Ambon, Maluku– Demokrasi adalah fondasi dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, yang dijamin sepenuhnya oleh konstitusi.
Dalam praktiknya, aksi demonstrasi seringkali menjadi “ventilasi demokrasi” yang paling nyata. Sebuah saluran penting ketika suara rakyat merasa tidak didengar melalui mekanisme formal yang ada.
Namun, wajah demonstrasi di Indonesia belakangan ini diwarnai oleh narasi kekerasan, kericuhan, dan anarkisme. Citra tersebut seolah mengaburkan esensi dasarnya bahwa demonstrasi adalah mekanisme koreksi sosial yang konstruktif, bukan panggung untuk menunjukkan kekuatan massa yang brutal.
Namun, sebuah teladan hadir dari Ambon. Aksi ribuan pemuda dan mahasiswa di depan Mapolda Maluku berjalan lancar dan damai. Peristiwa ini menjadi contoh nyata bagaimana demokrasi dapat diwujudkan dengan cara yang humanis dan beradab.
Kunci keberhasilan ini terletak pada pendekatan persuasif yang ditunjukkan langsung oleh Kapolda Maluku, Irjen. Pol. Dadang Hartanto. Alih-alih bersikap konfrontatif, ia turun langsung menjumpai massa pendemo.
Langkah Kapolda sungguh powerful. Dengan pendekatan humanis, ia meredakan ketegangan dan mengalihkan amarah menjadi dialog. Bahkan, ia tidak segan duduk melantai, menyamakan diri, dan mendengarkan aspirasi dengan penuh perhatian.
Tindakan sitting down secara harfiah dan figuratif ini mengirimkan pesan yang jelas, kepolisian bukanlah musuh yang harus dihadapi, melainkan mitra yang siap mendengarkan. Kapolda secara tegas mendukung hak demonstrasi damai, sekaligus melegitimasi tanggung jawab massa untuk tidak anarkis. Hubungan yang terbangun pun berubah dari konfrontatif menjadi kolaboratif.
Pendekatan semacam ini sangat relevan mengingat latar belakang Ambon sebagai daerah yang pernah dilanda kerusuhan komunal. Meskipun dikenal dengan karakter masyarakatnya yang keras dan memiliki memori kelam konflik masa lalu, demonstrasi kali ini berhasil dikelola tanpa memicu kekerasan baru. Tidak ada korban luka, apalagi jiwa, serta tidak terjadi pembakaran atau penjarahan.
Dari Ambon kita belajar, demonstrasi damai adalah capaian nyata yang butuh komitmen bersama. Massa harus disiplin, sementara aparat harus beralih dari pendekatan keamanan (security approach) ke pendekatan komunikasi yang humanis.
Kesuksesan Ambon membuktikan “ventilasi demokrasi” bisa berfungsi tanpa kerusakan. Aspirasi justru lebih terdengar ketika nuansa damai terjaga. Peristiwa ini menjadi teladan bahwa kekuatan empati dan persuasi lebih ampuh daripada kekuatan fisik. Demokrasi yang dewasa bukan tentang sekeras apa suara diteriakan, tetapi sedalam apa suara itu didengarkan. *** (AT)














Komentar