Ambon, Maluku— Badan Pengurus Daerah (BPD) HIPMI Maluku menggelar Pendidikan dan Pelatihan Daerah (DIKLATDA) di Zest Hotel Ambon, Selasa (12/5/2026), dengan menghadirkan Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Maluku, R. Harys Soeryo Mahendro, sebagai pembicara.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Sinergi HIPMI Maluku: Kolaborasi Memperkuat Organisasi, Menggerakan Kemandirian Ekonomi Daerah, dan Menciptakan Peluang Usaha Berkelanjutan”.
Dalam materinya, Kabinda Maluku menekankan pentingnya penguatan nasionalisme, militansi organisasi, dan transformasi digital menuju HIPMI Maluku yang solid, profesional, dan berbasis data.
Ia menjelaskan bahwa stabilitas keamanan memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan investasi dan pembangunan ekonomi daerah. Menurutnya, investor akan memastikan kondisi keamanan dan kenyamanan sebelum menanamkan modal di suatu wilayah.
Kabinda Maluku mencontohkan sejumlah persoalan sosial yang berdampak terhadap iklim investasi di Maluku, termasuk konflik lahan dan aksi protes masyarakat terhadap PT SIM di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Selain itu, ia juga menyoroti persoalan perkelahian antar desa (PAD), termasuk insiden di wilayah Iha-Luhu pasca terbakarnya 67 unit sepeda motor di kawasan pertambangan. Menurutnya, deteksi dini dan pendekatan persuasif bersama Forkopimda menjadi langkah penting dalam mencegah konflik meluas.
“HIPMI memiliki posisi strategis dalam mengubah mindset anak muda Maluku melalui penguatan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,” ujarnya di hadapan peserta DIKLATDA.
Ia menilai berbagai konflik sosial yang terjadi di masyarakat tidak terlepas dari persoalan ekonomi, sehingga peran pengusaha muda sangat dibutuhkan untuk membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi generasi muda di daerah.
Dalam pemaparannya, Kabinda Maluku juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) demi mendukung peningkatan ekonomi daerah.
DIKLATDA tersebut turut membahas sejumlah tantangan strategis Maluku, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah lima persen, kerawanan pangan dan logistik, hambatan infrastruktur digital, hingga penguatan transformasi digital melalui HIPMI GO.
Kegiatan ini juga menjadi momentum konsolidasi organisasi di bawah kepemimpinan baru Muhammad Reza Mony dalam memperkuat peran HIPMI sebagai mitra strategis pemerintah menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.***





































































Discussion about this post