Koko Pietersz, Pahlawan Persebaya Asal Maluku: Ubah Nasib Lewat Gol-Gol Penentu

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 27 November 2025 - 07:04 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Surabaya,— Reinold “Koko” Pietersz, mantan penyerang tajam Persebaya Surabaya, mengukir perjalanan hidup yang membuktikan bahwa tekad dan ketekunan mampu mengubah masa depan seseorang.

Pria kelahiran Ambon, 11 Maret 1974 itu dikenal sebagai pencetak gol penentu juara Liga Indonesia 1996/1997, sebelum akhirnya mengabdikan diri sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kota Surabaya.

Berasal dari Tiou, Saparua, Koko menghabiskan masa kecilnya di Ambon.

Ia bersekolah di SD Negeri 2 Ambon, SMP Negeri 6 Ambon, hingga SUPM Waiheru.

Sejak kecil, ia akrab disapa “Koko”, panggilan yang kemudian melekat sepanjang karier sepak bolanya.

Bakatnya sudah tampak sejak remaja ketika memperkuat PSA Yunior Suratin di era 1980-an dan kemudian naik ke tim senior PSA Ambon pada 1992–1993.

Kesempatan besar datang ketika ia bersama PSA Ambon bertanding di Surabaya. Pertemuan itu menjadi titik awal ia menetap di Jawa.

Ia sempat tinggal bersama komunitas anak Ambon di Surabaya sebelum akhirnya dilirik Presgres Gresik (kini Gresik United). Usianya baru 19 tahun ketika klub itu menawarkan kontrak dan tempat tinggal di mess pemain.

Baca Juga :  Sosok Widya Pratiwi di Tangan Ketua Wanita Penulis Indonesia Maluku

Tiga tahun bersama Presgres membuat namanya dikenal sebagai penyerang berinsting gol tinggi.

Tahun 1996 menjadi momentum penting bagi Koko. Ia dipanggil memperkuat Jawa Timur di Pekan Olahraga Nasional (PON) Jakarta dan tampil gemilang saat mencetak gol penentu kemenangan di final menghadapi Papua.

Gol itu bukan hanya mempersembahkan emas bagi Jatim, tetapi juga membuka jalannya menuju klub impian, Persebaya Surabaya.

Pelatih Jatim saat itu, mendiang Rusdi Bahalwan, langsung mengajaknya bergabung ke Bajul Ijo.

Koko menerima ajakan itu tanpa ragu, menyadari bahwa kesempatan tersebut sejalan dengan mimpinya sejak merantau dari Ambon.

Pilihan itu terbukti tepat. Pada final Liga Indonesia 1996/1997 di Stadion Gelora Bung Karno, ia kembali menjadi penentu dengan mencetak gol ketiga dalam kemenangan 3–1 atas Bandung Raya.

Gelar itu mengukuhkan namanya sebagai bagian dari generasi emas Persebaya.

Keberhasilan tersebut juga membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Pemerintah Kota Surabaya menawarinya kesempatan menjadi pegawai negeri. Pada usia 21 tahun, Koko resmi menjadi ASN pada 1997, setahun setelah masa kejayaannya di lapangan hijau.

Baca Juga :  JENDERAL SENYAP, BERDAMPAK

Ia tetap bermain sepak bola hingga 2007, sebelum sepenuhnya menjalankan tugas sebagai aparatur pemerintah dan mulai bertugas di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) sejak 2008.

Sebagai ASN, Koko bertanggung jawab merawat dan mengawasi lapangan-lapangan sepak bola milik Pemkot dari tingkat kelurahan hingga fasilitas besar seperti Gelora 10 November Tambaksari dan Stadion Gelora Bung Tomo.

Baginya, menjaga lapangan bukan sekadar tugas, tetapi bentuk pengabdian kepada masyarakat Surabaya yang mencintai olahraga.

Karier sepak bolanya sendiri penuh dengan jejak prestasi. Selain bersama Persebaya dan Presgres, ia membantu Persela Lamongan promosi pada 2003, membawa Persekapas Pasuruan naik kasta pada 2004, mengantar Persiku Kudus lolos ke Divisi Satu pada 2005, dan turut mengembalikan Persebaya ke kasta tertinggi pada 2006.

Rentetan sukses itu membuatnya dikenal sebagai salah satu pemain dengan perjalanan karier paling lengkap di Tanah Air.

Kisah Reinold “Koko” Pietersz tidak hanya menginspirasi para pencinta sepak bola, tetapi juga memberi pesan bagi generasi muda Maluku dan Indonesia bahwa merantau, bekerja keras, dan setia pada proses dapat membuka jalan menuju keberhasilan.***

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

JENDERAL SENYAP, BERDAMPAK
Dari Tongkat Komando ke Tengah Rakyat, Cara Jenderal Raffles Manurung Pimpin Korem Binaiya
Karim Souwakil, Bonu: Dari Jalan Aktivisme ke Panggung Musik, Menjaga Api Perjuangan Lewat Karya
Menakhodai Perubahan dengan Kerendahan Hati dan Kepedulian
Mengenal Jafar Sidik, Akademisi Muhammadiyah yang Kini Nahkodai Dinas Pendidikan Kabupaten SBB
Hewan Qurban dan Beras untuk Pondok, RBS: Doakan Kita, Doakan Negeri Ini
Gelar Doktor di Usia Muda, Ruswan Latuconsina Jadi Inspirasi Generasi Maluku
Jejak Dr. Achmad Jais Ely, Dari Pengabdian Kementerian Menuju Penguatan Transformasi Maluku

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:05 WIT

JENDERAL SENYAP, BERDAMPAK

Minggu, 6 September 2026 - 05:20 WIT

Dari Tongkat Komando ke Tengah Rakyat, Cara Jenderal Raffles Manurung Pimpin Korem Binaiya

Jumat, 14 Agustus 2026 - 02:49 WIT

Karim Souwakil, Bonu: Dari Jalan Aktivisme ke Panggung Musik, Menjaga Api Perjuangan Lewat Karya

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 00:14 WIT

Menakhodai Perubahan dengan Kerendahan Hati dan Kepedulian

Jumat, 31 Juli 2026 - 02:29 WIT

Mengenal Jafar Sidik, Akademisi Muhammadiyah yang Kini Nahkodai Dinas Pendidikan Kabupaten SBB

Berita Terbaru

Trend Kesehatan

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 Nov 2026 - 08:21 WIT