ALGORITMA dan THE END OF AI

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 29 Mei 2025 - 06:24 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

  • “Pandora tak membawa kutukan—ia membawa Elpis: harapan. Dan hari ini, algoritma adalah kuncinya.”

Oleh: Asy’arie Samal

Trending– Dalam sebuah mitology yang dikishkan Hesoid, Penyair Yunani kuno abad ke-8 SM, bahwa Zeus memerintahkan para Dewa untuk menciptakan sosok perempuan bernama Pandora, lalu Zeus menghadiahkan kepada Pandora sebuah Kendi (pithos), dengan catatan untuk tidak dibuka dalam keadaan apapun. Karena penasaran dan tingginya rasa ingin tahu membuatnya tergoda untuk segera membuka kendi tersebut. Tetapi rupanya, sebelum membuka benda itu, di butuhkan sandi yang penuh dengan angka dan logika, lalu datanglah Al khawarizmi untuk dibuatkanlah algoritma sebagai keywords bagi Pandora agar bisa membuka benda misterius itu”.

Banyak yang kemudian memahami seolah terbukanya pithos—kisah yang dipsalahami oleh Erasmus sebagai Kotak—sebagai bagian dari rencana Zeus untuk memberikan hukuman kepada manusia yang terdapat didalam kendi itu seperti penyakit, kematian, bencana, rassa iri, kebencian, perang dan lain sebagainya. Karena yang keluar dan menyebar dari kendi itu adalah penederitaan dan kejahatan membuat Pandora segera menutup pithos tersebut, namun di dasar kendi masih tertinggal sebuah energi yang disebut sebut sebagai Elpis; yang dalam bahasa Yunani adalah personifikasi dari harapan untuk terus bertahan hidup.

Gambaran diatas hanyalah ilustrasi simbolik untuk mendeformasi makna kalau yang diberikan Zeus itu bukanlah suatu hukuman, melainkan rahasia kehidupan yang didalamnya ada Pengetahuan, kebijkasanaan, penderitaan dan lain sebagainya. Lalu Al khawarizmi dengan algoritmnya adalah simbol dari kebijaksanaan bahwa matematika, logika dan ilmu pengetahuan adalah kunci untuk membuka kemisteriusan alam semesta ini yang mungkin tak akan pernah selesai sisi misterinya.

Tak berlebihan jika perkembangan dan kemajuan suatu Negara saat ini tidak terlepas dari punguasaan Teknlogi Informasi, yang jika dikaji maka muncul satu pernyataan menarik bahwa kemajuan tersebut adalah bagian yang tidak terlepas dari fabrikasi algoritmik sebagai basis pembuatan teknology. Hal ini bukanlah pernyataan parsimonik untuk kemudian menafikan hal-hal lain sebagai basis perkembangan dan kemajuan, tetapi disposisi logis bahwasnya berbicara tentang kecerdaasan AI adalah berbicara soal kecerdasan logika yang di matematikakan, dan itulah aljabar sebagai variabel dan algortima sebagai eksekutornya systemnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern terutama dalam bidang Kecerdasan Buatan (AI) semakin hari selalu menunjukan perkembangan yang sangat trasformatif. Hampir disegala ruang lingkup kehidupan tidak luput dari kehadiran AI yang bertindak sebagai asisten bahkan, secara radikal, menggantikan peran manusia. Kehadiran AI memberikan sisi paradoxal tentang manusia dan pengetahunnya dimana kecerdasan dan penemuan yang kita bangun selama berabad-abad telah menunjukan mata pisau dua arah yang bisa membantu, bahkan dapat mengancam dan ‘membunuh’ kita kapan saja.

Algoritma: Sandi Pithos Pandora

Ilutrasi diawal tulisan ini tentang benda yang diberikan Zeus pada Pandora sekedar ilustrasi simbolik untuk merekonstruski Phitos bukan sebagai hukuman pada manusia yang tak sedikit memiliki bias gender, tapi itu adalah persembahan para dewa kepada Pandora—dalam bahasa memiliki arti all Gifted/semua hadiah—berupa energi dan kebebasan kepada manusia untuk mencipta dunianya, dan saya memahami Elpis tidak saja sebagai sebuah harapan, tetapi merupakan value untuk

menghindarkan bumi dari kemiskikan value. Elpis, adalah harapan hidup, kekuatan, sebuah energi untuk mencipta, dan itulah pengetahuan.

Dan karena ilmu pengetahuan, segala ketidakmungkinan dalam peradaban tengah mengkreasikan dirinya menjadi kemungkinan nyata. Lihat saja bagimana perkembangan teknology hari ini. Apa yang ditampilakn dalam film-film sains fiksi di tahun 2000an seperti ex machina, AI love you, Spectral, Intrastelar dan sci-fi lainya tentang bagiamana Robot dan kecerdasan artificial seoalah dan bahkan telah menjadi nyata.

Kecanggihan teknologi hari ini tentunya tidak lahir begitu saja, bahkan mungkin diantara kita yang tidak begitu paham mekasnisme teknlogy punya pertanyaan-pertanyaan hipotetis tentang apa yang menggerakan semua itu, energi apa yang ada dibalik semuanya. Bagaimana mungkin angka atau matematika berupa symbol atau kategori dapat menggerakan robot?, bagiamana bisa angka dapat berubah jadi musik, video, citra, suara dan lain-lain atau lebih tepatnya bagaimana mungkin Hardware bisa diperintahkan oleh software yang hanya terdiri dari symbol dan angka?. Jawabannya mungkin seperti ilustrasi diatas bahwa bahkan untuk membuka Guci dari para Dewa pun harus menggunakan algortima.

Mungkin terkesan berlebihan jika mengatakan Konfrenesi Dartmounth di tahun 1959, sebagai embrio bagi kelahiran AI (istilah yang diciptakan oleh John McCarthy) . Sebab jika ditelusuri, jauh sebelum itu telah ditemukan formula dalam pengembangan kecerdasan buatan. Mungkin ada benar apa yang disampaikan seorang teman kalau Mark Zuckerberg sama sekali tidak bangga dengan capainnya ketika membuat facebook, tapi ia malah mengajarkan kita untuk berterimasih kepada Al Kahwarizmi—bapak algoritma—karena kecerdasan AI tak pernah ada jika tidak ada algortima..

Kata algortima itu sendiri tidak pernah digunakan oleh Al Khawarizmi. Kata itu baru muncul di abad 12 ketika para para sarjana Eropa menerjemahkan karya-karyanya, seperti Robert of Chester yang menerjemahkan Karya Al Khawarizmi tentang sistem angka India dan saat itulah kata algoritma digunakan sebagai bentuk penghormatan pada penemu aljabar itu.

Secara filsofis matematika bukan saja soal angka dan penyelasian masalah, tetapi ia merupakan simbol dari setiap materi yang ada. Tak berlebihan jika Phitagoras mengatakan All is number, dan menurut Ikhwan as-safa memahami ilmu matematika adalah jalan menuju pengetahuan hakiki, oleh sebab itu tak salah jika “Mathematics is the language with which God has wiriten the universe”, atau matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan untuk menulis alam semesta, ujar Galileo.

Algoritma dan The End of Mistery

Ini bukanlah penyederhanaan mempostulatkan matematika, lebih tepatnya aljabar dan algoritma sebagai pemecah misteri alam semesta, sebab dalam sains masih terdapat banyak misteri yang belum bisa terpecahkan, semisal penelitan tentang quantum, dark matter dan dark energy yang mungkin membutuhkan waktu sepanjang usia semesta ini pun belum bisa terpecahkan. Tulisan ini hanyalah sebatas peristiwa hipotetif untuk mengkonstruksikan “bahasa-bahasa kemungkinan” akan perkembangan teknologi dan kecerdasan artificial terlatak dari bagaimana kecerdasan kita dalam membangun sistem algoritmik.

Baca Juga :  Here Are 6 Brands and Designers to Look Out for Next Year

Iya, sistem algoritomik, semacam otak kecil dalam system kompute,r yang bisa memberikan energi atau perintah bagi perangkat keras. Di tahun 1837, Charles Babbage membuat mesin analitik yang dianggap sebagai cikal bakal komputer modern, akan tetapi untuk menjalakan sistemnya ia harus

menunggu dan diperkenalkan dengan seorang perempuan, Ada Lovalace, untuk membuat bahasa pemrograman untuk menjalakan system mesin analaitk itu.

Pertemuan Babbage dan lovalace merupakan peristiwa penting bagi perkembangan komputer modern atau dengan kata lain merupakan awal perkenalan antara algortima dengan dengan perangkat keras sebagai suatu kesatuan sistem. Apa yang dilakukan Babbage dan Lovalace tersebut menjadi inspirasi bagi Alan Turing (Bapak AI) dalam mengembangkan Konsep Mesin Turing. Dan dari pertemuan tersbut membuat Lovalace sebagai Orang pertama pembuat bahasa Pemrograman komputer.

Di tahun 1950, dalam tulisannya berjudul Computing Machinery and Intelgence, Turing bertanya apakah mesin bisa berfikir?, lalu serangkaian test ia lakukan untuk menguji apakah memang mesin bisa berifikir, dan dari situlah kita mengenal Turing test. Dalam pengujian itu ketepatan dalam memfabrikasi algoritma sangat berpengaruh pada kecerdasan mesin, sebab kendalinya dijalankan oleh algoritma.

Jika sebelumnya ditangan Babbage dan Lovalace, kita menganggap bahwa mesin tidak bisa menciptakan ide baru selain hanya bisa melakukan apa yang kita tahu cara memerintahkannya seperti kata Lovalace, tapi ditangan Turing, ia membuat selangkah lebih maju bahwa mesin kemugkinan bisa berfikir sendiri layaknya manusia. Dan tidak lebih dari 6 tahun tepatnya 1956, John McCarthy dkk menggagas konfrensi Dartmounth, medeklarasikan AI sebagai rekayasa sains dalam membuat mesin cerdas.

Perkembangan demi perkembangan AI yang semakin transformatif seolah menunjukan hampir tidak ada lagi ruang yang bisa diselsaikan oleh mesin kecerdasan, hal tersebut memperlihatkan bagiamana peran penting dari algoritma yang boleh dikata sebagai roh dari AI. Apapun yang ingin anda lakukan untuk memudahkan perkerjaan anda maka buatkan algortimanya dan semua bisa di lakukan.

Fase Perkembangan AI

Ada sebuah slogan menarik yang di buat perusahan Ava Robotics, yang berbasis di Cambridge, Massachusetts, “stop Hirring Humans, Hire ava, the BDR Artisan” yang jika dalam bahasa Indonesia berarti berhetilah menyerahkan semua kerja ke manusia, dan serahkan semua ke AI. Slogan tersebut bukan tanpa alasan, lihat saja bagimana AI hari ini?.

Slogan diatas menandakan optimisme yang boleh dikata cukup berlebihan, tapi hal tersebut juga cukup beralasan. Lihat saja negara-negara maju seperti China, Arab atau Amerika dan beberapa negara lain seperti India, tak segan untuk mengeluarkan anggaran besar-besaran bagi pengembangan teknologinya, dengan dalih kemajuan suatu negara adalah terletak pada penguasaan teknology. Dan lihatlah China dengan segala kecanggihan teknologinya telah menyulap Negara Tirai Bambu itu menjadi layaknya wahana Disneyland yang penuh dunia imajinatif.

Memang kalau dilihat, AI tengah berevolusi ke arah yang transformatif yang luar bisa. Evolusi disini tidak dimaknai secara secara biologis, melainkan sebagai suatu konstruksi hipotetis dari perkembangan sains dan ilmu pengetahuan yang selalu dengan kebaharuannya.

Evolusi AI mungkin pada awalannya masih sebatas perception, yakni jenis kecerdasan AI yang dirancang untuk memahami data seperti computer vision yang memproses gambar, video lalu memahami isinya, atau seperti Siri, Alexa dan lain-lain. Fase selanjutnya adalah Generatif AI, jenis kecerdasan buatan yang mampu menciptakan sesuatu yang baru berdasarkan data yang telah dipelajarinya, seperti chat GPT, Gemini, Sora (Open AI) dan lain-lain.

Kemudian ada fase selanjutnya adalah Agentic AI yang bertindak dan berfikir sendiri sebagai agen, atau sejenis robot yang merancang dan mencapai tujuan sendiri seperti AutoGPT, BabyAGI maupun robot Nasa, dan yang terkahir adalah physical AI, yang sudah memiliki fisik seperti robot di perusahaan-perusahaan atau di ranah domestik yang bekerja sama dengan masnusia dalam menciptkan sebuah prodak atau lainnya.

Jika melihat fase perkembangan AI diatas, maka tak berelebihan jika dikatakan kalau misteri untuk menciptakan kecerdasan buatan telah selesai. Kini kecerdasan itu tidak saja terletak pada bagaimana menciptakan robot cerdas yang bisa melakukan sesuatu secara mandiri, membaca data, menganalisa lalu melakukan hal baru, bahkan kini dan semenatara di kembangkan adalah bagaimana manusia bisa terhubung langsung dengan dengan mahklu-mahkluk cerdas buatan itu.

Lihat saja beberapa bulan lalu ada sebuah konent di sebuah flatform media sosial yang kemudian diliput oleh salah satu stasiun tv swasta tentang seorang warga Amerika, Jerome Dewald, pada 25 Maret 2025 penggugat kasus ketenagakerjaan di new york yang mengagetkan hakim setempat karena menggunkan AI sebagai pengacaranya. Nampaknya hal seperti ini bukanlah barang baru di Amerika, di Tahun 2015 sebelumnya ada perusahaan yang mengklaim sebagai robot pengacara pertama di dunia yang kemudian di denda 193.000 USD oleh Komisi perdagangan Federal (FTC) karena klaim menyesatkan kemampuannya menggantikan pengacara manusia.

Baca Juga :  Ketika Sagu Menjadi Jalan Pembangunan Seram Bagian Timur

Di bidang kesehatan, kehadiran AI seolah memutuskan jarak spasial bagi tenaga dokter untuk melukan tindakan opersai jarak jauh. Bagaimana bisa? Bukankah operasi bedah harus dilakukan dengan tingkat ketelitan yang tinggi. Bukankah selama ini yang sering kita lihat ketika dokter malakukan Operasi mesti di ruangan tertutup penuh senyap?.

Jawabnnya tentu iya, namun yang terjadi di China beberapa bulan lalu dimana AI bertindak sebagai asisten dokter dalam melakukan operasi jarak jauh. Pada 28 februari 2025 tim Rumah Sakit Mata dan THT, Fudan University di Sanghai berhasil melakukan operasi jarak jauh pertama di dunia pada pasien tumor glotis. Seperti diberitakan operasi tersebut menggunkan sistem robotik transoral yang didukung AI.

Pada juni 2024, Rumah Sakit Umum Tentara Pembebasan Rakyat China yang dipimpin oleh Profesor Zhang Xu yang saat itu berada di Italy pada pasien di Beijing, China. Kabarnya operasi tersebut adalah konsol bedah yang terhubung melalui jaringan 5G dan serat optik dan video real time. Dan sebelumnya pada 13 July 2024, Profesor Luo Qingquan memimpin operasi pengangkatan tomur paru- paru pada pasien di Kasgar dengan jarak lebih dari 5000 KM dengan memanfaatkan robot bedah yang menggunakan jaringan 5G.

Keberhasilan dalam melakukan operasi jarak jauh yang difasilatasi dengan kecanggihan teknologi dan AI tersebut membuka kemungkinan babak baru dalam dunia medis lintas benua dimana ketersediaan tenaga dokter tidak saja dimiliki oleh rumah sakit tertentu tetapi dengan kecanggihan teknology mereka bisa saja meberikan pengalaman bahkan dipelosok tertentu yang tentunya difasiitasi dengan kecanggihan teknology.

Sementara itu di bidang pendidikan juga mengalami hal serupa dimana peran guru bisa digantikan dengan robot-robot cerdas yang pastinya dibekali dengan kontekstualitas data yang mumpuni. Kemudian bidang manufaktur dan ketenaga kerjaan semuanya difaslitasi dengan robot cerdas yang bisa bekerja sama dengan manusia.

Kini apapun yang ingin anda lakukan—mislanya dengan system open source—tinggal buatkan promternya maka akan mejadi apapun yang anda inginkan. Bayangkan bagaimana AI sudah bisa membuat puisi, musik video untuk anda yang menurut sebagian besar kalangan merupakan awal dari matinya cita rasa manusia untuk berdaya cipta dalam gempuran AI, sebuah paradox yang tak terhindarkan.

Era Algoritma

“Ketertinggalan dunia modern karena terlalu cepat menerima perubahan”, ujar Sartre dalam novel biografisnya, Kata-kata. Apa yang disampaikan Sartre merupakan kekhawatiran yang sama persis dengan Goeffrey Hinton, tentang bagaimana perkembangan AI terlalu cepat dengan segala kecanggihannya yang memungkinkan mesin bisa belajar sendiri. Jika kekhawatiran sartre lebih ikhtiar pada future shock, sementara ikhtiar Hinton tertuju pada ancaman AI yang bisa mengancam masa depan manusia, dan itu membuatnya undur diri dari Google diawal 2023 lalu. Hal sama juga dipikirkan Elon Musk bahwa AI telah menggantikan Nuklir sebagai ancaman masa depan bagi kita.

Munculnya berbagai respon dan kekhawatiran pada AI merupakan pesimisme yang bisa mengancam manusia sekaligus, dan tanpa sadar, juga merupakan bentuk optimisme untuk mengakui bahwa tidak ada lagi yang mustahil yang bisa dilakukan ketika mesin sudah bisa, bahkan lebih cerdas dalam melakukan perkejaan apapun. Dan replikasi apapun itu bisa kita buat jika ada fabrikasi algortimanya.

Jauh sebelum Zukerberg menyampaikan kegelisahannya tentang akhir dari media sosial seperti facebook dan Instagram, dan telah tergantikan dengan apa yang dia sebut sebagai Era algotima adalah fase dimana manusia dalam genggaman teknology tidak lagi berkomunikasi dengan manusia tetapi citra-citra yang kita temui entah itu di flatform medos adalah kesan listrik dan energi yang difabrikasi oleh algoritma, bahkn ketika sampai pada fase Physical AI, dimana AI sudah punya fisik sendiri seperti mansuia.

Kekhawatiran untuk segera dibuatkan regulasi AI adalah alasan kuat untuk mengatkan bahwa tidak ada lagi yang mustahil yang bisa menyebabkan manusia terpinggirkan dengan ciptaaanya. Fenomena digital sexual yang sementara berlangsung tentang bagiamana robot menjadi objek seksuasi manusia—bahkan ada yang menikah dengan robot—tidak harus dilihat sebagai gejala patologis miss seksuasi, melainkan betapa cerdasnya robot yang bahkan bisa menginfiltrasi kesadaran manusia.

Tentunya perkembangan dan kemajuan di bidang teknologi dan informasi adalah keniscaayaan. Segala yang kita lakukan baik itu dalam riset maupun pembelajaran adalah mencari formula yang praktis dalam pemecahan masalah, dan Algoritma adalah langkah praktis dan efisein untuk menyelesaikan masalah. Pertanyaannya, bagaimana jika semua hal yang berkaitan dengan hajat hidup manusia diambil alih oleh Algortima?.

Sepertinya dan memang Kecerdasan manusia adalah boomerang bagi dirinya sendiri, tetapi dibalik semua itu, secerdas apapun AI, yang bahkan dibekali dengan kecanggihan Neural Network, sampai kapanpun tidak akan pernah bisa sesempurna manusia. Namun ada bias yang menjadi perhatian kita semua yang bukan saja tentang masa depan manusia dari sisi pekerjaan yang diambil alih oleh AI, tetapi dampak sosiopsikologis dari gempuran AI yang menyuguhi tampilan dilayar kaca tangah mengobarak-abrik naturalitas manusia dengan simulasi-simulasi algoritmik yang tak sedikit berdampak pada mental dan persepsi kita untuk melihat dunia.

Olehnya itu, optimisme itu harus tetap ada, dimana terbukanya Phitos Pandora adalah skenario para Dewa kepada manusia untuk bebas berdaya cipta. Tugas kita mungkin yang mendesak saat ini adalah

membuat lagi formula baru untuk membuka Phitos Pandora itu, agar bisa mengelurakan Elpis dari keterkurungannya, lalu menjadikannya sebagi value, cinta dan kebijaksaan untuk selalu dilekatkan pada setiap bit informasi atau rangkaian algortima kehidupan yang lebih luas.***

 

 

 

 

 

 

 

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

69 Tahun Masohi: Merawat Semangat Gotong Royong, Meneguhkan Arah Pembangunan Maluku Tengah
Suara Perempuan, Semangat Perjuangan, dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Penerus
Merkuri Seram Terbaik di Dunia
Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?
Membaca ‘Etika’ Politik RBS; Relasi Politik dan Loyalitas Tanpa Kompromi
Hilirisasi Kelapa dan Pala: Jalan Kesejahteraan dan Masa Depan Generasi Muda Maluku Tengah
Gubernur Hendrik Lewerissa Dibiarkan Hadapi Badai Opini Sendirian, Mesin Birokrasi Pemprov Dimatikan
BUMD di Maluku Sedang Sakit

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 05:51 WIT

69 Tahun Masohi: Merawat Semangat Gotong Royong, Meneguhkan Arah Pembangunan Maluku Tengah

Rabu, 28 Oktober 2026 - 02:09 WIT

Suara Perempuan, Semangat Perjuangan, dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Penerus

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:32 WIT

Merkuri Seram Terbaik di Dunia

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:13 WIT

Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 04:02 WIT

Membaca ‘Etika’ Politik RBS; Relasi Politik dan Loyalitas Tanpa Kompromi

Berita Terbaru

Trend Maluku

Bupati SBT Teken MoU Investasi Sagu di Forum Bisnis Sagu

Kamis, 5 Nov 2026 - 04:58 WIT