Ambon, Maluku Ada orang yang menempuh perjalanan hidup hanya melalui satu jalur. Namun, Karim Souwakil memilih jalan yang berbeda. Ia pernah ditempa dalam dunia akademik, aktif dalam gerakan mahasiswa, bersentuhan dengan dinamika organisasi kepemudaan, menjelajah berbagai daerah melalui program pemerintah, hingga akhirnya menemukan ruang ekspresi melalui musik.
Karim Souwakil yang akrab disapa Bonu, lahir pada 2 Januari 1987. Nama Bonu bukan sekadar panggilan. Nama tersebut merupakan sematan yang memiliki arti “Bocah Nahdlatul Ulama”, dan telah melekat dalam perjalanan dirinya sejak masa muda.
Perjalanan intelektual Bonu mulai berkembang ketika ia menempuh pendidikan di Universitas RA Kartini Surabaya. Pada 2007, ia tercatat berada di Universitas RA Kartini Cabang Erlangga. Dunia kampus kemudian menjadi pintu masuk bagi dirinya untuk mengenal lebih jauh persoalan sosial, organisasi, kepemimpinan dan gerakan mahasiswa.
Ia tidak memilih menjadi mahasiswa yang hanya berkutat dengan ruang kelas. Bonu aktif dalam berbagai aktivitas kemahasiswaan dan organisasi.
Ia pernah dipercaya sebagai Korda Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Surabaya dan pada 2009 menjadi Korlab BEM se-Jawa Timur.
Salah satu pengalaman penting dalam perjalanan aktivismenya adalah keterlibatan dalam aksi mengawal persoalan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Ketidak Adilan adalah musuh bersama yang harus dihabisi menjadi moto gerakannya selama menempa diri didunia akademik.
Bagi Bonu, pengalaman turun ke jalan pada masa itu bukan sekadar bagian dari sejarah gerakan mahasiswa. Ada proses pembelajaran tentang bagaimana seorang anak muda menyampaikan kritik, mengawal kepentingan masyarakat dan mengambil sikap terhadap kebijakan pemerintah.
Pengalaman tersebut semakin kuat ketika Bonu menjadi bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya. Ia merupakan kader HMI Komisariat Ibnu Sina dan ikut dalam dinamika organisasi yang membentuk banyak karakter aktivis muda pada zamannya.
Pada Kongres HMI 2010 di Depok, Bonu turut menjadi bagian dari perjalanan organisasi yang kemudian melahirkan Fajriansyah sebagai Ketua Umum HMI saat itu.
Pengalaman tersebut memberinya kesempatan menyaksikan secara langsung bagaimana gagasan, perbedaan pandangan dan proses kaderisasi berkelindan dalam menentukan arah organisasi.
Setahun setelah memasuki dunia aktivisme sebagai Korlab BEM se-Jawa Timur, Bonu juga menuntaskan pendidikan akademiknya. Pada 2010, ia berhasil memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas RA Kartini.
Namun perjalanan Bonu tidak berhenti pada dunia hukum dan organisasi. Jauh sebelum dunia digital dan media sosial menjadi ruang utama ekspresi generasi muda, ia telah memiliki ketertarikan terhadap seni.
Sejak 2012, Bonu mulai menekuni dunia musik dan hingga kini tetap menjadikan musik sebagai bagian dari kehidupannya.
Menariknya, perjalanan sebagai musisi tidak membuat pengalaman aktivismenya hilang. Justru berbagai pengalaman yang pernah dilalui menjadi bagian dari cara Bonu mengekspresikan dirinya melalui karya.
Salah satu karya yang menandai perjalanan musikalnya adalah single “Bunga Leksula”. Dalam karya tersebut, Bonu tidak hanya tampil sebagai penyanyi, tetapi juga menulis sendiri lagu tersebut. Karya itu kemudian dirilis melalui Ryan Studio Mahiya Ambon.
Musik akhirnya menjadi medium lain bagi Bonu untuk menyampaikan cerita. Jika dahulu suara perjuangannya hadir melalui forum mahasiswa dan aksi jalanan, kini suara itu dapat hadir melalui lirik, nada dan karya.
Jauh sebelum dikenal sebagai musisi, Bonu juga memiliki pengalaman memperluas cakrawala melalui program Pertukaran Pemuda Antarprovinsi yang diselenggarakan pemerintah.
Ia mendapat kesempatan mengikuti program tersebut sebanyak dua kali. Pada 2005, Bonu mengikuti program di Bengkulu. Kemudian pada 2010, ia kembali mendapatkan kesempatan dalam program pertukaran pemuda yang mewakili langsung empat provinsi dan berlangsung di Kota Tual.
Dua pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk berinteraksi dengan pemuda dari berbagai latar belakang, mengenal karakter daerah lain dan melihat Indonesia dari perspektif yang lebih luas.
Perjalanan Karim Souwakil atau Bonu pada akhirnya bukan sekedar cerita tentang seorang sarjana hukum yang kemudian menjadi musisi. Ada proses panjang di dalamnya: pendidikan, organisasi, aktivisme, perjalanan lintas daerah dan kreativitas.
Dari ruang kampus ia belajar ilmu. Dari organisasi ia belajar kepemimpinan. Dari gerakan mahasiswa ia belajar keberanian menyampaikan sikap.
Dari perjalanan antarprovinsi ia belajar tentang keragaman. Dan dari musik ia menemukan cara untuk menerjemahkan pengalaman menjadi karya.
Itulah yang membuat sosok Bonu menarik untuk ditempatkan sebagai bagian dari cerita anak muda yang terus bergerak. Ia tidak membiarkan masa lalu berhenti sebagai kenangan, tetapi menjadikannya modal untuk melahirkan sesuatu yang baru.
Perjalanannya memberikan satu pesan sederhana namun kuat: perjuangan tidak selalu harus dilakukan dengan berteriak di jalanan. Perjuangan juga bisa hadir melalui pendidikan, gagasan, organisasi dan karya seni.
Hari ini, ketika Bonu terus bermusik dan melahirkan karya, ada bagian dari perjalanan panjang seorang aktivis muda yang tetap hidup di dalamnya.
Dari gerakan mahasiswa menuju panggung musik, Bonu menunjukkan bahwa idealisme dapat menemukan banyak bentuk. Dan selama seseorang masih memiliki keberanian untuk berkarya, pengalaman masa lalu tidak pernah benar-benar selesai—ia akan terus berbicara melalui karya yang ditinggalkan.***














Komentar