Tanimbar, Maluku – Ancaman boikot menggantung di atas rencana peletakan batu pertama proyek gas bumi raksasa Blok Masela. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, dengan tegas menyatakan akan menghalangi proses ground breaking jika Pemerintah Pusat terus membisu atas konflik nelayan yang berkepanjangan di lokasi proyek.
Ketua KNPI Tanimbar, Alexander Belay, S.Pi, yang sehari-hari juga akrab dengan kerasnya kehidupan laut, melontarkan peringatan keras yang jarang terjadi di tengah euforia proyek strategis nasional.
Ia mengatakan janji investasi senilai puluhan miliar dolar dari Inpex tak boleh menjadi mimpi buruk bagi nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan di perairan Masela.
“Jangan harap proses pembangunan bisa berjalan mulus jika masyarakat pesisir masih menjerit,” ujar Alexander dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Selasa (31/3/2026).
“Keadilan harus ditegakkan sebelum sekop pertama mencangkul tanah. Jika pemerintah abai, kami siap bersama rakyat memboikot ground breaking itu.”
Konflik Senyap di Bayang-bayang Investasi Triliunan Rupiah
Proyek Blok Masela yang digadang-gadang sebagai lumbung energi nasional sebenarnya telah lama meninggalkan luka sosial di tingkat akar rumput.
Para nelayan lokal tak henti mengeluhkan akses wilayah tangkap yang kian tersempit. Mereka juga cemas dengan dampak lingkungan dari aktivitas eksplorasi dan konstruksi yang dapat merusak ekosistem laut, sumber penghidupan satu-satunya.
Namun, selama ini suara mereka seolah tenggelam oleh gemuruh mesin proyek dan ambisi percepatan investasi.
KNPI menilai pemerintah pusat terlalu fokus pada target ground breaking tanpa menyelesaikan masalah mendasar, nasib nelayan kecil.
“Kehadiran investasi besar seharusnya membawa kesejahteraan, bukan meminggirkan mata pencaharian rakyat,” tegas Alexander.
“Kami tidak anti-investasi, tapi kami anti ketidakadilan,” tambahnya.
Tiga Tuntutan Sebelum Batu Pertama Diletakkan
Organisasi kepemudaan itu mendesak tiga hal mutlak yang harus dipenuhi sebelum ground breaking:
Kepastian zona tangkap yang jelas dan tidak tumpang tindih dengan area operasi Inpex. Kompensasi yang adil bagi nelayan yang kehilangan akses laut dan Dialog terbuka antara pemerintah pusat, Inpex, dan perwakilan nelayan yang hasilnya mengikat secara hukum.
Jika tuntutan ini diabaikan, KNPI tak segan menggerakkan massa. “Kami tidak main-main. Kepentingan rakyat kecil harus di atas segalanya,” ujar Alexander dengan nada dingin namun penuh tekanan.
Bagi masyarakat Kepulauan Tanimbar, hari-hari menjelang ground breaking bukanlah momen sukacita, melainkan ketegangan.
Pertanyaannya kini, apakah pemerintah akan mendengar suara nelayan, atau justru memilih memecah ombak dengan kekuasaan?
Satu hal yang pasti, ultimatum KNPI ini menjadi catatan merah bahwa proyek sebesar Blok Masela tak akan pernah benar-benar sukses tanpa restu dari mereka yang lahir dan besar dari deburan ombak di sekitarnya.














Komentar