Fahri Bachmid: Secara Konstitusional, Penetapan Final Kerugian Negara Hanya oleh BPK

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 April 2026 - 04:27 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Jakarta, — Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan bahwa Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merupakan satu-satunya lembaga negara yang berwenang menghitung dan menyatakan kerugian keuangan negara.

Penegasan ini tertuang dalam Putusan Nomor 28/PUU-XXIV/2026 yang diputus pada Senin, 9 Februari 2026.

Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Muslim Indonesia, Fahri Bachmid, menilai bahwa putusan tersebut memperjelas secara tegas kewenangan konstitusional BPK dalam perkara tindak pidana korupsi.

Menurutnya, Mahkamah telah menegaskan bahwa hanya hasil audit BPK yang memiliki kekuatan hukum mengikat secara konstitusional dalam menentukan besaran kerugian negara.

“Jika ditelaah secara cermat, seluruh pertimbangan hukum dalam putusan ini menegaskan bahwa kewenangan untuk menghitung dan menyatakan kerugian keuangan negara berada pada BPK. Di luar itu, tidak memiliki dasar konstitusional,” ujar Fahri.

Ia menjelaskan, mandat tersebut sejalan dengan Pasal 23E ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 yang menegaskan BPK sebagai lembaga yang bebas dan mandiri untuk memeriksa pengelolaan serta tanggung jawab keuangan negara.

Baca Juga :  Bau Busuk Anggaran RAPIMPURNAS KNPI, Panitia Lokal Diminta Segera Umumkan Pertanggung Jawaban

Dalam konteks ini, MK juga menjalankan perannya sebagai the final interpreter of constitution untuk mengakhiri tumpang tindih kewenangan antar lembaga.

Lebih lanjut, Fahri menekankan bahwa dalam paradigma hukum tindak pidana korupsi, kerugian negara yang menjadi dasar pembuktian harus bersifat nyata (actual loss), bukan potensi kerugian.

Oleh karena itu, hasil audit BPK menjadi satu-satunya rujukan sah dalam proses pembuktian hukum.

Putusan MK juga menguatkan bahwa ketentuan Pasal 603 dan 604 dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP merupakan delik materiil.

Kedua pasal tersebut mengatur perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian negara, sehingga keberadaan kerugian negara menjadi unsur utama dalam pembuktian perkara.

Baca Juga :  Tiga Kandidat Ketum BPP HIPMI Sambangi Maluku Jelang Munas 2026

“Dalam prinsip pembuktian, unsur kerugian negara harus memenuhi standar beyond a reasonable doubt. Itu berarti, perhitungannya harus berasal dari lembaga yang memiliki kewenangan konstitusional, yakni BPK,” jelasnya.

Fahri juga menyoroti bahwa dalam ratio decidendi putusan, MK merujuk pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK yang secara eksplisit memberikan kewenangan kepada BPK untuk menilai dan menetapkan jumlah kerugian negara akibat perbuatan melawan hukum.

Dengan adanya putusan ini, ia menilai tidak ada lagi ruang perdebatan mengenai lembaga yang berwenang menetapkan kerugian negara. MK telah memberikan kejelasan normatif atas frasa “merugikan keuangan negara” dalam Pasal 603 dan 604 UU 1/2023.

Fahri pun mendorong DPR RI untuk segera melakukan harmonisasi regulasi agar selaras dengan putusan MK, termasuk meniadakan praktik penghitungan kerugian negara oleh lembaga selain BPK.

“Putusan ini memperkuat kepastian hukum, mempersempit ruang subjektivitas penegak hukum, serta memastikan bahwa penegakan hukum korupsi bertumpu pada lembaga audit negara yang kredibel,” pungkasnya.***

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sudah Cukup Dijanjikan, Pemuda Lermatan siap Palang Lahan 662, Tuntut Kepastian Pembayaran
Dukungan Menteri untuk Industri Sagu SBT Dipertegas di Forum Rapimnas KADIN
Plt Ketua DPW PPP Maluku Dukung Pemberhentian Waketum dan Sekjen DPP
KTC Gaungkan Aksi Nyata Peringatan Sumpah Pemuda Lewat Kusambi Tanempar Cup 2026
Momentum Sumpah Pemuda, Subhan Pattimahu Dorong Prabowo Bentuk Kementerian Peranan Pemuda
KNPI Maluku Ajak Publik Bijak Memilah Kewenangan Pemerintahan
Rektor UIN Ambon Prof Abidin Raih PIKI Awards 2026, Diakui atas Perjuangan Toleransi dan Perdamaian
Cermati Capaian Bang Ozan, Tuhepaly Soroti Perubahan Pendidikan dan Arah Baru Ekonomi Malteng

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 05:18 WIT

Sudah Cukup Dijanjikan, Pemuda Lermatan siap Palang Lahan 662, Tuntut Kepastian Pembayaran

Minggu, 1 November 2026 - 02:24 WIT

Dukungan Menteri untuk Industri Sagu SBT Dipertegas di Forum Rapimnas KADIN

Jumat, 30 Oktober 2026 - 04:26 WIT

Plt Ketua DPW PPP Maluku Dukung Pemberhentian Waketum dan Sekjen DPP

Kamis, 29 Oktober 2026 - 00:15 WIT

KTC Gaungkan Aksi Nyata Peringatan Sumpah Pemuda Lewat Kusambi Tanempar Cup 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:30 WIT

Momentum Sumpah Pemuda, Subhan Pattimahu Dorong Prabowo Bentuk Kementerian Peranan Pemuda

Berita Terbaru