Ambon, Maluku— Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pelabuhan dan dentuman ombak di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, suara-suara kecil yang lama terabaikan kembali menggema. Sekelompok pemuda dari DPW Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Maluku bersama para pedagang asongan menggelar aksi damai di depan Kantor Pelni Cabang Ambon, Kamis (07/08).
Mereka menyerukan tiga tuntutan utama sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat kecil.
Dengan membentangkan spanduk dan meneriakkan aspirasi, mereka menyampaikan pesan yang jelas: selamatkan ruang hidup pedagang asongan yang menggantungkan hidup dari aktivitas berjualan di atas kapal. Aksi ini dikoordinatori oleh Salim Rumakefing dan mendapat pengawalan dari Satpol PP serta aparat kepolisian.
“Izinkan kami berjualan di atas kapal,” teriak para pedagang yang kini menghadapi ancaman hilangnya mata pencaharian akibat larangan yang diterapkan oleh pihak Pelni dan Pelindo KSOP Pelabuhan Yos Sudarso.
Dalam orasinya, Theny Rumakefing, orator utama, menyuarakan bahwa negara tidak boleh menutup mata terhadap rakyat kecil yang menggantungkan hidup dari keringat sendiri.
“Jika pelabuhan adalah gerbang ekonomi, maka pedagang asongan adalah denyut nadinya!” tegas Theny.
Sementara itu, Thoriq Kapailu, selaku koordinator lapangan lainnya, menegaskan bahwa aksi ini bukan bentuk perlawanan, melainkan panggilan akan keadilan.
“Jangan biarkan pedagang asongan menjadi korban diam dari sistem yang abai,” ujarnya lantang.
Tiga Tuntutan Utama yang Disuarakan:
- Izinkan pedagang berjualan kembali di atas kapal – bukan sekadar permintaan, tetapi jeritan untuk bertahan hidup.
- Panggil dan evaluasi Kepala Pelni, Pelindo, serta KSOP Yos Sudarso – sebagai bentuk desakan agar ada ruang dialog antara pemerintah dan rakyat.
- Selamatkan pedagang asongan Pelabuhan Yos Sudarso Ambon – karena dari pelabuhan inilah mereka menghidupi keluarga.
Massa aksi juga mendesak Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, untuk turun tangan dan segera mengambil langkah tegas terhadap kebijakan sepihak yang dinilai menindas para pedagang kecil.
Aksi solidaritas ini tidak berhenti di Kantor Pelni. Massa juga menyampaikan aspirasi langsung di depan Kantor Gubernur Maluku, sebagai simbol bahwa perjuangan mereka menyasar akar kekuasaan yang punya wewenang mengambil keputusan.***














Komentar