Ambon, Maluku– Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Maluku secara tegas menolak rencana pemindahan aktivitas Pelabuhan Yosudarso Ambon ke Waisarisa. Mereka menilai wacana pemindahan tersebut tidak rasional dan justru kontraproduktif terhadap kepentingan ekonomi rakyat Maluku.
Wakil Ketua KNPI Maluku, Sadam Bugis, Senin (30/06) menyatakan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan perpindahan pelabuhan, tetapi pembenahan total dan peningkatan fasilitas Pelabuhan Yosudarso.
Ia menyebut pelabuhan tersebut masih minim dukungan infrastruktur untuk menopang ekspor komoditas unggulan daerah.
“Pelabuhan Yosudarso hanya melayani arus barang masuk dari luar. Untuk barang keluar, kita harus menunggu musim panen atau kontainer kosong. Ini jelas menunjukkan kegagalan pemerintah dalam membangun sistem logistik yang layak,” tegas Sadam.
Ia juga mengungkapkan hasil penelusuran KNPI yang menunjukkan bahwa ekspor dari Yosudarso masih terbatas pada besi tua dan hasil musiman seperti cengkeh dan pala, tanpa ada upaya serius melakukan diversifikasi komoditas ekspor.
Tolak Kebijakan Asal Jadi, KNPI Usul Solusi Konkret
KNPI Maluku menilai pemerintah cenderung menggulirkan kebijakan tambal sulam tanpa kajian matang. Karena itu, mereka mengusulkan solusi yang lebih realistis dan berdampak langsung: penguatan fasilitas perikanan di Yosudarso.
“Hentikan proyek-proyek yang tidak jelas orientasinya. Kami desak pembangunan cold storage berkapasitas besar di Yosudarso agar Maluku benar-benar menjadi pusat industri perikanan nasional, bukan sekadar jargon politik,” ujar Sadam.
Menurutnya, pembangunan akses jalan di pesisir Ambon yang saat ini digarap Balai Jalan Nasional adalah langkah strategis yang harus dikawal bersama, karena akan meningkatkan konektivitas dan mendukung distribusi hasil perikanan.
KNPI: Gubernur Harus Serius Jemput Proyek Strategis Nasional
KNPI juga mewanti-wanti Gubernur Maluku agar tidak kehilangan momentum dalam menjemput Proyek Strategis Nasional (PSN), terutama yang mencakup pengembangan Pelabuhan Ambon Terpadu.
“Kalau Gubernur serius, maka PSN ini bisa jadi game changer. Jangan sampai peluang besar ini terbuang karena ketidaksiapan dan mental proyek sesaat. Saatnya Maluku benar-benar bangkit, bukan sekadar bangga dengan slogan ‘Maluku Pung Bae’,” tutup Sadam.***














Komentar