Piru, Maluku– Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi ruang refleksi sekaligus evaluasi bagi dunia pendidikan di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten SBB, Jafar Siddiq, kepada wartawan, Senin (17/8/2026), menyampaikan harapannya agar momentum kemerdekaan tahun ini mampu mendorong perubahan paradigma dan pola pikir seluruh insan pendidikan di Kabupaten SBB.
Menurut Jafar, semangat kemerdekaan tidak hanya dimaknai melalui upacara dan seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk perubahan nyata pada kualitas pendidikan.
Karena itu, dirinya mendorong lahirnya sebuah paradigma baru yang berorientasi pada tiga kedaulatan dalam dunia pendidikan.
Berdaulat dalam Mutu Pendidikan:
Jafar menegaskan, kedaulatan pertama yang harus dibangun adalah kedaulatan dalam mutu pendidikan.
Artinya, seluruh satuan pendidikan di Kabupaten SBB harus memiliki komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan gedung sekolah atau fasilitas pendukung, tetapi juga oleh kualitas guru, kepemimpinan kepala sekolah, kurikulum, proses pembelajaran, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat.
Menurutnya, pendidikan yang bermutu akan melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Karena itu, peningkatan kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan harus menjadi bagian penting dari upaya membangun pendidikan yang lebih baik di SBB.
“Kita harus berdaulat dalam mutu pendidikan. Artinya, kita harus mampu memastikan anak-anak kita mendapatkan pendidikan yang berkualitas, guru terus meningkatkan kompetensinya, dan sekolah menjadi tempat yang benar-benar mampu membentuk generasi masa depan,” ujar Jafar.
Kedaulatan dalam mutu juga berarti setiap sekolah harus memiliki keberanian untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki kekurangan yang masih ada. Dengan demikian, peningkatan mutu tidak berhenti pada program, tetapi menjadi budaya yang terus dilakukan secara berkelanjutan.
Berdaulat dalam Digitalisasi Pendidikan:
Poin kedua yang menjadi perhatian Jafar adalah kedaulatan dalam digitalisasi pendidikan.
Perkembangan teknologi, menurutnya, tidak dapat dihindari dan harus mampu dimanfaatkan untuk memperkuat sistem pendidikan di Kabupaten SBB.
Digitalisasi pendidikan bukan sekadar penggunaan telepon pintar, komputer atau internet dalam proses pembelajaran.
Lebih dari itu, digitalisasi harus mampu membantu guru dan peserta didik memperoleh sumber belajar yang lebih luas, mempercepat akses informasi, meningkatkan kreativitas serta membuat proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
Namun, digitalisasi juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur.
Karena itu, Jafar menilai guru harus diberikan ruang untuk meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Di sisi lain, pemerintah juga perlu terus mendorong pemerataan akses terhadap perangkat dan jaringan internet, terutama bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur.
“Digitalisasi pendidikan harus kita kuasai, bukan kita yang dikuasai oleh teknologi. Teknologi harus menjadi alat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak kita,” jelasnya.
Dengan demikian, kedaulatan digital di bidang pendidikan diharapkan dapat mengurangi kesenjangan akses terhadap informasi dan pengetahuan antara peserta didik di wilayah perkotaan dengan mereka yang berada di wilayah yang lebih terpencil.
Membangun Semangat Gotong Royong Insan Pendidikan;
Poin ketiga yang ditekankan Jafar adalah pentingnya semangat gotong royong di antara seluruh insan pendidikan di Kabupaten SBB.
Menurutnya, membangun pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, peserta didik, pemerintah desa, pemerintah daerah serta seluruh elemen masyarakat.
Semangat gotong royong tersebut harus diwujudkan melalui kerja sama, komunikasi dan kepedulian terhadap persoalan pendidikan di masing-masing wilayah.
Jafar berharap tidak ada lagi sekat yang membuat masing-masing pihak berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, seluruh komponen pendidikan harus memiliki visi yang sama untuk memajukan pendidikan di Kabupaten SBB.
“Semangat gotong royong harus terbangun dengan baik pada setiap insan pendidikan di Kabupaten SBB. Karena pendidikan ini adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Momentum Kemerdekaan untuk Perubahan
Jafar menilai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen tersebut.
Kemerdekaan, kata dia, bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga bagaimana generasi muda diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.
Dalam konteks Kabupaten SBB, pendidikan memiliki peran strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan masa depan.
Karena itu, perubahan paradigma menjadi penting. Setiap insan pendidikan harus memiliki cara pandang bahwa sekolah bukan hanya tempat menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, kreativitas, kemandirian dan kemampuan peserta didik.
Harapan untuk Pendidikan SBB:
Jafar berharap tiga gagasan tersebut dapat menjadi semangat bersama dalam perjalanan pembangunan pendidikan di Kabupaten SBB ke depan.
Kedaulatan mutu, menurutnya, akan memastikan pendidikan semakin berkualitas. Kedaulatan digitalisasi akan membuat dunia pendidikan semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi. Sementara semangat gotong royong akan memperkuat kolaborasi seluruh pihak dalam menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan.
Ketiga hal tersebut diharapkan tidak hanya menjadi slogan dalam momentum HUT Kemerdekaan, tetapi dapat diterjemahkan dalam program dan tindakan nyata di setiap satuan pendidikan.***














Komentar