Piru, Maluku– Aroma permainan kotor dalam proyek pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) kembali menyeruak. Sosok La Bastian, yang kini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP), diduga menjadi aktor sentral dalam praktik manipulasi tender proyek bernilai miliaran rupiah.
Nama La Bastian bukan kali pertama terseret kontroversi. Tahun 2020, ia sempat dikaitkan dengan kasus kapal cepat pada era kepemimpinan almarhum Bupati M. Yasin Payapo, yang juga menyeret mantan Kadis Perhubungan Peking Caling.
Meski tak pernah benar-benar diproses hukum, jejak kasus itu sempat membuatnya dimutasi ke Dinas Perumahan. Namun, hanya berselang beberapa waktu setelah Ir. Asri Arman, dilantik sebagai Bupati SBB, La Bastian justru kembali naik daun—diangkat menjadi Kepala LPSE.
Dugaan praktik kotor makin mencuat ketika La Bastian diduga kuat memberhentikan dua anggota Kelompok Kerja (Pokja), masing-masing berinisial OS dan PN.
Keduanya diketahui menolak arahan untuk memenangkan tender bagi perusahaan yang dikabarkan terkait dengan keluarga Bupati.
“Dua orang Pokja itu bekerja sesuai aturan, tapi karena tidak mau tunduk pada arahan La Bastian, mereka digantikan,” ujar seorang ASN yang meminta namanya dirahasiakan.
“Dia gunakan jabatan sebagai alat untuk mengatur semua kehendak, termasuk memastikan siapa yang harus menang dalam proyek lelang.”
Skema dugaan manipulasi tender ini diduga melibatkan kolaborasi langsung antara Bupati Asri Arman dan La Bastian.
Sejumlah sumber menyebut, setiap proyek strategis yang seharusnya dilelang terbuka di LPSE, diarahkan untuk dimenangkan oleh perusahaan tertentu.
Praktik ini diperkirakan sudah berlangsung sistematis dengan pola intervensi administrasi tender dari level awal.
Yanto Lemosol, tokoh muda SBB, mendesak aparat penegak hukum untuk tidak tinggal diam.
“Polres maupun kejaksaan harus segera turun tangan. Jangan biarkan birokrasi jadi ajang permainan segelintir orang. La Bastian ini bukan hanya pandai memanipulasi, tapi juga licin dalam menghilangkan jejak bukti,” tegasnya.
Lemosol menantang, akan berani Polres membongkar dugaan praktik makelar proyek yang melibatkan lingkaran dalam kekuasaan, atau justru membiarkan kasus ini menguap seperti isu-isu sebelumnya.***





































































Discussion about this post