Piru, Maluku— Kecelakaan kembali terjadi di Jembatan Darurat Manguru, Desa Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Sebuah mobil Toyota berwarna hitam dilaporkan terperosok ke jurang di sisi jembatan yang konstruksinya hanya menggunakan batang pohon kelapa.
Peristiwa tersebut kembali menyoroti kondisi infrastruktur penghubung antardusun – Negeri/desa induk yang dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Himpunan Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Huamual Barat (HIPPMAHB) mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten SBB segera mengambil langkah konkret untuk membangun jembatan darurat yang lebih aman.
Ketua Umum HIPPMAHB, Sahril Muslih, mengatakan kecelakaan di kawasan tersebut bukan kali pertama terjadi.
Menurut dia, insiden serupa berulang hampir setiap tahun, baik melibatkan pengendara sepeda motor maupun mobil.
“Setiap tahun ada saja kecelakaan di sini. Motor jatuh, mobil terperosok. Kami sudah bosan dengan janji. Kami minta atensi serius dari Dinas PUPR Kabupaten SBB untuk segera mengerjakan jembatan darurat yang layak, sebelum ada korban jiwa,” kata Sahril.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi Jembatan Manguru memprihatinkan.
Sejumlah batang pohon kelapa digunakan sebagai konstruksi utama tanpa dilengkapi pengaman yang memadai. Permukaannya juga licin saat hujan, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengguna jalan.
Padahal, jembatan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan kawasan Dusun Ulatu hingga wilayah 19 dusun dengan pusat pemerintahan Kecamatan Huamual di Desa Luhu maupun Iha.
Jalur ini juga menjadi salah satu akses Belasan Ribu masyarakat 29 Dusun menuju Piru, ibu kota Kabupaten SBB dan ibukota kecamatan di negeri Luhu.
Aktivitas warga sangat bergantung pada jalur tersebut. Selain menunjang mobilitas sehari-hari, jalan dan jembatan itu digunakan untuk mengangkut hasil nelayan dan perkebunan.
Anak-anak sekolah serta warga yang hendak berbelanja ke pasar juga melintasi akses tersebut.
Bagi masyarakat setempat, persoalan Jembatan Manguru bukan semata-mata menyangkut kerusakan infrastruktur, melainkan juga keselamatan, kelancaran aktivitas ekonomi, dan akses terhadap pelayanan publik.
Sahril berharap pemerintah daerah tidak menunda penanganan jembatan tersebut sembari menunggu program pembangunan jangka panjang.
Ia meminta Dinas PUPR SBB segera membangun jembatan darurat dengan konstruksi baja yang lebih kokoh dan aman dilalui kendaraan.
Selain penanganan darurat, HIPPMAHB mendorong agar peningkatan status dan pembangunan jalan di kawasan tersebut diperjuangkan masuk dalam program prioritas Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD) 2027.
Menurut Sahril, langkah tersebut penting agar persoalan aksesibilitas yang selama ini dihadapi masyarakat Huamual dapat ditangani melalui perencanaan pembangunan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Dinas PUPR Kabupaten Seram Bagian Barat mengenai rencana penanganan Jembatan Darurat Manguru.***














Komentar