Ambon, Maluku— Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan (FISK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon kembali menggelar kegiatan Ngopi (Ngobrol Pintar) pada Jumat (24/10/2025).
Forum diskusi ini mengangkat tema “Konsesi Tambang Garnet di Selatan Nusa Ina: Ancaman Perampasan Ruang Hidup & Kriminalisasi Warga.”
Kegiatan ini menjadi ruang dialog akademik yang mempertemukan berbagai pandangan kritis terkait dampak aktivitas pertambangan terhadap masyarakat dan lingkungan di wilayah Nusa Ina, Maluku.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan IAKN Ambon menegaskan bahwa forum diskusi seperti Ngopi tidak hanya dimaksudkan sebagai ruang bertukar gagasan, tetapi juga sebagai wadah untuk melahirkan pemikiran-pemikiran yang bersifat solutif dan rekomendatif.
“Forum seperti ini bukan hanya sekadar ruang diskusi, tetapi juga wadah untuk melahirkan pikiran-pikiran yang dapat menjadi rekomendasi bagi semua pihak yang peduli terhadap keadilan sosial dan kelestarian alam,” ujarnya.
Ia berharap hasil refleksi dan masukan yang muncul dari diskusi tersebut tidak berhenti di meja akademik semata, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam bentuk rekomendasi kebijakan.
“Kami berharap hasil diskusi ini dapat diteruskan dan bahkan disampaikan kepada DPRD sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat dan lingkungan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan Ngopi, Ferry Rangi, mengatakan bahwa tema yang diangkat kali ini merupakan isu yang sangat penting untuk didiskusikan secara terbuka, mengingat dampaknya yang langsung dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak.
Menurutnya, forum Ngopi dirancang sebagai ruang dialog yang mempertemukan perspektif akademik, sosial, dan kemanusiaan dalam melihat persoalan-persoalan publik.
“Ngopi hadir sebagai ruang refleksi bersama untuk membaca realitas sosial yang sedang terjadi. Isu konsesi tambang garnet di Nusa Ina bukan hanya persoalan ekonomi atau investasi, tetapi juga menyangkut ruang hidup masyarakat, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan bagi warga,” kata Ferry.
Ia menambahkan bahwa diskusi ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran publik sekaligus melahirkan gagasan kritis dari kalangan akademisi dan mahasiswa.
“Kami berharap diskusi ini mampu memperkaya perspektif mahasiswa dan masyarakat luas, sekaligus mendorong lahirnya gagasan-gagasan yang konstruktif dalam merespons persoalan tambang dan dampaknya bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui program Ngopi (Ngobrol Pintar), FISK IAKN Ambon terus berupaya menghadirkan ruang dialog publik yang membahas isu-isu strategis di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat peran akademisi dalam memberikan kontribusi pemikiran terhadap persoalan sosial dan lingkungan.***














Komentar