Fahri Bachmid: Lembaga Lain Tak Berwenang Tetapkan Kerugian Negara

- Jurnalis

Selasa, 21 April 2026 - 14:23 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

πŸ™ Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Jakarta, TrendingMaluku.com, – Pakar Hukum Tata Negara Universitas Muslim Indonesia, Dr. Fahri Bachmid, S.H., M.H., menegaskan bahwa secara konstitusional, satu-satunya lembaga yang berwenang melakukan audit dan menyatakan final kerugian keuangan negara adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Lembaga lain seperti BPKP atau Kejaksaan, menurutnya, tidak memiliki kewenangan konstitusional dalam hal ini.

Pernyataan tegas itu disampaikan Fahri merespon Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 28/PUU-XXIV/2026 yang dibacakan pada Senin, 9 Februari 2026. Dalam putusan tersebut, MK menyatakan BPK sebagai lembaga negara pemegang mandat konstitusional tunggal untuk menghitung, menyatakan, dan menetapkan kerugian keuangan negara, termasuk dalam perkara tindak pidana korupsi.

“Jika ditelaah secara seksama seluruh pertimbangan hukum dalam putusan MK tersebut, MK menegaskan secara terang bahwa kewenangan konstitusional untuk menghitung dan menyatakan kerugian keuangan negara berada pada BPK.

Putusan ini memperkuat posisi BPK sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang,” ujar Fahri dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).

Fahri menjelaskan, mandat konstitusional BPK termuat dalam Pasal 23E ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 yang mewajibkan adanya satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

Ia menguraikan bahwa dalam ratio decidendi (pertimbangan hukum yang mengikat) putusan MK tersebut, hakim konstitusi merujuk pada Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK yang secara tegas menyatakan BPK memiliki kewenangan untuk menilai dan/atau menetapkan jumlah kerugian negara yang diakibatkan oleh perbuatan melawan hukum.

“Secara faktual, lembaga lain sering dilibatkan, tetapi secara mandatory, hanya temuan atau hasil perhitungan BPK yang memiliki kekuatan hukum mengikat secara konstitusional dalam menentukan jumlah kerugian riil (declare final),” tegasnya.

Fahri juga menyoroti bahwa putusan MK ini sejalan dengan paradigma hukum tindak pidana korupsi, yaitu hanya kerugian yang bersifat faktual (actual loss) yang menjadi pijakan, bukan potensi kerugian (potential loss) atau kerugian total (total loss).

Meskipun putusan tersebut secara teknis menolak permohonan uji materi terhadap Pasal 603 dan 604 KUHP baru (UU No. 1 Tahun 2023), Fahri menilai bahwa dalam pertimbangan hukumnya MK justru mempertegas kedua pasal tersebut sebagai delik materiil yang unsur utama kerugian keuangan negaranya harus dibuktikan dengan mengacu pada perhitungan BPK.

Baca Juga :  Latuconsina Pimpin DPD IPPMAP Maluku, Siap Jadikan Rumah Besar Bagi Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Pelauw

“Keberadaan kerugian keuangan negara menjadi unsur utama (element of crime). Dalam prinsip pembuktian, elemen kerugian keuangan negara mutlak mempedomani kaidah beyond a reasonable doubt yang harus dibuktikan. Proses penegakan hukum seharusnya didasarkan pada perhitungan kerugian negara yang telah dilakukan lebih dahulu oleh BPK,” paparnya.

Di akhir pernyataannya, Fahri merekomendasikan agar DPR RI secara teknokratis melakukan harmonisasi atau revisi undang-undang terkait tindak pidana korupsi agar selaras dengan putusan MK ini, yakni meniadakan penghitungan kerugian negara di luar BPK serta memperkuat peran eksklusif lembaga audit negara tersebut.

“Lembaga penegak hukum seharusnya tidak lagi menggunakan lembaga lain untuk menentukan kerugian negara dalam kasus tindak pidana. Putusan ini pada dasarnya mempersempit ruang subjektivitas penegak hukum dan memastikan penegakan hukum korupsi bertumpu pada temuan lembaga audit negara yang kredibel,” tutup Fahri Bachmid.

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sengketa Lahan Blok Masela Berlarut, Masyuri Usulkan Kisar, Malra atau Offshore
BRI Tegaskan Zero Tolerance terhadap Fraud dan Korupsi dalam Penyaluran Kredit di Ambon
BRI Cabang Ambon Perkuat Sinergi dan Dukung Prestasi Pendidikan pada HUT ke-74 Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari
69 Tahun Masohi: Merawat Semangat Gotong Royong, Meneguhkan Arah Pembangunan Maluku Tengah
Pemprov Maluku Dorong 1.713 Lulusan Unpatti Jadi Penggerak Inovasi dan Pembangunan Daerah
BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM
Pemprov Papar Kondisi Ekonomi Maluku dalam Bisnis Forum ICMI, Harapkan Masukan Jusuf Kalla
Danrindam XV/Pattimura Tegaskan Dugaan Penganiayaan Sertu A.H Diproses

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 10:56 WIT

Sengketa Lahan Blok Masela Berlarut, Masyuri Usulkan Kisar, Malra atau Offshore

Rabu, 4 November 2026 - 06:55 WIT

BRI Tegaskan Zero Tolerance terhadap Fraud dan Korupsi dalam Penyaluran Kredit di Ambon

Selasa, 3 November 2026 - 10:47 WIT

BRI Cabang Ambon Perkuat Sinergi dan Dukung Prestasi Pendidikan pada HUT ke-74 Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari

Selasa, 3 November 2026 - 05:51 WIT

69 Tahun Masohi: Merawat Semangat Gotong Royong, Meneguhkan Arah Pembangunan Maluku Tengah

Senin, 2 November 2026 - 04:00 WIT

BPC HIPMI Ambon dan Kanwil Kemenkum Maluku Bahas Kolaborasi Perlindungan HKI bagi Pelaku UMKM

Berita Terbaru