Ambon, Maluku– Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan (FISK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon menggelar Seminar Nasional bertema “Urgensi Kajian Komunikasi di Tengah Disrupsi Sosio-Ekologis.” Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk membahas peran strategis komunikasi dalam merespons perubahan sosial dan persoalan ekologis yang semakin kompleks, Senin (28/09).
Rektor IAKN Ambon, Dr. Elka Anakotta, M.Si., mengapresiasi pelaksanaan seminar nasional tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat tradisi akademik sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam membaca berbagai perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.

Anakotta mengatakan, perkembangan sosial, teknologi, dan persoalan ekologis dewasa ini berlangsung secara bersamaan dan saling memengaruhi. Kondisi tersebut membutuhkan respons akademik yang tidak hanya melihat persoalan dari satu disiplin ilmu, tetapi mampu membangun perspektif yang lebih luas dan kontekstual.
Menurutnya, komunikasi memiliki posisi penting karena menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembentukan pemahaman publik terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan.
“IAKN Ambon terus mendorong agar kegiatan akademik tidak berhenti pada ruang-ruang teoritis, tetapi juga mampu membaca realitas dan memberikan kontribusi pemikiran bagi masyarakat,” kata Anakotta.
Ia menilai seminar nasional tersebut menjadi momentum penting bagi civitas akademika untuk mempertemukan gagasan, hasil penelitian, pengalaman praktis, serta berbagai perspektif dalam melihat perubahan sosial dan ekologis.
“Di tengah perubahan yang begitu cepat, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pengetahuan yang relevan, kritis, dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Anakotta berharap forum akademik yang digagas FISK IAKN Ambon tersebut dapat memperkuat budaya ilmiah di lingkungan kampus sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara akademisi, pemerintah, praktisi, media, komunitas, dan masyarakat.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan (FISK) IAKN Ambon, Dr. Sipora B. Warella, M.Pd.K., mengatakan seminar nasional tersebut merupakan bagian dari ikhtiar fakultas untuk memperkuat relevansi kajian ilmu sosial keagamaan dengan berbagai persoalan aktual yang berkembang di masyarakat.

Menurut Warella, perubahan sosial dan ekologis tidak dapat dipisahkan dari cara manusia berkomunikasi, membangun relasi, memproduksi pengetahuan, serta mengambil keputusan.
Karena itu, kajian komunikasi perlu terus dikembangkan agar mampu memahami perubahan tersebut secara kritis sekaligus memberikan ruang bagi lahirnya pendekatan-pendekatan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“FISK memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan kajian ilmu sosial keagamaan yang kontekstual. Komunikasi menjadi salah satu ruang penting untuk memahami bagaimana masyarakat menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, sekaligus persoalan ekologis,” jelas Warella.
Ia mengatakan, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat. Informasi dapat diproduksi dan disebarkan dalam waktu singkat, namun pada saat yang sama muncul persoalan baru seperti misinformasi, disinformasi, polarisasi, serta rendahnya literasi masyarakat dalam memahami isu-isu sosial dan lingkungan.
Kondisi tersebut, kata Warella, membutuhkan perhatian akademik agar perkembangan komunikasi tidak hanya dipandang dari aspek teknologi, tetapi juga dikaji dari dimensi manusia, budaya, agama, sosial, dan lingkungan.
“Seminar ini diharapkan menjadi ruang bertemunya berbagai perspektif sehingga mahasiswa dan civitas akademika dapat melihat persoalan komunikasi secara lebih luas dan tidak terlepas dari konteks kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Warella berharap seminar tersebut dapat melahirkan gagasan akademik yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat maupun kerja sama lintas sektor.
Ketua Panitia Seminar Nasional, Muis Pikahulan, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh perubahan sosial dan ekologis yang berlangsung semakin cepat serta memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari sosial, budaya, ekonomi, politik hingga lingkungan.
Menurut Pikahulan, berbagai persoalan seperti perubahan iklim, kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan, bencana ekologis, urbanisasi, serta perkembangan teknologi digital menunjukkan bahwa persoalan sosial dan lingkungan merupakan isu yang saling berkaitan dan membutuhkan pendekatan komprehensif.
“Komunikasi memiliki posisi strategis dalam situasi tersebut. Komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga membentuk pengetahuan, persepsi, sikap, dan tindakan masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial maupun lingkungan,” jelas Pikahulan.
Ia mengatakan, cara masyarakat memahami krisis ekologis sangat dipengaruhi oleh bagaimana isu tersebut dikomunikasikan melalui keluarga, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, media massa, media sosial, pemerintah, komunitas, serta berbagai aktor sosial lainnya.
Pikahulan menjelaskan, perkembangan teknologi digital turut memperkuat kompleksitas persoalan tersebut. Di satu sisi, informasi terkait lingkungan dapat tersebar dengan cepat dan menjangkau masyarakat luas. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga memunculkan tantangan baru berupa misinformasi, disinformasi, polarisasi, manipulasi informasi, hingga rendahnya literasi ekologis.
“Kondisi ini menuntut lahirnya kajian komunikasi yang mampu membaca hubungan antara teknologi, manusia, lingkungan, budaya, dan struktur sosial secara lebih kritis,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai tantangan nyata seperti kesenjangan akses informasi, perbedaan persepsi terhadap risiko lingkungan, hingga hambatan komunikasi lintas sektor dalam penanganan perubahan iklim masih belum sepenuhnya terjawab melalui kerangka kajian yang ada saat ini.
Karena itu, seminar nasional tersebut diharapkan menjadi ruang dialog dan pertukaran gagasan untuk mempertegas arah pengembangan kajian komunikasi yang lebih responsif terhadap realitas disrupsi sosio-ekologis.
Pikahulan menambahkan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab akademik untuk menghasilkan kajian yang tidak hanya mampu menjelaskan berbagai persoalan sosial dan lingkungan, tetapi juga menawarkan alternatif solusi yang relevan bagi masyarakat.
Melalui seminar ini, FISK IAKN Ambon berupaya mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah, praktisi, media, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk membangun pemahaman bersama mengenai strategi komunikasi yang relevan terhadap perubahan sosial dan ekologis.
“Harapan kami, seminar ini dapat menjadi ruang akademik yang produktif untuk melahirkan gagasan, rekomendasi, dan kolaborasi yang memperkuat kontribusi ilmu komunikasi dalam menjawab tantangan sosial dan lingkungan yang terus berkembang,” tutup Pikahulan.***














Komentar