- Memaknai Qurban sebagai tanggung jawab sosial, Catatan dari Perjanlanan Kemanusiaan di Maluku.
Ambon, Maluku– Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali mengukur segala sesuatu dengan angka dan keuntungan, masih ada orang-orang yang memilih menempuh jalan sunyi pengabdian. Mereka tidak selalu berdiri di panggung-panggung besar, tidak pula sibuk menghitung seberapa banyak pujian yang diterima. Mereka hanya datang, mengetuk pintu-pintu yang membutuhkan, lalu pergi meninggalkan jejak manfaat.
Dua hari menjelang Idul Adha 1447 Hijriah di Ambon, saya menyaksikan sebuah pemandangan yang sederhana, namun menyimpan makna yang dalam. Bukan sekedar prosesi penyerahan hewan qurban, melainkan perjalanan kemanusiaan yang menghubungkan hati dengan hati, doa dengan harapan, serta kepedulian dengan masa depan.
Di hari-hari yang penuh berkah itu, Ketua Depidar SOKSI Maluku, Rohalim Boy Sangadji (RBS), melakukan gerakan sosial dengan membagikan hewan qurban ke sejumlah desa di Maluku. Perjalanan itu dimulai dari Masjid Raya Al-Fatah Ambon, tempat ia bersama rombongan Ketua DPD Partai Golkar Maluku, Umar Ali Lessy, bersilaturahmi dengan Imam Besar Masjid Raya Al-Fatah, Ustaz Hadi Basalamah.
Namun perjalanan itu tidak berhenti di satu titik. Sejumlah desa di Pulau Ambon didatangi. Langkah-langkah pengabdian itu bahkan menyeberang hingga ke Pulau Haruku.
Cuaca yang sesekali berubah tidak mengurangi semangat berbagi yang dibawa. Sebab bagi mereka, qurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cara menghadirkan kebahagiaan di tengah masyarakat.
Ada satu hal yang menarik perhatian saya sepanjang perjalanan tersebut. Idul Adha yang dijalani RBS dan jajaran SOKSI Maluku tidak hanya dimaknai melalui pembagian hewan qurban. Di beberapa tempat, bantuan sosial berupa beras disalurkan.
Di tempat lain, dukungan diberikan kepada aktivitas dan kreativitas anak-anak muda desa. Semua dilakukan dalam suasana yang sederhana, tanpa banyak seremoni.
Di Pondok Pesantren Hidayatullah Negeri Liang, misalnya, bantuan yang diberikan bukan hanya hewan qurban. Beberapa ratus kilogram beras juga diserahkan untuk membantu kebutuhan para santri. Mungkin bagi sebagian orang, beras hanyalah komoditas pangan biasa. Namun bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan, beras adalah ketenangan. Beras adalah kepastian bahwa dapur tetap mengepul dan aktivitas belajar tetap berjalan tanpa dihantui kecemasan.
Dalam perjalanan menuju salah satu desa penerima hewan Qurban, saya mendengar RBS menyampaikan kalimat yang hingga kini masih teringat jelas.
“Ini bukan soal besar atau kecilnya bantuan yang diberikan. Yang terpenting adalah keikhlasan untuk hadir dan memastikan bahwa saudara-saudara kita juga merasakan kebahagiaan yang sama pada hari raya. Sebab nilai sebuah pemberian tidak ditentukan oleh jumlahnya, tetapi oleh ketulusan yang menyertainya.”
Kalimat itu terasa sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan yang sering terlupakan. Di tengah budaya yang kerap memamerkan angka dan besaran bantuan, sesungguhnya masyarakat lebih membutuhkan kehadiran yang tulus daripada sekadar pemberian yang bersifat simbolis.
Kepada saya yang saat itu mendampingi aktivitas pembagian qurban, RBS juga menyampaikan sesuatu yang menurut saya jauh lebih penting daripada seluruh bantuan yang dibawa.
“Kita tidak perlu apa-apa selain doa dari mereka. Doa anak-anak, doa para santri, doa adik-adik kita di pondok pesantren. Kita berharap didoakan agar tetap diberi kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk terus berbagi. Doakan kita, dan doakan negeri ini.”
Permintaan itu terdengar begitu sederhana. Tetapi justru di situlah letak kemuliaannya. Di saat banyak orang menginginkan pengakuan, ia justru meminta doa. Di saat banyak yang berharap mendapatkan balasan, ia berharap negeri ini memperoleh keberkahan.
Barangkali memang itulah hakikat qurban yang sesungguhnya. Bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan tentang menyembelih ego, kesombongan, dan rasa cukup terhadap penderitaan orang lain. Qurban mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak pernah sempurna jika hanya dirasakan sendiri.
Perjalanan sosial itu juga membawa RBS ke SMK Negeri 2 Ambon, sekolah yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia datang bukan sebagai tokoh politik atau pemimpin organisasi, melainkan sebagai seorang alumni yang merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap tempat yang pernah membentuknya.
Ada pesan yang kuat di sana: bahwa keberhasilan seseorang tidak boleh membuatnya lupa pada akar tempat ia bertumbuh.
Menariknya, di tengah aktivitas yang begitu padat di Jakarta, RBS memilih merayakan Idul Adha tahun ini di Ambon. Ia memilih pulang, berkumpul bersama keluarga, sahabat, dan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Pilihan itu menunjukkan bahwa kampung halaman bukan sekadar tempat kembali, tetapi ruang untuk menunaikan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, perjalanan qurban yang saya saksikan bukanlah cerita tentang jumlah hewan yang dibagikan, berapa ton beras yang disalurkan, atau berapa banyak desa yang dikunjungi. Semua itu penting, tetapi bukan yang utama.
Yang paling membekas adalah pesan sederhana yang berulang kali disampaikan: doakan kita, doakan negeri ini.
Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan lebih banyak bantuan sosial. Bangsa ini juga membutuhkan lebih banyak orang yang mau hadir, peduli, dan bekerja dalam diam.
Orang-orang yang memahami bahwa nilai sebuah pengabdian tidak terletak pada sorotan yang diterima, melainkan pada manfaat yang dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.
Dan mungkin, di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi negeri ini, doa-doa tulus dari anak-anak pesantren, dari masyarakat desa, dan dari mereka yang menerima manfaat itulah yang akan menjadi kekuatan terbesar untuk menjaga Indonesia tetap berjalan dalam keberkahan.***




































































Discussion about this post