SBB, Maluku — DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) mendorong pemerintah mempercepat pembukaan jalan lintas kawasan Lohia, Taniwel Gunung, menuju Kairatu. Akses tersebut dinilai strategis untuk menghubungkan sentra produksi pertanian di wilayah pegunungan dengan pusat distribusi dan pemasaran hasil bumi, sekaligus memperkuat rantai pasok pangan di Kabupaten SBB.
Ketua Karteker DPD KNPI SBB, Muhammad Fahrul Kaisuku, Selasa (20/10) mengatakan pembukaan akses jalan lintas tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Selain memperlancar mobilitas masyarakat, konektivitas itu berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian dan memperluas jangkauan pasar bagi petani di kawasan Taniwel Gunung.
Menurut Kaisuku, potensi pertanian di kawasan Lohia Sapalewa dan sekitarnya perlu didukung infrastruktur yang memadai agar hasil bumi masyarakat dapat dipasarkan secara lebih efektif.
Keterbatasan akses transportasi berisiko meningkatkan biaya distribusi dan menghambat petani memperoleh keuntungan yang layak.
“Kami mendorong konektivitas kawasan itu dibuka. Peningkatan ekonomi masyarakat Taniwel, khususnya di kawasan pegunungan, harus menjadi perhatian. Dengan akses yang memadai, rantai pasok pangan dan hasil bumi bisa lebih bernilai serta berkesinambungan,” kata Kaisuku.
Ia menegaskan, pemerintah tidak boleh membiarkan potensi pertanian masyarakat terhambat oleh persoalan infrastruktur.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten SBB diminta segera memastikan tahapan perencanaan pembangunan jalan lintas Lohia–Taniwel Gunung–Kairatu, termasuk penyusunan Detail Engineering Design (DED) sebagai dasar teknis pengusulan pembangunan.
Menurut dia, apabila DED belum tersedia, pemerintah perlu segera menyusun dokumen tersebut. Namun, jika perencanaan teknis telah ada, tahapan berikutnya harus dipercepat agar rencana pembukaan akses jalan tidak berhenti di atas kertas.
“Kalau DED-nya belum ada, segera disusun dan disiapkan untuk diusulkan. Tetapi kalau gambaran perencanaannya sudah ada, jangan berhenti di atas kertas. Percepat tahapan berikutnya agar pembukaan akses jalan ini bisa direalisasikan,” ujarnya.
Kaisuku juga mendorong pemerintah daerah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan kementerian terkait untuk memperjuangkan dukungan pembiayaan sesuai kewenangan, mekanisme pengusulan, serta kemampuan anggaran yang tersedia.
Bagi KNPI SBB, pembukaan jalan lintas Lohia–Taniwel Gunung–Kairatu bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi konektivitas yang dapat menghubungkan kawasan produksi dengan pasar yang lebih luas.
Jalan tersebut diharapkan menjadi jalur pendukung distribusi hasil pertanian sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.
Selama ini, potensi hasil bumi dari kawasan pedesaan dan pegunungan membutuhkan dukungan transportasi agar dapat menjangkau konsumen secara lebih efisien. Akses yang terbatas dapat memengaruhi ongkos angkut, waktu pengiriman, dan posisi tawar petani dalam menjual hasil panen, terutama untuk komoditas yang membutuhkan penanganan cepat.
Sebaliknya, konektivitas yang memadai dapat membuka peluang bagi petani untuk menjangkau lebih banyak pembeli, memperluas jaringan perdagangan, serta mendorong tumbuhnya usaha pendukung seperti jasa angkutan, perdagangan hasil bumi, dan pengolahan produk pertanian.
Kaisuku menilai penguatan akses dari kawasan Taniwel Gunung menuju Kairatu juga relevan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan.
Peningkatan produksi pertanian perlu disertai sistem distribusi yang lancar agar hasil panen tidak hanya tersedia, tetapi juga dapat dipasarkan dengan biaya yang lebih efisien dan memberikan nilai tambah bagi petani.
Karena itu, KNPI SBB meminta perencanaan pembangunan jalan lintas tersebut mempertimbangkan kondisi medan, kebutuhan konstruksi, trase jalan, estimasi anggaran, potensi komoditas unggulan, serta kebutuhan distribusi hasil pertanian.
Perencanaan yang matang dinilai penting agar pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak ekonomi yang terukur.
KNPI SBB berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pembukaan akses Lohia–Taniwel Gunung–Kairatu sebagai bagian dari pemerataan pembangunan di Seram Bagian Barat.
Kepastian tahapan perencanaan dan pengusulan dinilai menjadi langkah awal untuk mewujudkan konektivitas yang selama ini dibutuhkan masyarakat.
“Jangan biarkan potensi pertanian masyarakat terhambat karena persoalan akses. Jika perencanaannya belum ada, segera mulai. Jika sudah tersedia, percepat tindak lanjutnya. Yang dibutuhkan masyarakat adalah langkah konkret agar hasil pertanian dapat menjangkau pasar dengan lebih mudah,” kata Kaisuku.***














Komentar