Diksi “Menipu” dan Kejujuran Radikal

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 7 April 2026 - 10:50 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ambon, Maluku– Pernyataan Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath dalam forum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia di Hotel Pasifik memang mengundang perhatian luas. Ungkapan “menipu rakyat” yang disampaikan secara terbuka tentu bukan diksi yang ringan, apalagi datang dari seorang pejabat publik.

Namun, di tengah riuhnya reaksi, penting bagi kita untuk membaca pernyataan tersebut dengan kerangka berpikir yang jernih, bukan emosional.

Dalam perspektif komunikasi publik, apa yang disampaikan Wakil Gubernur sesungguhnya, saya sebut sebagai bentuk kejujuran radikal. Sebuah upaya mengakui keterbatasan pemerintah di tengah ekspektasi yang tinggi.

Ini bukan sebatas pilihan kata, tetapi tentang keberanian membuka realitas yang sering kali disembunyikan dalam narasi formal pemerintahan.

Kita perlu membedakan antara pengakuan atas kegagalan target dan pengakuan niat menipu. Dua hal ini tidak identik. Dalam banyak studi tata kelola pemerintahan (good governance), transparansi justru menjadi fondasi utama untuk membangun kembali kepercayaan publik. Tanpa kejujuran, kepercayaan hanya akan menjadi ilusi yang rapuh.

Baca Juga :  Tsunami Hoaks Realistis, Ketika Google Veo Dikawal FB Pro dan TikTok

Namun demikian, reaksi publik yang muncul, termasuk dari mereka yang mengatasnamakan loyalis, juga perlu dilihat sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Kritik adalah hal yang sah.

Tetapi ketika kritik berubah menjadi serangan personal, bahkan hingga mendorong narasi mundur atau delegitimasi, maka yang terjadi bukan lagi kontrol publik, melainkan fragmentasi sosial yang justru merugikan semua pihak.

Lebih jauh, narasi yang seolah-olah menggambarkan adanya perpecahan antara Gubernur dan Wakil Gubernur perlu disikapi secara hati-hati. Dalam sistem pemerintahan daerah, relasi kepemimpinan tidak dibangun di atas persepsi publik semata, melainkan pada mekanisme kerja dan tanggung jawab bersama.

Menggiring opini seolah ada konflik internal tanpa dasar yang kuat justru berpotensi melemahkan stabilitas pemerintahan itu sendiri.

Di titik ini, kita perlu diedukasi bahwa tidak semua pernyataan keras adalah tanda kegagalan kepemimpinan. Kadang, itu justru sinyal adanya kesadaran kritis dari dalam sistem. Yang lebih penting adalah bagaimana pernyataan tersebut ditindaklanjuti, apakah menjadi refleksi untuk perbaikan kebijakan, atau berhenti sebagai kontroversi sesaat.

Oleh karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukanlah memperuncing perbedaan, tetapi memperluas ruang dialog. Pemerintah perlu memperbaiki komunikasi publiknya agar lebih terukur dan kontekstual, sementara masyarakat, termasuk kelompok-kelompok yang mengklaim diri sebagai pendukung perlu menahan diri dari sikap reaktif yang berlebihan.

Perlu disadari, membangun daerah tidak hanya soal janji yang ditepati, tetapi juga tentang kejujuran dalam menghadapi keterbatasan, serta kedewasaan bersama dalam menyikapi realitas. Di situlah kualitas “kita yang mengaku” tokoh ditengah masyarakat dan kepemimpinan diuji, bukan dalam kondisi ideal, tetapi justru dalam situasi yang penuh tekanan.***

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

69 Tahun Masohi: Merawat Semangat Gotong Royong, Meneguhkan Arah Pembangunan Maluku Tengah
Suara Perempuan, Semangat Perjuangan, dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Penerus
Merkuri Seram Terbaik di Dunia
Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?
Membaca ‘Etika’ Politik RBS; Relasi Politik dan Loyalitas Tanpa Kompromi
Hilirisasi Kelapa dan Pala: Jalan Kesejahteraan dan Masa Depan Generasi Muda Maluku Tengah
Gubernur Hendrik Lewerissa Dibiarkan Hadapi Badai Opini Sendirian, Mesin Birokrasi Pemprov Dimatikan
BUMD di Maluku Sedang Sakit

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 05:51 WIT

69 Tahun Masohi: Merawat Semangat Gotong Royong, Meneguhkan Arah Pembangunan Maluku Tengah

Rabu, 28 Oktober 2026 - 02:09 WIT

Suara Perempuan, Semangat Perjuangan, dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Penerus

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:32 WIT

Merkuri Seram Terbaik di Dunia

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:13 WIT

Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 04:02 WIT

Membaca ‘Etika’ Politik RBS; Relasi Politik dan Loyalitas Tanpa Kompromi

Berita Terbaru