Namlea, Maluku– Salah satu pulau terbesar di Kepulauan Maluku, menyimpan jejak penting dalam sejarah Indonesia sekaligus menyimpan kekayaan alam dan budaya yang belum sepenuhnya dikenal. Berangkat dari semangat untuk menggali sekaligus merawat potensi tersebut, Wanadri bersama Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Mahatva (Mapala Pertanian Unpad) menginisiasi program Buru Expedition: Rediscover Buru.
Ekspedisi ini bertujuan memperkenalkan kembali Pulau Buru melalui kegiatan eksplorasi, penelitian, dan konservasi yang menekankan keberlanjutan, sekaligus menghindari pola eksploitasi jangka pendek.
Rangkaian kegiatan resmi dilepas pada Rabu (17/9) di Aula Kantor Bupati Buru, Namlea, dan dihadiri jajaran pemerintah daerah, TNI, Basarnas, serta berbagai unsur masyarakat.
Acara pelepasan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIT tersebut dibuka dengan penampilan Tari Adat Sawat Buru sebagai simbol penghormatan terhadap budaya lokal.
Sejak April 2025, tim ekspedisi telah melakukan sejumlah aktivitas penelitian dan penjelajahan, di antaranya pendakian tebing Kaku Mahu setinggi 700 meter yang belum pernah terjamah sekaligus pendataan flora di kawasan curam, serta penelitian flora Gunung Kapalatmada dengan fokus mengidentifikasi tumbuhan yang mampu bertahan menghadapi perubahan iklim.
Hasil penelitian ini diharapkan melahirkan karya ilmiah, buku populer mengenai biodiversitas Pulau Buru, risalah kebijakan konservasi, bahkan penemuan spesies baru.
Selain aspek alam, tim juga mendalami kehidupan sosial budaya masyarakat Buru, menggali potensi kearifan lokal yang bisa dikembangkan sebagai ekowisata.
Jalur pesisir pun dijelajahi melalui sirkumnavigasi menggunakan kayak laut, mencatat potensi bahari sekaligus mempertegas identitas Buru sebagai bagian dari bangsa maritim.
Upaya konservasi pesisir turut dilakukan lewat penanaman mangrove bersama West Java Conservation Trust Fund (WJCTF) dan komunitas lokal, serta pelatihan selam bersertifikat bagi masyarakat agar mampu merawat terumbu karang dan mendukung pengembangan wisata bahari.
Dimensi kemanusiaan juga menjadi bagian penting dari ekspedisi ini. Wanadri bekerja sama dengan PERDAMI, Basarnas, TNI, Kodam Pattimura, serta Dinas Kesehatan Maluku dan Buru untuk menghadirkan program kesehatan masyarakat.
Kegiatan yang dilaksanakan mencakup pemeriksaan kesehatan, operasi katarak, pembagian kacamata baca gratis, hingga penyediaan sarana air bersih untuk warga.
Wakil Ketua Umum Buru Expedition, Darmanto, menegaskan bahwa ekspedisi ini bukan sekadar penjelajahan, melainkan upaya kolaboratif untuk merawat potensi Buru.
“Kami berharap kegiatan ini dapat melahirkan strategi konservasi yang nyata sekaligus membuka jalan bagi pengembangan ekowisata, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Buru,” ujarnya.
Dengan rangkaian kegiatan yang menyentuh aspek lingkungan, budaya, dan sosial, Buru Expedition diharapkan mampu memperkenalkan Pulau Buru ke tingkat nasional maupun internasional sebagai destinasi riset, konservasi, dan pariwisata berkelanjutan.***














Komentar