Kritik Terhadap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam Isu Tambang Nikel di Raja Ampat: Pendekatan yang Perlu Diperbaiki

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 8 Juni 2025 - 12:30 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

  • Oleh: Friyadi Toisutta (Mantan Majelis Pembina Cabang PMII Kota Ambon, Kader Pimpinan Pusat AMPG)

Ambon, Maluku– Seiring dengan kritik keras yang dilontarkan oleh Pengurus Besar PMII (PB PMII) terhadap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terkait isu tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya, saya merasa perlu menyuarakan pandangan yang lebih proporsional.

Kritik tersebut seakan tidak hanya mengarah pada kebijakan yang diambil oleh Bahlil, tetapi lebih jauh lagi, menyerang secara pribadi, dengan kesan bahwa beliau menjadi representasi tunggal dari seluruh masalah pertambangan di wilayah tersebut.

Sebagai seorang kader PMII dan pembina yang telah lama berkiprah dalam organisasi ini, saya menilai pendekatan yang diambil oleh PB PMII kali ini cenderung tidak proporsional dan memiliki kesan politis.

Bahlil Lahadalia merupakan salah satu tokoh Papua yang berhasil menembus jajaran kabinet pusat, yang tentunya membawa suara dan aspirasi dari timur Indonesia ke tingkat kekuasaan nasional. Oleh karena itu, dalam memberikan kritik terhadap beliau, kita perlu berhati-hati dan menjaga agar tidak terjebak dalam narasi yang menyudutkan tanpa didasari oleh data dan fakta yang jelas.

Isu tambang nikel di Raja Ampat bukanlah masalah yang sederhana. Ini melibatkan berbagai pihak, baik itu investor, pemerintah pusat dan daerah, masyarakat adat, serta aktivis lingkungan.

Sebagai Menteri ESDM, Bahlil tentu tidak bertindak sepihak. Proses perizinan, termasuk pencabutan izin, dilakukan dengan mengacu pada mekanisme hukum dan pertimbangan teknis yang panjang.

Oleh karena itu, saya mempertanyakan alasan di balik sikap PB PMII yang memilih untuk mengkritik Bahlil secara terbuka. Apakah kritik ini semata-mata didasarkan pada kepedulian terhadap lingkungan hidup dan keberpihakan terhadap masyarakat adat, atau ada kepentingan politis tertentu di balik framing terhadap Bahlil? Hal ini perlu dijelaskan dengan jelas kepada publik, agar tidak menimbulkan spekulasi lebih lanjut. Saya juga merasa bahwa PB PMII kurang memahami secara mendalam kompleksitas persoalan nasional ini.

Sebagai bagian dari organisasi intelektual, saya mengajak sahabat-sahabat di PB PMII untuk kembali pada khittah gerakan kritis yang berbasis pada data dan kajian mendalam, bukan sekadar retorika atau tekanan politis.

Baca Juga :  Tsunami Hoaks Realistis, Ketika Google Veo Dikawal FB Pro dan TikTok

Kami semua sepakat bahwa eksploitasi sumber daya alam harus memprioritaskan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Namun, pendekatannya haruslah solutif, bukan destruktif.

Bahlil Lahadalia, sebagai anak bangsa dari timur Indonesia, telah membuktikan dirinya sebagai representasi orang Papua yang mampu berbicara di tingkat nasional. Sebagai alternatif dari sekadar memojokkannya, akan lebih bijak bagi PB PMII untuk mendorong dialog yang terbuka dan transparansi — membangun ruang kritik yang sehat, bukan sekadar menyerang secara pribadi.

Marilah kita kedepankan etika dalam berorganisasi dan menjaga agar PMII tetap independen. Organisasi kita harus terus berperan sebagai agen perubahan yang kritis dan solutif, yang berjuang demi kepentingan rakyat, bukan sekadar menjadi alat politik bagi kepentingan tertentu.***

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Suara Perempuan, Semangat Perjuangan, dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Penerus
Merkuri Seram Terbaik di Dunia
Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?
Membaca ‘Etika’ Politik RBS; Relasi Politik dan Loyalitas Tanpa Kompromi
Hilirisasi Kelapa dan Pala: Jalan Kesejahteraan dan Masa Depan Generasi Muda Maluku Tengah
Gubernur Hendrik Lewerissa Dibiarkan Hadapi Badai Opini Sendirian, Mesin Birokrasi Pemprov Dimatikan
BUMD di Maluku Sedang Sakit
Butuh Peta Jalan Pendidikan Berbasis Kepulauan di Maluku

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 02:09 WIT

Suara Perempuan, Semangat Perjuangan, dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Penerus

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:32 WIT

Merkuri Seram Terbaik di Dunia

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:13 WIT

Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 04:02 WIT

Membaca ‘Etika’ Politik RBS; Relasi Politik dan Loyalitas Tanpa Kompromi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:42 WIT

Hilirisasi Kelapa dan Pala: Jalan Kesejahteraan dan Masa Depan Generasi Muda Maluku Tengah

Berita Terbaru

Trend Kesehatan

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 Nov 2026 - 08:21 WIT