Ambon, Maluku– Penetapan tanggal 7 September sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Ambon, dengan merujuk pada tahun 1575 sebagai momen berdirinya benteng Nossa Senhora da Anunciada, bukan hanya sebuah kekeliruan historis, melainkan sebuah bentuk kekeliruan intelektual yang nyata dan harus dikoreksi demi integritas sejarah itu sendiri.
Dalam berbagai dokumen resmi Portugis, tidak ditemukan satu pun catatan otentik yang menyebutkan bahwa benteng tersebut didirikan pada tahun 1575.
Justru sebaliknya, sumber primer yang lebih kredibel dan autentik menyatakan bahwa benteng Nossa Senhora da Anunciada didirikan pada tanggal 25 Maret 1576 oleh Sancho de Vasconcelos, Panglima Armada Portugis di Maluku. Ini bukan sekadar perkiraan atau tafsir historis, melainkan fakta yang tercantum dalam catatan resmi Portugis.
Lebih lanjut, kesaksian sejarah yang memperkuat tanggal tersebut datang dari Kapten Estevao Teixeira de Macedo, salah satu komandan penting Portugis dan Kapten benteng Nossa Senhora da Anunciada sebelum akhirnya diserahkan kepada Belanda oleh Kapten Gaspar de Melo pada tahun 1605.
Dalam suratnya yang bertanggal 2 Juni 1601, dan kini tersimpan di arsip Saville, Spanyol, de Macedo secara eksplisit menulis bahwa entitas awal dari Cidade de Amboino (Kota Amboina) dimulai pada 25 Maret 1576, tepat ketika batu pertama benteng diletakkan di tepi teluk yang dikenal dengan nama Honipopu.
Dokumen ini bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga validasi resmi atas tanggal berdirinya embrio Kota Ambon.
Maka, penetapan tahun 1575 sebagai dasar penentuan hari jadi Kota Ambon lewat seminar yang dilaksanakan sejarahwan Unpatti tahun 1972 tidak memiliki landasan historis yang sahih, apalagi autentik.
Lebih dari itu, jika tetap dipertahankan, maka kekeliruan ini bukan hanya melanggengkan mitos sejarah, tetapi juga mencederai semangat keilmuan dan kejujuran akademik.
Kesalahan penanggalan ini harus dilihat sebagai novum, yakni bukti baru yang sah dan kredibel, untuk meninjau ulang serta mengoreksi sejarah HUT Kota Ambon secara resmi. Kita tidak sedang meniadakan sejarah, justru sebaliknya, kita sedang menyelamatkannya dari kekeliruan yang sudah terlalu lama dibiarkan.
Kota Ambon, sebagai kota tua yang kaya sejarah dan kebudayaan, pantas memiliki fondasi sejarah yang benar, bukan sekadar asumsi atau reproduksi kesalahan lama.***



































































Discussion about this post