Ambon,– Ada masa ketika Maluku seperti sebuah rumah besar yang teduh. Ombak tetap berdebur di pesisir, perahu-perahu tetap berlayar dari pulau ke pulau, dan perbedaan tetap hidup sebagaimana kodrat negeri seribu pulau. Namun di tengah segala keragaman itu, masyarakat merasa ada ketenangan yang memayungi kehidupan bersama.
Masa itu adalah ketika Karel Albert Ralahalu memimpin Maluku.
Bagi generasi saya, yang mengalami masa kepemimpinan beliau sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga menapaki dunia perkuliahan, nama Karel bukan sekedar nama seorang gubernur. Ia adalah simbol stabilitas, ketegasan, dan rasa aman. Ia hadir pada masa ketika Maluku sedang bangkit dari luka konflik sosial yang panjang. Ia tidak mewarisi keadaan yang mudah, tetapi berhasil meninggalkan suasana yang sulit dilupakan banyak orang: suasana nyaman.
Hari ini, ketika ruang publik dipenuhi berbagai gejolak sosial, pertentangan yang mudah menyala, dan perdebatan yang kadang kehilangan arah, ingatan tentang masa kepemimpinan Karel Albert Ralahalu kembali hadir dalam benak banyak orang. Bukan karena kita ingin hidup di masa lalu, tetapi karena ada nilai-nilai kepemimpinan yang terasa semakin langka.
Karel memimpin Maluku selama dua periode berturut-turut, 2003–2008 dan 2008–2013.
Dua periode yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Maluku pascakonflik. Ia memimpin di tengah pekerjaan besar untuk mengembalikan rasa percaya, merawat perdamaian, dan membangun kembali daerah yang sebelumnya mengalami luka sosial yang dalam.
Banyak orang menyebut Karel Albert Ralahalu sebagai salah satu bapak pembangunan Maluku modern. Sebutan itu tidak lahir dari ruang kosong. Pada masa pemerintahannya, pembangunan terus didorong bersamaan dengan upaya menjaga stabilitas sosial dan memperkuat kembali fondasi kehidupan masyarakat.
Pembangunan infrastruktur, pendidikan, pelayanan publik, ekonomi dan konektivitas antarpulau menjadi bagian dari perjalanan pemerintahannya. Tetapi bagi saya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak selalu selesai pada berapa banyak jalan yang dibangun, berapa banyak gedung yang berdiri atau berapa angka pertumbuhan ekonomi yang tercatat.
Ada sesuatu yang lebih mahal dari itu: rasa aman dan kepercayaan masyarakat. Meski pesan pesan pembangunannya hanya dapat didengar di radio radio usang.
Warisan terbesar Karel, bagi saya, adalah rasa percaya.
Masyarakat percaya bahwa pemerintah hadir. Tokoh agama percaya bahwa suara mereka didengar. Raja-raja dan pemangku adat percaya bahwa adat dihormati. Birokrasi memiliki arah. Masyarakat memiliki keyakinan bahwa persoalan yang muncul dapat diselesaikan melalui kepemimpinan yang memiliki kewibawaan.
Karel memahami bahwa Maluku bukan sekedar wilayah administratif. Maluku adalah negeri adat. Negeri para raja. Negeri yang dibangun oleh nilai pela, gandong, dan persaudaraan lintas iman. Karena itu, wibawa pemerintahan pada masa itu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap adat dan kultur masyarakat.
Ada kesadaran bahwa Maluku tidak bisa dipimpin hanya dengan pendekatan kekuasaan. Maluku harus dipimpin dengan hati, dengan memahami sejarah, adat, agama, karakter masyarakat dan hubungan persaudaraan yang telah diwariskan leluhur.
Karel seperti nakhoda yang memahami karakter laut yang sedang diarunginya. Laut Maluku tidak selalu tenang. Ada gelombang, ada badai dan ada arus yang tidak mudah ditebak. Namun seorang nakhoda yang baik tidak meninggalkan kemudi ketika gelombang datang. Ia justru memastikan kapal tetap berada pada jalurnya.
Saya masih mengingat masa itu.
Ketika saya masih duduk di sekolah dasar, kemudian beranjak menjadi mahasiswa, Maluku terasa memiliki ruang sosial yang lebih teduh. Tentu bukan berarti tidak ada persoalan. Masalah tetap ada. Perbedaan pendapat tetap terjadi. Dinamika politik tetap berjalan.
Namun gejolak sosial tidak terasa seperti hari ini, ketika sebuah persoalan dapat membesar hanya dalam hitungan jam karena arus media sosial dan informasi yang begitu cepat.
Hari ini, sedikit perbedaan dapat dengan mudah menjadi pertentangan. Sebuah pernyataan dapat dipotong, disebarkan dan ditafsirkan tanpa konteks. Persoalan yang semestinya dapat diselesaikan secara kekeluargaan terkadang berubah menjadi konsumsi publik. Ruang sosial kita menjadi semakin bising.
Di tengah keadaan seperti itu, saya sering teringat pada masa ketika pemerintah memiliki kewibawaan yang kuat sebagai penengah.
Bukan kewibawaan yang lahir dari rasa takut.
Tetapi kewibawaan yang lahir dari kepercayaan.
Itulah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan Karel Albert Ralahalu. Ia tidak hanya berdiri sebagai kepala pemerintahan, tetapi juga menjadi simbol bahwa Maluku harus tetap dijaga sebagai rumah bersama.
Hingga masa tuanya sekarang, nama Karel masih memiliki tempat tersendiri di hati banyak orang.
Ketokohannya tidak selesai ketika masa jabatan berakhir. Ia masih disebut, dikenang dan dihormati oleh berbagai kalangan. Ada sesuatu yang tidak ikut berakhir ketika seseorang meninggalkan kursi kekuasaan: jejak kepemimpinan.
Dan Karel meninggalkan jejak itu.
Tentu tidak ada pemimpin yang sempurna. Setiap zaman memiliki tantangan, kekurangan dan kritiknya masing-masing. Mengingat masa Karel juga bukan berarti menutup mata terhadap berbagai persoalan yang mungkin terjadi pada zamannya.
Tetapi sejarah tidak hanya mencatat kekurangan. Sejarah juga mencatat bagaimana seorang pemimpin membawa sebuah daerah melewati masa sulit.
Karel memimpin Maluku pada masa yang tidak ringan. Ia berada pada fase penting ketika Maluku harus bangkit dari luka konflik dan membangun kembali kepercayaan antarmasyarakat. Karena itu, keberhasilan menjaga harmoni dan stabilitas sosial pada masa tersebut layak ditempatkan sebagai bagian penting dari warisan kepemimpinannya.
Hari ini, ketika dinamika sosial terasa semakin tak terbendung, kerinduan itu muncul kembali.
Saya tidak sedang mengajak siapa pun untuk kembali ke masa lalu. Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa semua persoalan hari ini dapat diselesaikan hanya dengan menghadirkan kembali sosok masa lalu.
Yang saya rindukan adalah nilai kepemimpinannya.
Saya dan kita semua, tentu rindu Maluku yang pemerintahnya memiliki wibawa. Rindu Maluku yang para raja dan pemangku adatnya ditempatkan sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial. Rindu Maluku yang tokoh agama memiliki ruang untuk menjadi penyejuk. Saya rindu Maluku yang perbedaan politik tidak mudah berubah menjadi permusuhan sosial.
Rindu Maluku yang ketika ada persoalan, orang basudara memilih duduk bersama sebelum saling menghakimi.
Dan mungkin, di situlah makna sesungguhnya dari kerinduan terhadap era Karel Albert Ralahalu.
Kita bukan sekedar merindukan seorang gubernur.
Kita merindukan suasana yang pernah ada.
Suasana ketika Maluku terasa lebih teduh. Ketika pemerintah memiliki kewibawaan. Ketika adat dan budaya mendapat tempat. Ketika pembangunan berjalan bersama dengan upaya merawat persaudaraan. Ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.
Karel Albert Ralahalu mungkin telah lama meninggalkan kursi Gubernur Maluku. Tetapi ada pemimpin yang meninggalkan jabatan, dan ada pemimpin yang meninggalkan kenangan.
Karel, bagi saya dan mungkin bagi banyak orang Maluku, adalah bagian dari kenangan itu.
Kenangan tentang sebuah masa ketika Maluku sedang belajar bangkit, tetapi sekaligus mampu menjaga wajahnya sebagai negeri para raja.
Itulah sebabnya, ketika melihat Maluku hari ini dengan segala dinamika dan gejolak sosialnya, saya kembali bertanya dalam hati:
Di mana Maluku yang dulu terasa begitu berwibawa dan nyaman itu?
Mungkin jawabannya bukan dengan mencari kembali masa lalu.
Melainkan dengan belajar kembali dari nilai-nilai kepemimpinan yang pernah membuat Maluku merasa aman, dihormati dan percaya diri berdiri sebagai rumah besar orang basudara.
Dan bagi saya, salah satu nama yang selalu hadir ketika kerinduan itu muncul adalah Karel Albert Ralahalu.***














Komentar