Piru, Maluku — Ketegangan antara warga Negeri Lisabata dan Negeri Patahue, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, dilaporkan terjadi sejak Jumat sore, 11 September 2026.
Informasi yang diterima menyebutkan, situasi di kedua negeri tersebut hingga Jumat malam masih tegang. Bahkan, terdapat informasi mengenai aksi pembakaran rumah atau kediaman warga dalam rangkaian pertikaian tersebut.
Di tengah situasi yang memanas, DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten SBB meminta seluruh pihak, terutama warga kedua negeri, menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperluas konflik.
Sekretaris DPD KNPI SBB, Penuel M. Supulatu, mengajak masyarakat Kabupaten SBB menjadi bagian dari upaya mendinginkan situasi. Ia meminta masyarakat tidak mudah terpancing dan tidak ikut menyebarkan pernyataan maupun informasi yang berpotensi memperkeruh keadaan.
“Kami meminta seluruh pihak, terutama kedua kelompok masyarakat yang sedang bertikai, untuk menahan diri. Jangan terpancing dan jangan melakukan tindakan yang dapat memperluas persoalan,” ujar Penuel, Jumat malam.
Menurut dia, situasi yang terjadi harus segera dihentikan agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Masyarakat juga diminta mengedepankan pikiran positif dan memberikan penguatan kepada kedua pihak untuk menempuh jalan damai.
Penuel mengatakan, setiap persoalan di tengah masyarakat semestinya dapat diselesaikan melalui komunikasi dan pendekatan kekeluargaan. Ia menduga pertikaian yang terjadi tidak terlepas dari adanya kesalahpahaman yang belum menemukan titik temu.
“Jangan sampai kesalahpahaman yang sebenarnya bisa diselesaikan justru berkembang menjadi konflik terbuka dan kemudian masyarakat sendiri yang menjadi korban,” katanya.
KNPI SBB, kata Penuel, mendesak jajaran Polres SBB segera mengambil langkah tegas dan terukur untuk mengendalikan situasi di Kecamatan Taniwel.
Ia secara khusus meminta Kapolres SBB yang baru memberikan perhatian dan atensi terhadap persoalan tersebut.
“Ini harus menjadi perhatian serius Kapolres SBB yang baru. Kami berharap jajaran kepolisian segera turun ke lapangan, mengamankan situasi, kemudian membuka ruang komunikasi agar kedua pihak bisa didamaikan,” ujarnya.
Menurut Penuel, kehadiran aparat tidak hanya dibutuhkan untuk menjaga keamanan, tetapi juga memastikan konflik tidak meluas ke wilayah lain maupun menyeret masyarakat yang sebelumnya tidak terlibat.
“Kami mendesak seluruh jajaran Polres SBB segera menangani persoalan ini. Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut karena situasi seperti ini sangat mudah berkembang,” katanya.
Selain kepolisian, KNPI SBB juga meminta Pemerintah Kabupaten SBB mengambil langkah aktif untuk memediasi kedua negeri.
Pemerintah daerah, kata Penuel, harus segera hadir dan memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat Lisabata dan Patahue dengan membuka ruang dialog serta mendorong proses perdamaian.
“Pemkab SBB juga harus mengambil bagian. Kedua negeri ini harus segera didudukkan bersama. Cari akar persoalannya, selesaikan secara baik, dan jangan biarkan masyarakat terus berada dalam ketegangan,” kata Penuel.
Ia juga mengimbau tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan seluruh elemen masyarakat SBB untuk ikut menjaga situasi tetap kondusif.
Menurutnya, masyarakat harus menjadi bagian dari solusi dengan tidak menyebarkan provokasi, menghindari komentar yang dapat menyulut emosi, serta tidak memperbesar informasi yang belum terverifikasi.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah orang-orang yang menjadi pendingin. Mari saling menguatkan, jangan saling memprovokasi. Kita ingin kedua masyarakat ini kembali berdamai dan hidup berdampingan,” ujarnya.
Penuel menegaskan, KNPI SBB berpandangan bahwa penyelesaian persoalan harus mengedepankan keselamatan masyarakat dan perdamaian.
“Kita semua adalah bagian dari SBB. Jangan karena persoalan hari ini, hubungan masyarakat yang sudah terbangun lama kemudian rusak. Mari hentikan pertikaian dan buka ruang untuk perdamaian,” katanya.
Hingga berita ini ditulis, perkembangan situasi di lapangan, termasuk informasi mengenai pembakaran rumah warga, masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari pihak berwenang.***














Komentar