Ambon, Maluku — Foto lama Alfaris, salah satu orang dekat Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, kembali beredar di media sosial setelah status WhatsApp yang bersifat privat diduga di-screenshot dan disebarluaskan oleh pihak lain.
Foto tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi ekonomi Maluku melalui unggahan akun TikTok Malona.
Padahal, menurut Alfaris, foto yang menampilkan dirinya memegang sejumlah uang tersebut merupakan dokumentasi lama yang sama sekali tidak berkaitan dengan kondisi ekonomi Maluku saat ini maupun dengan aktivitas Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa.
Alfaris menegaskan, foto itu sebelumnya tidak pernah dimaksudkan untuk konsumsi publik.
Foto tersebut diunggah melalui status WhatsApp dengan pengaturan privasi terbatas, yakni hanya dapat dilihat oleh sejumlah kontak tertentu yang dipilihnya.
“Itu foto lama. Lama sekali. Sekitar Satu tahun lalu, Tidak ada kaitan dengan kondisional sekarang. Apalagi mau dikait-kaitkan dengan Pak Gub. Saya pastikan, status privat saya itu hanya untuk teman-teman di lingkungan kerja,” kata Alfaris.
Menurutnya, unggahan tersebut dibuat dalam konteks candaan dan komunikasi internal di lingkungan pertemanan serta rekan kerja.
Karena itu, ia menyayangkan ketika sebuah konten yang sejak awal dibatasi untuk kalangan tertentu justru diambil melalui tangkapan layar kemudian disebarluaskan dan diberi narasi berbeda dari konteks sebenarnya.
Alfaris juga membenarkan bahwa foto tersebut merupakan foto asli. Tapi sudah lama dan bukan milik dia tapi punya orang. Foto hanya untuk kenang kenangan.
Namun, ia kembali menegaskan bahwa foto itu merupakan dokumentasi lama yang dibuat sebagai kenang-kenangan dan tidak memiliki maksud sebagaimana narasi yang kemudian berkembang di ruang publik.
“Saya tidak mau menuduh atau terkesan mengkambinghitamkan siapa yang dengan sengaja men-screenshot status itu. Poinnya di sini, banyak informasi internal lingkungan kerja yang bocor keluar. Ini bisa menjadi catatan untuk melihat dari mana sumbernya,” ujarnya.
Ia menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama karena dalam beberapa waktu terakhir sejumlah informasi yang semestinya berada dalam lingkup internal justru muncul dan berkembang di ruang publik.
Menurut Alfaris, fenomena tersebut bukan hanya berkaitan dengan dirinya maupun foto yang kini beredar.
Ia menyebut kebocoran informasi internal juga terlihat dalam sejumlah isu pemerintahan dan anggaran daerah yang kemudian menjadi konsumsi publik sebelum waktunya.
“Beberapa bulan terakhir publik Maluku selalu digegerkan dengan informasi-informasi yang sifatnya rahasia. Bahkan soal anggaran daerah pun selalu ada informasi yang bocor. Ini tentu harus menjadi atensi untuk dapat dikondisikan dan ditertibkan,” katanya.
Ia kembali menjelaskan bahwa status WhatsApp yang dibuatnya menggunakan fitur “Dibagikan Hanya ke”, sehingga tidak dapat dilihat oleh seluruh kontak maupun publik secara terbuka.
“Kembali saya sampaikan, status yang saya buat itu privat, hanya untuk beberapa nomor kontak. Bukan secara terbuka untuk umum. Di pengaturan WhatsApp itu ada opsi ‘Dibagikan Hanya ke’ untuk nomor kontak yang dipilih,” tegas Alfaris.
Karena itu, ia meminta agar foto lama tersebut tidak ditarik ke dalam konteks politik maupun kondisi ekonomi Maluku saat ini.
Menurutnya, menghubungkan foto tersebut dengan kondisi masyarakat Maluku merupakan penafsiran yang tidak sesuai dengan konteks yang dimaksud.
“Jangan kemudian disalah-tafsirkan, apalagi dibuat olahan seakan-akan rakyat susah tetapi perangkat yang mengawal Gubernur Maluku justru lagi senang-senang. Tidak demikian. Foto itu foto lama dan konteksnya berbeda,” tegasnya.
Alfaris mengatakan, dirinya tidak bermaksud menuduh pihak tertentu terkait penyebaran tangkapan layar tersebut.
Namun, ia menilai kejadian ini menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap pengelolaan informasi internal, khususnya di lingkungan kerja pemerintahan maupun lingkaran orang-orang yang memiliki akses terhadap informasi tertentu.
“Tidak bermaksud menuduh siapa-siapa. Tetapi ini sudah menjadi perhatian dan dipelajari bersama dari mana informasi-informasi internal itu bisa keluar,” ujarnya.
Di sisi lain, Alfaris menegaskan bahwa dirinya tetap berkomitmen mendukung dan menjaga Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa.
Ia menyebut komitmen tersebut telah dibangun sejak Hendrik Lewerissa masih menjalankan tugas sebagai anggota DPR RI.
“Saya akan selalu berusaha menjadi pelayan yang baik sebagaimana saya lakukan sejak beliau masih menjadi anggota DPR RI waktu silam,” pungkasnya.
Ia berharap publik dapat melihat persoalan tersebut secara utuh dan tidak mudah menarik kesimpulan hanya berdasarkan sebuah foto lama yang diperoleh dari tangkapan layar status privat tanpa memahami konteks awal unggahan tersebut.****














Komentar