69 Tahun Masohi: Merawat Semangat Gotong Royong, Meneguhkan Arah Pembangunan Maluku Tengah

Oleh: Darul Kutni Tuhepaly | Pemerhati Kebijakan Publik & Politik Maluku.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 3 November 2026 - 05:51 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Masohi, Maluku– Enam puluh sembilan tahun bukanlah perjalanan yang singkat bagi sebuah kota. Masohi telah melewati berbagai fase sejarah, perubahan sosial, dinamika politik, hingga tantangan pembangunan yang membentuk identitasnya sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Maluku Tengah.

Bagi saya, sebagai putra Maluku Tengah, memperingati Hari Ulang Tahun ke-69 Kota Masohi bukan sekadar merayakan pertambahan usia. Lebih dari itu, momentum ini merupakan kesempatan untuk kembali merenungkan nilai-nilai sejarah, memperkuat identitas kebersamaan, sekaligus mengevaluasi sejauh mana cita-cita para pendiri kota telah diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

Masohi memiliki makna yang sangat mendalam. Nama ini bukan sekadar penanda geografis, melainkan mengandung filosofi gotong royong, bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama.

Pada 3 November 1957, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, meletakkan batu pertama pembangunan Kota Masohi. Peristiwa bersejarah tersebut menjadi tonggak penting lahirnya sebuah pusat pemerintahan dan simbol harapan baru bagi masyarakat Maluku Tengah.

Kota ini dibangun melalui semangat kebersamaan, termasuk keterlibatan masyarakat negeri-negeri di sekitarnya yang memberikan ruang bagi lahirnya sebuah pusat kehidupan bersama.

Di sinilah kita menemukan pesan sejarah yang tidak boleh hilang ditelan zaman: Masohi lahir bukan karena kekuatan satu orang, satu kelompok, atau satu kepentingan, melainkan karena kesediaan banyak orang untuk meletakkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Enam puluh sembilan tahun setelah batu pertama diletakkan, pertanyaan penting yang patut kita renungkan adalah: apakah semangat Masohi masih hidup dalam cara kita membangun Maluku Tengah hari ini?

Pertanyaan ini penting karena pembangunan tidak boleh hanya diukur dari banyaknya proyek fisik, panjangnya jalan yang dibangun, megahnya gedung pemerintahan, atau besarnya angka investasi yang masuk ke daerah.

Pembangunan sejatinya harus diukur dari perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat. Apakah masyarakat semakin mudah mendapatkan pendidikan dan pelayanan kesehatan? Apakah petani dan nelayan memperoleh kepastian pasar? Apakah lapangan pekerjaan semakin terbuka? Apakah masyarakat di wilayah kepulauan dan pedalaman mendapatkan akses pembangunan yang adil?

Ukuran keberhasilan pembangunan pada akhirnya terletak pada sejauh mana pemerintah mampu menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Karena itu, filosofi Masohi harus ditempatkan sebagai nilai dasar dalam setiap proses pengambilan kebijakan publik. Gotong royong bukan hanya kegiatan membersihkan lingkungan atau membangun fasilitas umum secara bersama-sama. Gotong royong juga berarti membangun kesepahaman antara pemerintah, DPRD, masyarakat adat, dunia usaha, akademisi, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat dalam menentukan masa depan daerah.

Dalam konteks pembangunan Maluku Tengah hari ini, kepemimpinan Bupati Zulkarnain Awat Amir bersama Wakil Bupati Mario Lawalata memiliki tanggung jawab penting untuk menerjemahkan nilai historis Masohi menjadi agenda pembangunan yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.

Visi pembangunan Malteng Bangkit harus dimaknai lebih dari sekadar slogan pemerintahan. Ia harus menjadi gerakan bersama untuk mempercepat perubahan, memperkuat fondasi ekonomi daerah, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memastikan kesejahteraan masyarakat dapat dirasakan secara merata.

Saya memandang bahwa kepemimpinan daerah saat ini memiliki kesempatan untuk menjadikan filosofi Masohi sebagai kekuatan utama dalam menggerakkan pembangunan. Namun, kesempatan tersebut harus diikuti dengan konsistensi kebijakan, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan membangun kolaborasi lintas sektor.

Baca Juga :  Dua Faksi di Negeri Yaputih: Tradisi Sosial yang Terkoyak Akibat Konflik Tak Berkesudahan

Ada beberapa agenda mendasar yang perlu terus diperkuat.

Pertama, pembangunan sumber daya manusia. Maluku Tengah memiliki generasi muda yang tersebar dari wilayah pesisir, kepulauan, hingga pedalaman Pulau Seram. Mereka harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, pengembangan keterampilan, dan ruang partisipasi dalam pembangunan.

Investasi terbesar sebuah daerah bukan hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada kualitas manusianya. Jalan dapat membuka akses antarnegeri, tetapi pendidikan dan keterampilanlah yang membuka jalan bagi masa depan generasi.

Kedua, memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Maluku Tengah memiliki kekayaan sumber daya alam dan komoditas unggulan, seperti pala, kelapa, perikanan, serta berbagai potensi pertanian lainnya.

Potensi tersebut tidak boleh berhenti sebagai komoditas mentah yang dijual tanpa memberikan nilai tambah maksimal kepada masyarakat.

Pemerintah daerah perlu mendorong hilirisasi, penguatan koperasi, akses permodalan, teknologi pengolahan, kepastian pasar, dan kemitraan usaha yang melibatkan petani serta pelaku UMKM.

Dengan demikian, petani tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga menjadi bagian dari rantai industri yang menghasilkan nilai ekonomi lebih besar.

Ketiga, mengawal peluang strategis investasi Blok Masela. Proyek strategis nasional ini merupakan salah satu peluang besar bagi masa depan perekonomian Maluku, termasuk Maluku Tengah.

Namun, kita harus memahami bahwa besarnya nilai investasi tidak otomatis menjamin kesejahteraan masyarakat lokal.

Diperlukan kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur pendukung, regulasi daerah yang responsif, serta kebijakan yang memastikan masyarakat Maluku memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam rantai ekonomi proyek tersebut.

Jangan sampai kekayaan alam tumbuh menjadi angka investasi yang besar, tetapi masyarakat di sekitarnya hanya menjadi penonton.

Karena itu, pemerintah daerah harus mengambil peran strategis dalam mengawal kepentingan daerah, mempersiapkan tenaga kerja lokal, membuka ruang bagi pengusaha daerah, dan memastikan pembangunan berjalan dengan memperhatikan aspek sosial serta lingkungan.

Keempat, pemerataan pembangunan dan penguatan pelayanan publik. Maluku Tengah merupakan daerah dengan karakteristik geografis yang luas dan berciri kepulauan. Tantangan pelayanan publik tidak dapat disamakan dengan daerah yang memiliki wilayah daratan yang terkonsentrasi.

Pembangunan harus menjangkau masyarakat di pulau-pulau, negeri-negeri terpencil, dan wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

Kehadiran pemerintah tidak boleh hanya terasa di pusat pemerintahan. Masyarakat di pelosok juga berhak mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, air bersih, listrik, dan akses komunikasi yang layak.

Kelima, membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, terbuka, dan akuntabel. Kepercayaan publik merupakan modal penting dalam kepemimpinan daerah.

Karena itu, setiap kebijakan harus disertai perencanaan yang matang, penggunaan anggaran yang tepat sasaran, pengawasan yang kuat, dan keterbukaan informasi kepada masyarakat.

Pemerintah juga harus memberikan ruang bagi kritik dan masukan publik. Sebab, kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab bukanlah ancaman terhadap pemerintahan, melainkan bagian dari mekanisme demokrasi untuk memperbaiki kualitas kebijakan.

Sebagai ibu kota Kabupaten Maluku Tengah, Masohi memiliki posisi strategis dalam menentukan arah kemajuan daerah. Masohi harus berkembang bukan hanya sebagai pusat administrasi pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, pelayanan publik, dan aktivitas generasi muda.

Kota ini harus memiliki daya tarik investasi, ruang ekonomi yang produktif, tata kota yang tertata, lingkungan yang terpelihara, serta kehidupan sosial yang harmonis.

Namun, kemajuan Masohi tidak boleh membuat kita melupakan wilayah lain di Maluku Tengah.

Baca Juga :  BUMD di Maluku Sedang Sakit

Kemajuan ibu kota harus berjalan seiring dengan kemajuan seluruh kecamatan, negeri, dan desa. Jangan sampai pusat pemerintahan berkembang, sementara masyarakat di wilayah lain masih berjuang menghadapi keterbatasan infrastruktur dan pelayanan dasar.

Dalam perspektif kebijakan publik, pemerataan bukan berarti seluruh wilayah harus dibangun dengan pola yang sama. Pemerataan berarti setiap wilayah memperoleh perhatian sesuai kebutuhan, potensi, dan tantangan masing-masing.

Di sinilah pentingnya kepemimpinan yang mampu melihat Maluku Tengah sebagai satu kesatuan sosial, ekonomi, budaya, dan geografis.

Saya ingin menegaskan bahwa semangat Masohi tidak boleh hanya menjadi slogan seremonial setiap tanggal 3 November. Gotong royong harus hidup dalam praktik pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat.

Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat, tetapi dukungan itu harus dibangun melalui kepercayaan. Masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah, tetapi kehadiran itu harus diwujudkan melalui kebijakan yang adil dan pelayanan yang nyata.

DPRD memiliki fungsi pengawasan dan legislasi. Akademisi menyumbangkan gagasan dan kajian. Pers menjalankan fungsi kontrol sosial. Pemuda menghadirkan energi perubahan. Sementara masyarakat adat menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan orang Maluku.

Semua memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing.

Kepemimpinan Bupati Zulkarnain Awat Amir karena itu perlu terus membuka ruang kolaborasi dengan seluruh elemen tersebut. Sebuah pemerintahan akan memiliki fondasi yang lebih kuat apabila kebijakannya lahir dari dialog, partisipasi, dan kebutuhan nyata masyarakat.

Saya percaya, kepemimpinan daerah tidak harus berjalan tanpa kritik untuk disebut berhasil. Justru kemampuan mendengar, mengevaluasi, dan memperbaiki kebijakan merupakan bagian penting dari kedewasaan kepemimpinan.

Pada usia ke-69 ini, kita patut memberikan penghormatan kepada para pendahulu, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan seluruh generasi yang telah meletakkan dasar pembangunan Maluku Tengah.

Mereka telah mewariskan sebuah kota dengan filosofi yang sangat besar: bekerja bersama demi kepentingan bersama.

Tugas generasi hari ini adalah menjaga warisan tersebut, bukan hanya melalui cerita sejarah, tetapi dengan tindakan nyata.

Kita harus memastikan bahwa anak-anak Maluku Tengah memperoleh pendidikan yang lebih baik, petani mendapatkan kehidupan yang lebih sejahtera, nelayan memiliki kepastian ekonomi, pemuda mendapatkan ruang aktualisasi, serta masyarakat di seluruh pelosok merasakan kehadiran pembangunan.

Kepada Bupati Zulkarnain Awat Amir dan seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, momentum HUT ke-69 Kota Masohi kiranya menjadi pengingat bahwa sejarah telah memberikan fondasi, sementara masa depan membutuhkan keberanian mengambil keputusan, konsistensi menjalankan kebijakan, dan kesediaan mendengar suara rakyat.

Kita tidak sedang berlomba membangun kemegahan semata. Kita sedang membangun masa depan sebuah daerah yang diwariskan oleh para leluhur dan harus dipertanggungjawabkan kepada generasi berikutnya.

Sebagai putra Maluku Tengah, saya meyakini bahwa kekuatan terbesar daerah ini bukan hanya terletak pada kekayaan alamnya, melainkan pada persatuan, kebudayaan, solidaritas, dan kemampuan masyarakatnya untuk bekerja bersama.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-69 Kota Masohi.

Dari sejarah Bung Karno, dari tanah para leluhur, dari semangat negeri-negeri basudara, mari kita hidupkan kembali filosofi Masohi dalam setiap kebijakan dan tindakan pembangunan.

Mari bergotong royong mengawal Blok Masela, memperkuat ekonomi pala dan kelapa, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas lapangan pekerjaan, serta mempercepat pengentasan kemiskinan.

Sebab, Masohi tidak hanya dibangun untuk dikenang sebagai sejarah. Masohi harus terus menjadi inspirasi bagi masa depan Maluku Tengah.

MASOHI GOTONG ROYONG. MALTENG BANGKIT.

Masohi maju bukan hanya ketika kotanya berkembang, tetapi ketika seluruh masyarakat Maluku Tengah merasakan kemajuan.

Darul Kutni Tuhepaly
Pemerhati Kebijakan Publik & Politik Maluku

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bang Ozan Perjuangkan 17.225 Hektare Lahan HPK, Buka Peluang Kesejahteraan Petani Maluku Tengah
BINAIYA Foundation: Perjuangan Bang Ozan buka Harapan Baru Petani Maluku Tengah
Suara Perempuan, Semangat Perjuangan, dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Penerus
Merkuri Seram Terbaik di Dunia
Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?
Warga Lokal Sebut Laporan LSM Baladaya Bermasalah Tanpa Verifikasi Lapangan; Dia Tinggal di Jawa Barat
Karhutla Sebulan Tak Tertangani, Warga Tutup Jalan Trans Seram di Pertigaan Saleman
Membaca ‘Etika’ Politik RBS; Relasi Politik dan Loyalitas Tanpa Kompromi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 05:51 WIT

69 Tahun Masohi: Merawat Semangat Gotong Royong, Meneguhkan Arah Pembangunan Maluku Tengah

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 05:47 WIT

Bang Ozan Perjuangkan 17.225 Hektare Lahan HPK, Buka Peluang Kesejahteraan Petani Maluku Tengah

Jumat, 30 Oktober 2026 - 06:25 WIT

BINAIYA Foundation: Perjuangan Bang Ozan buka Harapan Baru Petani Maluku Tengah

Rabu, 28 Oktober 2026 - 02:09 WIT

Suara Perempuan, Semangat Perjuangan, dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Penerus

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:32 WIT

Merkuri Seram Terbaik di Dunia

Berita Terbaru