Pertambangan dan Maluku di Persimpangan Krisis Lingkungan

- Jurnalis

Selasa, 10 Februari 2026 - 07:46 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ambon, Maluku,- Narasi pembangunan berbasis pertambangan masih kerap dipromosikan sebagai jalan cepat menuju kesejahteraan. Namun berbagai penelitian ilmiah justru menunjukkan fakta sebaliknya di banyak wilayah, pertambangan meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang berkepanjangan, memicu konflik sosial, serta melanggengkan kemiskinan struktural lintas generasi.

Maluku, sebagai wilayah kepulauan dengan daya dukung ekologis terbatas, berada pada posisi yang sangat rentan menghadapi ancaman tersebut.

Sejumlah penelitian global menegaskan bahwa aktivitas pertambangan merupakan salah satu penyumbang utama degradasi lingkungan.

Studi yang dipublikasikan dalam Environmental Science & Technology menunjukkan bahwa pertambangan logam berat secara signifikan meningkatkan kontaminasi air tanah dan sungai, dengan dampak yang dapat bertahan puluhan tahun setelah tambang ditutup.

Limbah tailing dan drainase asam tambang terbukti mencemari sumber air, merusak biota perairan, serta meningkatkan risiko penyakit bagi manusia.

Penelitian lain oleh World Resources Institute dan UN Environment Programme mencatat bahwa pertambangan menjadi pemicu deforestasi di kawasan tropis, termasuk wilayah kepulauan seperti Maluku.

Baca Juga :  Tiga Saksi Diperiksa Kejati Maluku dalam Kasus Pengadaan Mobil Alokon

Deforestasi ini tidak hanya menghilangkan tutupan hutan, tetapi juga menghancurkan sistem pangan lokal, mengganggu siklus hidrologi, serta mempercepat krisis iklim.

Dalam konteks Maluku, kerusakan hutan dan wilayah pesisir berdampak langsung pada nelayan, petani, dan masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada keseimbangan alam.

Fakta-fakta ilmiah ini seharusnya menjadi dasar utama dalam pengambilan kebijakan publik, bukan justru diabaikan demi kepentingan ekonomi jangka pendek.

Sayangnya, di banyak daerah, suara sains kerap kalah oleh kepentingan modal. Ketika kerusakan mulai dirasakan air tercemar, laut rusak, hasil tangkapan menurun masyarakat lokal hampir selalu menjadi pihak yang paling dirugikan, tanpa mekanisme pemulihan yang adil dan memadai.

Dalam situasi seperti ini, edukasi lingkungan tidak lagi cukup dimaknai sebagai kegiatan seremonial. Edukasi harus menjadi alat pembangun kesadaran kritis dan bentuk perlawanan berbasis pengetahuan.

Sementara itu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Maluku melalui Bidang Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanian (LHKP) mengambil posisi strategis dengan mendorong keterlibatan aktif organisasi masyarakat sipil dalam mengedukasi publik mengenai dampak nyata pertambangan.

Baca Juga :  Sejumlah Cagub Maluku Hindari Undangan Ilmiah Unpatti, Aktivis Muhammadiyah; Mereka itu “Miskin”

Ketua Bidang LHKP KAMMI Maluku, Yadi Derlen, menegaskan, Data dan penelitian sudah sangat jelas menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan akibat pertambangan bersifat sistemik dan jangka panjang.

“Jika masyarakat tidak dibekali pengetahuan yang cukup, maka mereka akan terus menjadi korban atas nama pembangunan.” ucapnya. Selasa (10/02/2026).

Pernyataan ini kata dia, bahwa advokasi lingkungan harus berpijak pada ilmu pengetahuan, bukan sekadar opini atau sentimen.

“Kolaborasi antara organisasi masyarakat, akademisi, mahasiswa, dan komunitas lokal menjadi kebutuhan mendesak. Edukasi berbasis riset dapat membuka mata publik bahwa kerusakan lingkungan bukan isu abstrak, melainkan ancaman nyata terhadap kesehatan, ketahanan pangan, dan masa depan generasi Maluku,” ungkap Darlean.

Tanpa kesadaran kolektif yang kritis, pertambangan akan terus berjalan dengan pola lama: eksploitasi hari ini, penderitaan di kemudian hari.

“Sudah saatnya Maluku belajar dari temuan ilmiah dan pengalaman global. Alam kepulauan tidak dirancang untuk menanggung eksploitasi besar-besaran,” papar dia.

Menjaga lingkungan lanjutnya, bukan sikap anti-pembangunan, melainkan pilihan rasional dan ilmiah demi memastikan pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

“Edukasi lingkungan adalah langkah awal, namun keberanian untuk bersikap kritis dan menolak kerusakan adalah tanggung jawab moral kita bersama,” pungkasnya.*

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRI Cabang Ambon Perkuat Sinergi dan Dukung Prestasi Pendidikan pada HUT ke-74 Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari
BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM
PAMA Dukung 17 Program Prioritas Pemkot Ambon, Sangadji: Pemuda Harus Jadi Motor Pembangunan
SIKENDALI AMBON Jadi Strategi Baru Pemkot Antisipasi Ancaman Inflasi
Kodam Pattimura Gelar FGD, Pangdam Setop Sementara Pembangunan Waitomu
Pelayanan Feri Kacau, Tuhepaly Sentil Gubernur: Tak Mampu Kerja, Jangan Kerja!
54 Atlet Panjat Tebing Ambon Bakal Bersaing Rebut Tiket POPMAL 2027
Yayasan Manumata Rumah Cinta Gandeng RSUD Kota Ambon Gelar Pelayanan Kesehatan Gratis bagi 150 Warga Lateri

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 10:47 WIT

BRI Cabang Ambon Perkuat Sinergi dan Dukung Prestasi Pendidikan pada HUT ke-74 Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari

Senin, 2 November 2026 - 04:00 WIT

BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:02 WIT

PAMA Dukung 17 Program Prioritas Pemkot Ambon, Sangadji: Pemuda Harus Jadi Motor Pembangunan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:32 WIT

SIKENDALI AMBON Jadi Strategi Baru Pemkot Antisipasi Ancaman Inflasi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:44 WIT

Kodam Pattimura Gelar FGD, Pangdam Setop Sementara Pembangunan Waitomu

Berita Terbaru