Ambon, TrendingMaluku – Ketua Dewan Pimpinan Daerah Presidium Pergerakan Pemuda Maluku (DPD PPPM), Muhammad Rain Kaliky, menyoroti secara tajam narasi miring yang menyebut adanya praktik premanisme dalam proses penataan Pasar Mardika.
Ia menyayangkan tuduhan tersebut, yang menurutnya tidak hanya tidak berdasar, tetapi juga berpotensi melemahkan semangat perubahan yang tengah dibangun oleh Pemerintah Provinsi Maluku.
“Anak muda di Maluku hari ini mendambakan tata kelola yang bersih, tertib, dan berpihak pada rakyat. Tapi jika upaya pembenahan yang sedang dilakukan justru dipelintir dengan narasi negatif, maka yang dirugikan bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh masyarakat,” tegas Kaliky, Rabu (23/7/2025).
Menurut Kaliky, Pasar Mardika bukan sekadar pusat transaksi ekonomi, tapi juga ikon dinamika sosial-ekonomi Maluku. Oleh karena itu, proses penataannya harus didukung, bukan dijegal dengan opini liar yang melemahkan semangat kolaborasi.
“Kalau ada oknum di lapangan yang menyimpang, kita dukung aparat hukum untuk menindak. Tapi jangan karena ulah segelintir orang, lalu seluruh institusi pemerintah digiring seolah-olah memelihara preman. Ini bentuk generalisasi yang berbahaya,” ujarnya.
Kaliky menilai, proses perubahan memang tidak pernah mudah. Selalu ada gesekan, apalagi ketika menyentuh zona nyaman banyak pihak. Tapi justru di situlah pentingnya membangun narasi konstruktif dan membuka ruang kolaborasi lintas elemen.
Ia juga memberi apresiasi atas langkah-langkah percepatan yang dilakukan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku, Dr. Achmad Jais Ely, yang dinilai bekerja dengan pendekatan pelayanan publik dan menindaklanjuti arahan Gubernur secara konkret.
“Dalam waktu singkat, Pak Ely menunjukkan kemauan untuk menata ulang dengan pendekatan pelayanan dan ketertiban. Ini harus diapresiasi, bukan dilawan dengan narasi negatif,” tambah Kaliky.
Lebih jauh, ia mendorong agar semua pihak, termasuk organisasi pemuda, ikut ambil bagian sebagai pengawas sosial yang cerdas — tidak sekadar ikut-ikutan menyebar ketidakpuasan tanpa dasar.
“Kritik itu perlu, tapi harus dengan data, logika, dan niat baik. Anak muda hari ini harus jadi bagian dari solusi, bukan hanya penyebar keresahan. Ini waktunya kita bantu pemerintah membangun wajah baru Mardika,” ujarnya tegas.
Menutup pernyataannya, Kaliky mengajak semua elemen – pemerintah, pedagang, masyarakat, hingga aktivis pemuda – untuk meletakkan ego sektoral dan bersatu dalam satu visi: mewujudkan Mardika sebagai pusat ekonomi rakyat yang tertib, aman, dan inklusif.
“Pasar Mardika bukan milik satu instansi. Ini milik rakyat. Kalau kita ingin hasil besar, maka kolaborasi adalah kuncinya. Mari jaga proses ini dari politisasi dan narasi liar yang bisa merusak semuanya,” pungkasnya **”














Komentar