makassar. Produk Ripuji Lontaratta telah menjangkau konsumen dari berbagai kota hingga antarpulau, seiring dengan upaya memperluas pemasaran dan meningkatkan kapasitas bisnis.
Dalam perjalanan mengembangkan usaha, As’ad menyadari bahwa kreativitas produk perlu diimbangi kemampuan manajemen yang baik. Pengelolaan legalitas, sumber daya manusia, dan strategi pengembangan usaha menjadi faktor penting agar bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Untuk memperkuat kapasitas tersebut, As’ad memanfaatkan platform linkumkm by BRI setelah pertama kali mengenalnya saat berkunjung ke Rumah BUMN Makassar. Ia tertarik bergabung karena platform tersebut menyediakan berbagai program pelatihan yang dapat membantu pelaku UMKM mengembangkan bisnis.
“Setelah saya bergabung dengan linkumkm by BRI dan mendapat program pelatihan, usaha saya mengalami perkembangan terutama di bagian legalitas dan manajemen sumber daya manusia. Saya mendapat ilmu bagaimana mengatur usaha agar bisa berkembang dan bagaimana mengatur tim supaya lebih produktif,” kata As’ad.
Platform linkumkm by BRI merupakan bagian dari ekosistem pemberdayaan UMKM yang dikembangkan BRI untuk memperluas akses pelaku usaha terhadap peningkatan kapasitas bisnis secara digital. Hingga September 2026, platform tersebut tercatat telah dimanfaatkan oleh 17,6 juta pelaku UMKM.
Bagi Ripuji Lontaratta, pengembangan usaha tidak semata-mata diukur dari penjualan produk. Penggunaan motif aksara Lontara pada setiap produk juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga identitas budaya masyarakat Makassar.
“Dalam setiap produk kami ada sebuah misi untuk melestarikan budaya aksara Lontara yang sudah mulai dilupakan anak muda. Kami bukan hanya menghadirkan tas dan topi untuk menunjang selera fesyen pelanggan, tetapi juga bercerita melalui motif aksara Lontara bahwa inilah identitas kita yang harus kita lestarikan dan banggakan,” ungkap As’ad.
Selain memanfaatkan berbagai kanal pemasaran, Ripuji Lontaratta juga menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) BRI untuk memudahkan transaksi pembayaran pelanggan. Pemanfaatan pembayaran digital tersebut menjadi bagian dari penyesuaian usaha terhadap kebutuhan konsumen yang semakin mengandalkan transaksi nontunai.
Meski terus berkembang, perjalanan bisnis Ripuji Lontaratta tidak lepas dari tantangan. As’ad mengaku pernah menghadapi pembatalan pesanan khusus (custom) secara tiba-tiba hingga persaingan usaha yang dinilainya kurang sehat.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki proses bisnis dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi. Baginya, kemampuan beradaptasi dan terus belajar merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Senior Executive Vice President (SEVP) Micro Business Empowerment BRI, M. Candra Utama, mengatakan pemberdayaan UMKM perlu dilakukan secara menyeluruh. Menurut dia, kebutuhan pelaku usaha tidak hanya berkaitan dengan permodalan, tetapi juga mencakup kemampuan manajemen, legalitas, pemasaran, digitalisasi, hingga membaca peluang pasar.
“BRI melihat bahwa UMKM memiliki potensi besar untuk terus tumbuh apabila mendapatkan ekosistem pendukung yang tepat. linkumkm by BRI menjadi salah satu platform yang kami hadirkan untuk membantu pelaku UMKM belajar, beradaptasi, dan berkembang sesuai kebutuhan usahanya,” pungkas Candra.
Kisah Ripuji Lontaratta menunjukkan bagaimana kreativitas dapat menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan peluang ekonomi. Melalui perpaduan aksara Lontara dengan desain fesyen modern, As’ad berupaya menjaga warisan budaya tetap relevan bagi generasi muda, sekaligus mengembangkan usaha dengan dukungan akses pelatihan dan ekosistem pemberdayaan UMKM.***














Komentar