Sinabar Huamual: Nafkah, Kehidupan, dan Pilihan Ekonomi Ribuan Warga Maluku

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 7 Oktober 2026 - 03:58 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

  • Untung Tipis, Harapan Tak Pernah Habis di Huamual
    Oleh: Muhammad Fahrul Kaisuku | Direktur Rumah Inspirasi Literasi Maluku

Ambon, Maluku– Ada istilah yang belakangan akrab dalam percakapan masyarakat dan kalangan penambang di kawasan Huamual: “Untung Tipis” alias “Utis”. Istilah ini bukan sekedar ungkapan tentang berapa besar keuntungan yang diperoleh dari tambang. Di tengah masyarakat, “Utis” dapat dibaca sebagai gambaran sederhana tentang bagaimana orang mencari celah ekonomi untuk bertahan hidup, memperbaiki penghasilan dan membawa kehidupan keluarganya ke arah yang lebih baik.

Bagi sebagian pemuda, tambang menjadi salah satu ruang untuk mencoba memperbaiki kehidupan ketika pilihan pekerjaan formal tidak banyak tersedia. Mereka datang dari berbagai kabupaten, desa, dusun di Maluku. Bukan semata-mata untuk menjadi kaya. Ada yang mengejar uang untuk kebutuhan keluarga, membangun rumah, membeli kendaraan, membiayai pendidikan sanak saudara atau anak, membuka usaha kecil dan menyiapkan kehidupan yang dianggap lebih baik dari kondisi sebelumnya.

Karena itu, istilah “Untung Tipis” justru menarik jika dibaca dari perspektif sosial. Ia menunjukkan cara berpikir masyarakat bawah yang sangat sederhana: selama ada peluang, selama masih bisa bekerja, dan selama dari pekerjaan itu ada hasil yang dapat dibawa pulang, kehidupan dapat terus berjalan.

Di sinilah kita perlu memahami mengapa sinabar Huamual memiliki daya tarik ekonomi yang kuat. Bagi masyarakat yang tidak memiliki banyak pilihan pekerjaan, tambang menawarkan sesuatu yang konkret: kesempatan memperoleh pendapatan dalam waktu relatif cepat.

Uang yang diperoleh kemudian berputar ke berbagai sektor kehidupan masyarakat. Ada warung yang hidup, kendaraan yang bergerak, jasa angkutan yang berjalan, pedagang yang mendapatkan pembeli dan keluarga yang memperoleh biaya untuk kebutuhan sehari-hari.

Maka ketika pemuda berbicara tentang “Utis”, sesungguhnya yang sedang mereka bicarakan bukan hanya keuntungan dari tambang. Mereka sedang berbicara tentang harapan untuk naik satu tingkat dalam kehidupan.

Harapan itulah yang harus dibaca oleh pemerintah dan para aktivis di Maluku.

Jangan melihat pemuda ataupun ribuan kepala keluarga yang masuk ke tambang hanya sebagai orang yang mengejar keuntungan. Lihat pula alasan mengapa mereka berada di sana.

Ketika lapangan kerja formal terbatas, ketika kesempatan usaha membutuhkan modal, dan ketika kondisi ekonomi keluarga menuntut pendapatan segera, maka pilihan masyarakat akan selalu diarahkan kepada ruang ekonomi yang paling mungkin mereka akses.

Karena itu, ketika ada suara yang meminta tambang ditutup, pemuda Maluku seharusnya ikut bertanya: apa pilihan ekonomi yang disiapkan setelah tambang ditutup?

Jika jawabannya belum jelas, maka jangan heran jika masyarakat kembali mencari jalan sendiri.

“Untung Tipis” pada akhirnya bukan hanya istilah tentang tambang. Ia adalah simbol dari perjuangan masyarakat kecil untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dengan sumber daya yang tersedia di depan mata mereka.

Tugas negara bukan mematikan harapan itu. Tugas negara adalah memastikan harapan tersebut berjalan melalui jalan yang legal, aman, tertata dan tidak menghancurkan masa depan masyarakat sendiri.

Baca Juga :  Wagub Abdullah Vanath dan Politik Pesan yang Gagal Dipahami

Karena itu, sinabar Huamual seharusnya tidak hanya diperdebatkan dalam bahasa “buka atau tutup”. Perdebatan harus dinaikkan menjadi pertanyaan yang lebih besar: bagaimana sumber daya yang ada dapat dikelola sehingga masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih baik tanpa mengorbankan keselamatan, lingkungan dan kepastian hukum?

Di titik itulah pemuda Maluku harus mengambil peran. Bukan sekedar menjadi kelompok yang berteriak paling keras untuk menutup tambang, tetapi menjadi kelompok yang paling keras mendorong lahirnya tata kelola ekonomi rakyat.

Jika sinabar memang menjadi bagian dari realitas ekonomi masyarakat, maka yang harus diperjuangkan adalah bagaimana aktivitas itu dapat ditata, bagaimana masyarakat lokal memperoleh ruang yang adil, bagaimana keselamatan pekerja dijamin, bagaimana lingkungan dilindungi dan bagaimana hasil ekonominya dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Sebab “Utis” tidak harus berhenti pada untung hari ini.

Ia harus diarahkan menjadi modal kehidupan untuk hari esok.

Dari hasil tambang, seorang pemuda semestinya tidak hanya membawa pulang uang, tetapi juga memiliki kesempatan membangun usaha, menyekolahkan keluarga, menabung, memiliki aset dan pada akhirnya memiliki pilihan ekonomi lain.

Di situlah negara dan masyarakat sipil harus hadir: bukan mematikan pilihan hidup masyarakat, tetapi memperluas pilihan mereka.

Sebab tujuan akhirnya bukan membuat masyarakat selamanya bergantung pada tambang.

Tujuan akhirnya adalah membuat masyarakat memiliki cukup kekuatan ekonomi sehingga suatu hari mereka tidak lagi bergantung pada satu sumber penghidupan saja.

Dan mungkin, di situlah makna “Untung Tipis” yang sebenarnya: bukan sekadar mencari keuntungan dari perut bumi, tetapi mencari jalan agar kehidupan keluarga hari ini sedikit lebih baik daripada kehidupan kemarin.***

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengukur Profesionalitas dan Kapasitas DPRD SBB: Tinggalkan Kantor, Tinggalkan Ibu Kota Kabupaten
Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?
Ketika “Pastori” Menjadi Simbol: Bahaya Menggeser Konflik Dua Negeri di Taniwel Bisa Jadi Lebih Ngeri
Gubernur Hendrik Lewerissa Dibiarkan Hadapi Badai Opini Sendirian, Mesin Birokrasi Pemprov Dimatikan
APBD Ratusan Miliar, SBB Kabupaten Terbesar Ketiga di Maluku Tapi Tidak Ada Kerja Sama Media – Publikasi Berantakan
Panglima Baru XV/Pattimura dan Isyarat Keras bagi Masa Depan Maluku
Lewerissa “Orno-kan” Vanath ?
Rencana Pinjam Besar Saat Pemimpinnya Berselisih, Utang dan Isu Retak Menyatu

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 05:42 WIT

Mengukur Profesionalitas dan Kapasitas DPRD SBB: Tinggalkan Kantor, Tinggalkan Ibu Kota Kabupaten

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:13 WIT

Memilih Kader atau Mendorong Ketidak Pastian Elektoral Bagi Demokrat Maluku?

Rabu, 7 Oktober 2026 - 03:58 WIT

Sinabar Huamual: Nafkah, Kehidupan, dan Pilihan Ekonomi Ribuan Warga Maluku

Minggu, 13 September 2026 - 23:22 WIT

Ketika “Pastori” Menjadi Simbol: Bahaya Menggeser Konflik Dua Negeri di Taniwel Bisa Jadi Lebih Ngeri

Minggu, 13 September 2026 - 13:18 WIT

Gubernur Hendrik Lewerissa Dibiarkan Hadapi Badai Opini Sendirian, Mesin Birokrasi Pemprov Dimatikan

Berita Terbaru

Trend Kesehatan

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 Nov 2026 - 08:21 WIT