Dari Mantra ke Algoritma: Imajinasi, Bahasa, dan Pikiran di Era Neuro-Bionik

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 29 Juni 2025 - 11:21 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

  • Dari Avra Kadabra ke Algoritma
    Apa yang dulu dianggap mantra, kini menjadi sinyal. Pikiran bukan lagi sekadar refleksi—ia bisa menjadi perintah. Dari puisi ke protokol, dari imajinasi ke inovasi. Teknologi bukan hanya alat, tapi tubuh baru bagi kesadaran.
  • Oleh: Asy’arie Samal

Ambon, Maluku– Bayangkan, ketika jari anda tidak lagi dibutuhkan untuk menekan pelatuk senjata, ketika tombol Enter pada keyboard komputer tidak lagi diperlukan untuk melesatkan sebuah misil. Bayangkan, jika robot kecerdasan (physical AI) dalam mengeksekusi perintah tidak lagi membutuhkan fabrikasi algoritma, atau ketika Drone terbang tanpa membutuhkan remote kontrol. Lalu bayangkan, jika semua itu dilakukan hanya melalui perintah pikiran.

Ini bukan sekadar khayalan, atau seperti adegan dalam film sains fiksi, dongeng atau cerita dalam mitologi semata. Apa yang kita bayangkan itu, secara perlahan menampakkan dirinya bukan lagi sebagai ilusi, tapi merupakan peristiwa teknologi yang lahir dari pencapaian paling mutakhir dalam ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi hari ini tak hanya ditandai oleh kecepatan dan inovasi, tetapi juga bergerak ke arah yang menyerupai sihir—atau tepatnya, menyerupai imajinasi purba manusia tentang kuasa pikiran atas kenyataan.

Dulu sewaktu kecil, ketika mendengar bim salabim ‘avra kadabra’ (bahasa Ibrani kuno), maka yang terlintas dipikirkan kita adalah pertunjukan trik sulap yang menipu mata dan pikiran, atau trik magic yang dapat merubah dan menciptakan sesuatu hanya dengan mengucapkannya.

Hal seperti itu bisa kita saksikan dalam adegan fiksi seperti Harry Potter, yang selalu menggunakan tongkat dan kata-kata ketika menghadapi masalah. Kata-kata seperti expelliarmus, wingardium leviosa, expecto patronum, nox bagi Harry Potter adalah mantra yang menggerakkan dunianya di setiap ia menghadapi setiap kesulitan.

Menariknya, Avra cadabra yang dulu sering kita dengar itu adalah mantra yang digunakan oleh Serenus Sammonicus—seorang tabib Romawi di abad ke 2M—sebagai jimat untuk menyembuhkan orang sakit. Kini di era modern, mantra purba tersebut sering di poles dalam tayangan televsi, seperti, ketika Harry Potter mengatakan wingardium leviosa (benda melayang), maka benda itu pasti akan melayang mengikuti perintahnya.

Jika kita di lihat perspektif linguistik, seperti dalam J.L Austin (filsuf Bahasa Inggris) maka avra cadabra masuk dalam kategori performative utterance: ucapan yang tidak hanya menggambarkan sesuatu, tetapi melakukan suatu tindakan saat diucapkan. Dengan kata lain tindakan yang melahirkan kenyataan. Menurut Austin, bahasa bukan saja sebagai sesuatu yang merepresentasikan dunia, tetapi sebagai bagian dari tindakan itu sendiri.

Olehnya itu dalam kaitannya dengan teknologi, Avra cadabra sebagai performative utterance yang mewujud dalam aksi-aksi Harry Potter di atas bukan sekadar frasa dalam fiksi yang merepresentasikan dunia dalam bentuk ritual magic semata. Di kehidupan modern saat ini, hal-hal tersebut tidak lagi menjadi cerita yang hanya sebatas manga tanpa makna. Sebab, dalam teknologi hal itu sudah menjadi nyata. Misalnya perangkat google voice—anda tidak perlu lagi mengetik—hanya dengan suara maka permintaanmu terkabulkan. Atau seperti Siri—fitur dalam iPhone—ketika anda memberi perintah, misalnya; Hi Siri, padamkan lampu, dan lampu itu padam secara real time saat diucapkan.

Jika kita menoleh ke belakang, fenomena seperti ini tidaklah asing. Sebab dalam Mistisisme Timur, sudah lama diketahui bahwa kata-kata bukan hanya alat komunikasi, melainkan memiliki kekuatan kreatif yang dipahami dapat berresonansi dengan struktur realitas. Dalam tradisi Islam, Hindu maupun filsafat Timur lainnya melihat ucapan dan pikiran mampu membentuk dunia—sebuah gagasan yang kini kembali mencuat dalam pemikiran modern, terutama dalam teknologi.

Pemikir seperti Fritjof Capra—dalam tulisan-tulisannya—melihat kesadaran adalah bagian yang tidak terlepas dari struktur kosmik. Apa yang disebut sebagai realitas objektif justru muncul dari fondasi terdalam yang sifatnya spiritual dan mentalistik. Jika kita membaca secara reflektif The Tao of Physics, maka kita temukan bahwa kesadaran—yang di dalamnya pikiran bersemayam—bukan hanya merupakan dasar dari realitas, melainkan fondasi terdalam dari kenyataan itu sendiri.

Seperti yang ia kemukakan, “pada tingkat terdalam realitas, pikiran dan materi bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan dua aspek dari satu proses kosmik yang sama”. Maka ketika pikiran mulai menjelma menjadi perintah—menggerakkan mesin, mengendalikan cahaya, menyusun aksi—ia sebenarnya hanya mengungkap kembali apa yang telah lama tersembunyi dalam struktur semesta: bahwa kesadaran adalah bagian dari arsitektur realitas itu sendiri.

Dari Mantra Menjadi Sinyal

Sebagai dasar dari realitas, pikiran bukanlah gerakan pemaknaan yang berdiri secara otonom di atas objek, ia adalah medan fisika yang terjewantahkan semenjak Big Bang menjelmakan alam semesta. Pikiran adalah energi kontinuitas yang menenun alam semesta menjadi satu kesatuan pola sistemik. Gerak pikiran adalah konstanta mikrokosmik yang menyebabkan terjadinya inflasi semesta. Jika partikel quantum merupakan gelombang sebagai dasar terbentuknya materi, maka pikiran adalah waktu di mana materi bersarang di dalamnya.

Perkembangan teknologi—seperti neurobionik, Neuralink, dan AI (Artificial Intellgence)— memperlihatkan kepada kita akan kesadaran bukanlah ruang sunyi yang hanya dipuja dalam meditasi. Pikiran adalah rajutan kesatuan sistem yang mampu mengubah sunyi menjadi sinyal, dan kata-kata menjadi medan partikel penuh energi.

Pikiran bukanlah kognisi transendental Kantian, yang terkurung dalam pengalaman mental semata, tetapi merupakan suatu pola yang beresonansi dengan benda-benda di dalamnya. Oleh karena itu, Avra cadabra bukanlah takhayul—seperti dalam sains klasik yang selalu membutuhkan korespondensi empiris—tetapi ia adalah energi yang sudah tentu memiliki realitas atomik—dalam sains modern—yang terhubung dalam ketunggalan alam semesta.

Baca Juga :  Kemerdekaan di Tengah Badai Koruptor Menyelimuti Tana Air

Apa yang dulu dianggap sebagai mantra kini menjelma menjadi sinyal, kabel, sensor bahkan neuron. Di sinilah Avra cadabra menemukan tubuh barunya dalam algoritma dan logika mesin, sehingga kotak ajaibnya Doraemon, atau tongkat sihir Harry Potter adalah metafora bagi neuro-bionik yang menggunakan pikiran sebagai eksekutor.

Maka, bukan lagi sekadar takhayul. Di dunia kita hari ini, mantra itu hidup di tubuh manusia. Seperti Tilly Lockey, seorang gadis 19 tahun dari Inggris, yang kehilangan kedua tangannya. Ia bisa menggerakkan tangan palsunya hanya berdasarkan perintah melalui pikiran dan jejaring saraf. Tilly menggunakan tangan prostetik Hero Arm, yang pada tahun 2014, dikembangkan oleh Joel Gibbard dan Samantha, tokoh utama dalam pembuatan Open Bionics.

Teknologi ini memanfaatkan sinyal dari otot (muscle signal), kemudian dibaca oleh sensor EMG (electromyography), yang ditanamkan pada kulit manusia. Saat pengguna berniat melakukan suatu aktivitas, seperti menggenggam, otaknya akan mengirimkan sinyal listrik ke otot-otot yang selanjutnya dideteksi oleh sensor. Dan teknologi ini selain kabel, juga bisa dalam bentuk nirkabel, sehingga meskipun tangan palsu itu terlepas dari tubuh pengguna, maka tangan itu tetap berfungsi mengikuti perintah dari pengguna.

Berawal dari Hans Berger yang merekam aktivitas listrik otak untuk pertama kalinya sekitar tahun 1924, seperti membuka babak baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan manusia dan teknologi. Berger merekam aktivitas otak dengan alat yang

sederhana yang ia lakukan secara non-invasif, alat tersebut dikenal sebagai EEG (elektroensefalogram).

Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1970-an, Jacques Vidal (UCLA) mencoba menggunakan sinyal EEG tersebut, dan berhasil digunakan untuk mengontrol kursor di layar komputer. Dari eksperimen inilah muncul istilah Brain-Computer Interface, sekaligus menjadi tonggak awal akan pikiran sebagai alat pengendali.

Terobosan demi terobosan terus dilakukan untuk mengembangkan perangkat teknologi antara komputer dengan otak manusia. Di tahun 1990-an, Cyberkinetics dan Brown University mengembangkan BrainGate, sebuah sistem BCI kepada pasien lumpuh total untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Dan di tahun yang sama, mulai digunakan implan elektroda untuk membaca sinyal otak untuk diterjemahkan oleh perangkat komputer.

Selanjutnya, di tahun 2004, Blackrock Neurotech, sebuah perusahaan neuroteknologi yang berbasis Salt Lake City, AS, menanamkan implan elektroda invasif—yang diberi nama Utah Array—untuk pertama kalinya ke manusia. Alat tersebut membaca aktivitas neuron yang memungkinkan seserang bisa menggerakkan tangan robotik bahkan mengetik hanya dengan pikiran.

Dari inovasi tersebut di atas, Brain-computer Interface (BCI) seperti sedang tabir purba, baik dalam cerita maupun kisah dalam fiksi menjadi fakta dalam sains modern. Seperti disebutkan sebelumnya, pikiran bukan sekadar representasi katogoris mengingatkan kita pada pernyataan Galileo “Tuhan menciptakan semesta dengan angka”, atau seperti Phitagoras “angka adalah hakikat realitas”. Maka tak berlebihan jika dikatakan pikiran merupakan angka yang kemudian dikonversi menjadi algoritma sebagai dasar bagi BCI dan Kecerdasan Artifisial.

Teknologi Sebagai Tubuh Baru Kesadaran

Inovasi dan temuan-temuan di atas adalah upaya untuk bagaimana menghubungkan pikiran dan teknologi dalam suatu kesatuan arsitektonis. Antara komputer dan pikiran manusia tidaklah dibatasi oleh sekat hampa, pikiran bukanlah entitas solipsistik yang terkurung dalam ruang sepi, ia adalah kesatuan pola yang terhubung menyerupai jejaring kosmik dengan pola- pola lain di alam semesta. Itulah sebab Gregory Bateson—salah satu pelopor dalam cybernetics dan ekologi berpikir—melihat dunia bukan sebagai kumpulan objek, tetapi sebagai sistem yang saling terhubung melalui relasi dan pola.

Menurut Bateson, Mind is a pattern of organization, yang berarti pikiran bukanlah sesuatu atau informasi yang ada dan berdiam diri di dalam otak saja, tetapi ia merupakan pola hubungan yang terjadi dalam sistem—yakni antara tubuh, lingkungan bahkan antara makhluk hidup.

Gagasan ini memang terdengar sangat filosofis, tetapi justru di sinilah sains modern mulai berjumpa kembali dengan filsafat: ketika pikiran tidak lagi dibatasi dalam ruang sepi, melainkan diterjemahkan oleh teknologi menjadi tindakan nyata. Maka, batas antara refleksi dan eksekusi pun menjadi kabur. Jika Bateson melihat pikiran sebagai pola dan relasi dalam satu sistem, maka teknologi seperti BCI menjadikannya sebagai alat kerja yang konkret— sebuah infrastruktur yang menerjemahkan pikiran menjadi tindakan.

Namun, pertanyaan besarnya adalah jika teknologi—yang masih dalam tahap pengembangan—berhubungan langsung dengan kesadaran manusia, apakah kita sedang menuju pada fase integrasi antara manusia dengan robot?. Jika integrasi itu mempunyai tingkat presisi yang tinggi, apakah ada kemungkinan pikiran kita disabotase lewat sistem cyber crime? Atau bagaimana jika teknologi itu dikonversi mejadi senjata yang mematikan?.

Pada tahap ini tubuh manusia dari yang biologis berubah menjadi post-biologis. Kulit kita bukan lagi batas; otot bukan lagi motorik utama, dan otak bukan lagi sekadar organ biologis, tapi merupakan jejaring perangkat yang terhubung dengan sinyal elektromagnetik lalu menyatu dalam sistem digital.

Di atas semua itu, dunia neuro-bionik seolah sedang memproyeksikan kesadaran Hibrid, di mana neuron di otak kita tak hanya berkomunikasi secara kimiawi, tetapi juga bisa secara elektrik, nirkabel bahkan quantum. Apakah kita sedang menuju pada kekuatan besar yang pernah dikenal manusia?. Teknologi yang lahir sebagai keniscayaan kehidupan juga dapat membawa potensi ancaman yang bisa menjadi niscaya. Semakin canggih sebuah alat untuk menyambungkan pikiran dengan dunia luar, semakin besar pula peluang untuk mengalihfungsikannya; yakni dari penyembuhan dan magic menjadi penghancuran.

Dari Mantra ke Penghancur

Kecanggihan teknologi dalam bidang neuro-bionik dan AI tidak saja membawa dampak buruk dalam kehidupan ekonomi dan psiko-sosiologi. Banyak PHK yang terjadi dimana- mana adalah bukti mengapa banyak juga pihak menyerukan regulasi sebagai solusi untuk menghindari gejala kebudayaan yang semakin terdisrupsi ini. Society 5.0 yang di prakarsai oleh Jepang merupakan ikhtiar futuristik untuk mengelimir teknologi yang semakin menempatkan manusia dalam keterpurukan itu.

Baca Juga :  Memantau Pergerakan Sekwan SBB Jelang 18 Februari: Transparansi Anggaran Jadi Sorotan

Jika manusia hari ini sangat tergantung pada teknologi, maka Society 5.0 hadir untuk menjawab kejanggalan yang mengalienasi itu: menjadikan teknology bergantung pada eksistensi manusia. Namun pertanyaannya, bagaimana jika kejahatan perang menggunakan BCI untuk mengintegrasi pikiran dengan senjata?. Bagaimana jika pikiran sunyi yang kita anggap sebagai ruang meditasi puitis tengah terhubung secara diam-diam dengan BCI yang menjadi belati bagi manusia?.

Sebuah lembaga lembaga riset BCI, yang berada dibawah Departemen Pertahanan Amerika, DARPA (Defense Advanced Research Projets Agency), yang berdiri sejak tahun 1958, tengah mengembangkan apa yang mereka namakan Proyek N3: sebuah alat untuk membaca dan mengirim sinyal otak tanpa operasi militer. Tujuan dari proyek ini adalah agar tentara dapat mengendalikan Drone, senjata dan sistem komunikasi hanya dengan pikiran.

Proyek ini di luncurkan tahun 2019, dan hingga 2025 statusnya masih dalam prototipe dan uji coba laboratorium. Beberapa hasil menunjukkan sinyal masih sangat lemah, tidak stabil dan tidak cukup aman. Namun DARPA menargetkan dalam 5 sampai 10 tahun kedepan mereka bisa mengembangkan sistem neurobionik tempur yang layak terapkan dalam medan operasi militer.

Selain itu, Menurut laporan dari Departemen Pertahanan AS, China disebut sedang mengembangkan teknologi “brain control” atau “cognitive domain warfare”. Teknologi itu diklaim bisa menyerang otak lawan lewat gelombang mikro, suara hingga radiasi yang dapat melemahkan kesadaran, konsentrasi bahkan mempengaruhi pengambilan keputusan dan mengubah suasana hati melalui BCI.

Terkait dengan inovasi tersebut di atas, ada sebuah peristiwa menarik tepat di tahun 2016, yang di kenal dengan nama Havana Syndrome: yakni serangkaian gejala neurologis misterius yang pertama kali dilaporkan oleh diplomat Amerika Serikat dan Kanada di Havana, Kuba. Peristiwa ini ditandai dengan terjadinya gejala fisik dan kognitif yang dialami para pejabat dan diplomatik, terutama ketika mereka berada diluar negeri.

Gejala seperti sakit kepala mendadak, gangguan pendengaran atau tekanan di kepala, pusing dan mual, kehilangan fokus dan memori jangka pendek, kelelahan dan gangguan tidur. Gejala

tersebut muncul secara tiba-tiba, konon seringkali disertai dengan suara bernada tinggi yang menyerang di malam hari.

Hingga saat ini belum ada yang mengetahui penyebab pastinya. Namun ada beberapa teori seperti: psikosomatik akibat stres kerja ekstrem., dan ada juga spekulasi di mana peristiwa itu merupakan serangan gelombang mikro. Terkait hal itu, laporan dari National Academis of Sciencis AS tahun 2020, menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah paparan energi frekuensi radio terarah yang sengaja dilepas. Beberapa pejabat inteljen menyebut Rusia sebagai tersangka potensial karena mereka punya sejarah eksperimen gelombang mikro sejak Soviet.

Havana Syndrome—terlepas dari segala kontroversi—seolah menjadi prolog dari sebuah era baru dari apa yang dinamakan neural warfare. Kini setiap negara tengah berlomba untuk menjadikan BCI dan neuro-bionik sebagai sarana untuk memperkuat kedigdayaan pertahanan negaranya, menciptakan senjata berbasis sinyal listrik dan elektromagnetik. Ini bukan sekadar perlombaan teknologi, tapi pergeseran paradigma perang dari fisik ke mental, dari tubuh ke pikiran.

Avra cadabra yang merupakan mantra penyembuh atau Magic penghibur untuk menciptakan tawa bagi anak kecil justru berubah menjadi pemusnah massal, berubah menjadi penghancur saraf yang mematikan tawa. Perkembangan teknologi adalah suatu keniscayaan dalam gerak pengetahuan. Tapi batas antara asas, etika dan manfaat hingga regulasi menjadi kabur dan malah berpotensi menjadi mitos bagi teknologi itu sendiri.

Oleh karena itu, seperti yang di ingatkan Eran Klein dan C.S Nam, dalam jurnal mereka Neuroethics and Brain-Computer Interfaces (BCIs), bahwa BCI tidak hanya memunculkan tantangan teknis, tetapi juga menggugah pertanyaan mendalam mengenai agensi, identitas, tanggung jawab dan norma kemanusiaan.

BCI, menurut mereka berdua, menciptakan ambiguitas antara niat pengguna dan aksi yang dieksekusi oleh mesin. Jika pikiran adalah perintah, maka siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan sistem? Apakah seorang masih bisa bertindak sebagai agensi penuh jika dimediasi oleh algoritma dan sinyal otak?.

Olehnya itu Klein dan Nam membuat suatu kerangka etis yang mereka sebut sebagai Neuroetika, yang bukan sekadar pendamping teknis, tetapi merupakan kerangka reflektif untuk memastikan bahwa kemajuan neuroteknologi untuk tetap berpijak pada nilai-nilai manusia. Tentunya, hal ini bukan sekadar pagar hukum, atau regulasi untuk membatasi kemajuan, melainkan merupakan lentera moral dalam lorong-lorong gelap kemajuan.

Di titik ketika otak menjadi senjata, dan kesadaran dijadikan target, maka kita harus bertanya siapa yang masih memiliki kendali? Siapa yang bertanggung jawab atas kehendak yang dimediasi mesin?. Dalam upaya menjadikan perang lewat pikiran, manusia bisa saja kehilangan dirinya sebagai subjek dan menjadi objek dalam algoritma strategi.

Maka barangkali, pertanyaan terbesar bukan lagi soal apa yang bisa kita ciptakan, melainkan, masihkah kita menciptakan pikiran yang layak huni untuk pikiran yang merdeka?.

Jika dulu, kata-kata bisa menjadi mantra yang menyembuhkan, kini pikiran bisu pun bisa menjadi pemicu kehancuran. Jika dulu mantra bersifat simbolik dan ritualistik, kini ia telah menjelma dalam bentuk praktis, teknologis, dan militeristik. Maka perpindahan dari avra kadabra ke kode sinyal otak bukanlah sekadar transformasi magic ke mesin, tapi adalah pergeseran dari kesadaran ke kendali total, dari refleksi ke represi, dari mantra ke penghancur.

Dan di titik inilah kita harus merenung. Pikiran manusia, yang dahulu menjadi tempat tumbuhnya puisi, cinta, dan doa, kini juga bisa menjadi markas komando bagi senjata yang tak terlihat. Apakah kita sedang menciptakan alat untuk membebaskan manusia dari keterbatasannya? Atau justru sedang membangun medan perang yang sunyi, di mana kehendak satu pikiran bisa menghancurkan ribuan kehidupan?.***

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

69 Tahun Masohi: Merawat Semangat Gotong Royong, Meneguhkan Arah Pembangunan Maluku Tengah
Suara Perempuan, Semangat Perjuangan, dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Penerus
Merkuri Seram Terbaik di Dunia
Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?
Membaca ‘Etika’ Politik RBS; Relasi Politik dan Loyalitas Tanpa Kompromi
Hilirisasi Kelapa dan Pala: Jalan Kesejahteraan dan Masa Depan Generasi Muda Maluku Tengah
Gubernur Hendrik Lewerissa Dibiarkan Hadapi Badai Opini Sendirian, Mesin Birokrasi Pemprov Dimatikan
BUMD di Maluku Sedang Sakit

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 05:51 WIT

69 Tahun Masohi: Merawat Semangat Gotong Royong, Meneguhkan Arah Pembangunan Maluku Tengah

Rabu, 28 Oktober 2026 - 02:09 WIT

Suara Perempuan, Semangat Perjuangan, dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Penerus

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:32 WIT

Merkuri Seram Terbaik di Dunia

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:13 WIT

Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 04:02 WIT

Membaca ‘Etika’ Politik RBS; Relasi Politik dan Loyalitas Tanpa Kompromi

Berita Terbaru

Trend Maluku

Bupati SBT Teken MoU Investasi Sagu di Forum Bisnis Sagu

Kamis, 5 Nov 2026 - 04:58 WIT