Jakarta, TrendingMaluku – Dalam lanskap pangan nasional yang makin terstandar oleh beras dan tepung, Bupati Seram Bagian Timur (SBT), Fachri Husni Alkatiri, membawa pesan berbeda. Sagu, bagi Fachri, bukan sekadar bahan pangan tradisional. Ia adalah warisan, identitas, sekaligus masa depan ekonomi Maluku.
Informasi yang himpun trendingmaluku.com, Kamis (07/08) menyebutkan, kunjungannya ke redaksi Kompas.com, Rabu (6/8/2025), Fachri berbicara dengan penuh semangat soal potensi besar yang dimiliki sagu.
“Bicara Maluku, pasti kenal sagu,” ujarnya. Di masa kecilnya, sagu adalah makanan utama di rumah.
Kini, keberadaannya makin terpinggirkan oleh beras, yang lebih mudah diakses dan didistribusikan. Namun, ia yakin, saatnya sagu kembali ke panggung utama.
SBT, Poros Sagu Nasional
Angka-angka yang dibawa Fachri mempertegas optimisme itu. Dari total 6,5 juta hektare lahan sagu di dunia, Indonesia memiliki sekitar 5,5 juta hektare. Yang mengejutkan, lebih dari 5 juta hektare di antaranya berada di Maluku dan Papua. Kabupaten SBT sendiri menyumbang 35 ribu hektare lahan sagu aktif, dengan kapasitas produksi mencapai 14 ribu ton—jauh mengungguli kabupaten lain di kawasan tersebut yang rata-rata hanya mencatatkan produksi ratusan ton.
“Ini menjadikan Kabupaten SBT sebagai pusat utama sagu di Maluku,” tegas Fachri.
Tak berhenti pada produksi, Pemkab SBT juga tengah menyiapkan langkah konkret untuk menjadikan sagu sebagai brand unggulan daerah. Fachri menargetkan pengembangan kawasan industri sagu, sekaligus membuka pintu lebar bagi masuknya investor. Ia menjamin, perizinan akan difasilitasi secara transparan dan sesuai regulasi.
“Kami butuh kolaborasi sektor swasta. Fiskal kami terbatas, infrastruktur belum merata, tapi dengan kemauan dan kemudahan investasi, kami bisa mengubah tantangan menjadi peluang,” katanya.
Ekosistem Baru: Dari Hutan ke Kebun Sagu
Salah satu terobosan yang sedang dirancang Pemkab adalah transformasi hutan sagu menjadi kebun sagu. Dengan penataan jarak tanam yang lebih baik, produktivitas diharapkan meningkat. Selain itu, sistem tumpangsari akan diterapkan—tanaman palawija di sela-sela sagu dan saluran air untuk memudahkan distribusi hasil panen.
Tak hanya itu, limbah sagu pun diberdayakan. Selain sebagai pakan ternak, juga dimanfaatkan sebagai bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), meski saat ini wilayah tersebut masih mengandalkan energi ramah lingkungan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Nilai Tambah dan Arah Ekspor
Fachri juga menegaskan arah kebijakan ekspor sagu SBT. Ia menolak menjual sagu dalam bentuk mentah. Fokusnya adalah ekspor olahan, agar nilai tambah tetap berada di daerah. Sasaran ekspor antara lain negara-negara Asia, termasuk Tiongkok.
“Sagu itu bukan cuma makanan. Bisa jadi bahan kosmetik, punya khasiat kesehatan, dan bahkan bisa membantu menurunkan berat badan. Kalau mau sehat dan panjang umur, beralihlah ke sagu,” ucap Fachri.
Selain sagu, SBT juga memiliki potensi besar lain seperti kelapa, cengkeh, pala, dan hasil laut. Kawasan industri seluas 250 hektare telah dipersiapkan di Desa Bula Air, Kecamatan Bula, termasuk rencana pembebasan lahan tambahan di dekat pantai untuk pengembangan fasilitas pendukung.
Dengan semangat membangun dari akar budaya, Fachri ingin menjadikan sagu bukan hanya masa lalu yang dikenang, tapi juga masa depan yang dibanggakan. “Sagu adalah kita,” pungkasnya. ***














Komentar