Surfing Perdana di Maluku, Desa Latu Gaungkan Tradisi Lawe Kokohu

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 8 Juni 2025 - 11:01 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Piru, Maluku– Dalam semangat memperingati Hari Laut Sedunia yang jatuh setiap 8 Juni, SMA Negeri 15 Seram Bagian Barat (SBB) menginisiasi gelaran lomba selancar ombak bertajuk Lawe Kokohu Latu 2025 di pesisir Negeri Latu, Kecamatan Amalatu, Kabupaten SBB, Minggu (8/6).

Kegiatan ini tercatat sebagai lomba surfing pertama yang digelar secara resmi di wilayah Provinsi Maluku.

Puluhan peserta dari jenjang SD, SMP, hingga SMA turut ambil bagian dalam kompetisi yang disambut hangat oleh masyarakat lokal. Tidak hanya menjadi ajang adu ketangkasan di atas papan selancar, lomba ini juga menjadi simbol pelestarian tradisi maritim masyarakat pesisir Seram bagian barat.

Kepala SMA Negeri 15 SBB, Achmad Wakano, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelaksanaan lomba tidak sekadar seremonial, melainkan bentuk penghormatan atas tradisi leluhur dan kekayaan bahari yang dimiliki Desa Latu.

Menurutnya, Lawe Kokohu, istilah lokal untuk berselancar, telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat desa tersebut sejak lama.

“Desa Latu dikaruniai garis pantai yang eksotis dan ombak yang konsisten, terutama pada musim angin timur yang berlangsung dari akhir Mei hingga awal Agustus. Karakter ombaknya menantang, menjadikan wilayah ini sangat potensial dikembangkan sebagai arena olahraga air, khususnya surfing,” ujar Wakano.

Baca Juga :  Pedagang di Mardika Akui "Berbohong" Bikin Skenario Transaksi 1 Juta Rupiah

Ia menjelaskan bahwa surfing di Desa Latu bukan sekadar tren modern yang baru dikenal, melainkan sebuah warisan budaya yang telah berurat akar dalam kehidupan masyarakat.

Diakui, anak-anak dan remaja di desanya telah terbiasa “menari di atas ombak” menggunakan papan tradisional yang dibuat secara mandiri dari kayu ringan seperti pule atau waru.

“Papan tersebut dibentuk secara manual tanpa bantuan mesin, disesuaikan dengan tinggi badan dan kemampuan masing-masing pengguna,” terangnya.

Berbeda dengan papan selancar modern, papan lokal ini tidak memiliki sirip atau lapisan fiberglass. Namun justru di situlah letak keunikannya.

Dengan kesederhanaan alat, para peselancar yang merupaka anak anak muda Desa Latu mampu menaklukkan ombak dengan kelincahan yang memukau. Aktivitas ini pun tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk melatih fisik, ketangkasan, hingga ketahanan mental.

Pantai Latu memiliki sejumlah titik selancar favorit seperti Tuha Totunnyo, Namo, Rihumbari, Wai Leleuro hingga Kiroku. Biasanya, anak-anak desa memanfaatkan waktu siang dan sore hari untuk berselancar, ketika ombak sedang dalam kondisi ideal.

Baca Juga :  Wali Kota Ambon Komitmen Selesaikan Sertifikasi Aset Daerah

“Nilai-nilai gotong royong, kreativitas, dan kecintaan terhadap alam begitu terasa dalam aktivitas Lawe Kokohu. Tidak hanya saat meluncur di atas ombak, tetapi juga dalam proses pembuatan papan yang dilakukan bersama,” tutur Wakano.

Ia menyebut, tradisi selancar di Desa Latu memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata budaya dan olahraga bahari yang autentik. Selain menjadi atraksi yang dapat menarik wisatawan, kegiatan ini juga berpeluang memperkuat ekonomi kreatif masyarakat pesisir serta membuka ruang pemberdayaan bagi pemuda desa.

“Lebih jauh, inisiatif ini dapat menjadi media edukasi untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem laut. Dengan pengelolaan yang terarah, saya percaya Desa Latu dapat berkembang menjadi salah satu destinasi unggulan surfing di kawasan timur Indonesia,” tambahnya.

Wakano pun menyampaikan harapannya agar lomba yang digelar untuk pertama kalinya ini mendapat dukungan dari pemerintah Kecamatan Amalatu dan Pemerintah Negeri Latu. Ia mendorong agar kegiatan ini bisa masuk dalam kalender tetap sebagai agenda tahunan yang konsisten dan berkelanjutan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Rektor UIN A.M. Sangadji Abidin Wakano, Camat Amalatu, Kepala Pemerintah Negeri (KPN) Latu, serta tokoh agama, pemuda, dan elemen masyarakat lainnya.***

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT
Pemprov Maluku Dorong 1.713 Lulusan Unpatti Jadi Penggerak Inovasi dan Pembangunan Daerah
BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM
Pemprov Papar Kondisi Ekonomi Maluku dalam Bisnis Forum ICMI, Harapkan Masukan Jusuf Kalla
Danrindam XV/Pattimura Tegaskan Dugaan Penganiayaan Sertu A.H Diproses
ICMI Maluku Gelar Maluku Business Forum 2026, Jusuf Kalla Tiba di Ambon Disambut Pangdam Pattimura dan Wagub
Dukungan Menteri untuk Industri Sagu SBT Dipertegas di Forum Rapimnas KADIN
PAMA Dukung 17 Program Prioritas Pemkot Ambon, Sangadji: Pemuda Harus Jadi Motor Pembangunan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 08:21 WIT

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 November 2026 - 05:23 WIT

Pemprov Maluku Dorong 1.713 Lulusan Unpatti Jadi Penggerak Inovasi dan Pembangunan Daerah

Senin, 2 November 2026 - 04:00 WIT

BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM

Senin, 2 November 2026 - 02:20 WIT

Pemprov Papar Kondisi Ekonomi Maluku dalam Bisnis Forum ICMI, Harapkan Masukan Jusuf Kalla

Minggu, 1 November 2026 - 14:29 WIT

Danrindam XV/Pattimura Tegaskan Dugaan Penganiayaan Sertu A.H Diproses

Berita Terbaru

Trend Kesehatan

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 Nov 2026 - 08:21 WIT