Tanimbar, Trending-Maluku.com, – Suasana rapat di kantor camat mendadak berubah ricuh. Seorang pemuda berdiri dari kursinya, menunjuk tajam ke arah pimpinan perusahaan kayu, lalu melontarkan ancaman yang hingga kini masih dikenang banyak orang.
“Saya kasi keluar kepala kau nanti.”
Begitulah kalimat yang diucapkan Petrus Werembinan, pria yang kini menjabat sebagai Anggota DPRD Kepulauan Tanimbar, dalam sebuah rapat puluhan tahun silam. Kalimat itu bukan sekadar ancaman kosong. Tidak lama setelahnya, ia benar-benar maju dan menghajar pimpinan Inhutani yang saat itu hadir dalam rapat di kantor camat, jauh sebelum Tanimbar resmi menjadi kabupaten.
Dipicu Tawa Sinis
Petrus mengenang peristiwa itu dengan detail ketika berbicara dalam audiensi bersama Forum Save Hutan Yamdena di gedung DPRD Kepulauan Tanimbar, Senin (28/9/2026). Menurutnya, ia tersinggung bukan tanpa alasan.
“Karena saya tersinggung, dia sudah berbicara baru tertawa sinis lagi dengan peserta rapat waktu itu,” ujarnya.
Tawa sinis itu, kata Petrus, adalah bentuk pelecehan terhadap masyarakat Tanimbar yang tengah memperjuangkan haknya. Baginya, sikap arogan pimpinan perusahaan kayu tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja.
“Saya juga yang ancam kasi keluar kepalanya pimpinan Inhutani dalam rapat saat itu di kantor camat, waktu itu belum Kabupaten,” tegasnya.
Rapat yang semula membahas persoalan HPH berubah total menjadi kekacauan. Peserta rapat berhamburan, kursi-kursi berantakan, dan diskusi resmi pun tak bisa dilanjutkan. Peristiwa itu menjadi salah satu momen paling dramatis dalam sejarah perlawanan masyarakat Tanimbar terhadap operasi HPH.
Bukan Sekadar Emosi Sesaat
Bagi Petrus, tindakannya itu bukanlah luapan emosi tanpa dasar. Ia menegaskan bahwa sikapnya terhadap HPH tidak pernah berubah, baik sebelum maupun sesudah menjadi anggota dewan.
“Karena itu di Komisi II saya bilang sikap saya tidak pernah berobah terhadap HPH,” ujarnya.
Ia bahkan mengingat pernyataan pertamanya saat diberi kesempatan berbicara di komisi tersebut, di hadapan pimpinan PT KJB.
“Saya ingat masih ada Kades Sangliat Dol. Ucapan saya pertama waktu diberi kesempatan, saya bilang komisi ini harus mengeluarkan rekomendasi untuk menolak HPH dari Tanimbar. Saat itu hadir pimpinan PT KJB. Itu kata awal saya,” kenangnya.
Dari Hutan Atubul hingga Tongkang Ukurlaran
Peristiwa hajar-menghajar itu hanyalah satu dari sekian banyak kisah perlawanan Petrus terhadap HPH. Sebelumnya, ia telah dipercaya untuk menyusup jauh ke Hutan Atubul di bagian barat Tanimbar demi memotret longsor yang terjadi akibat penebangan hutan.
“Waktu itu salah satu anak muda yang terlibat dalam gerakan ICTI, satu-satunya itu Poli Werembinan. Saat Pastor Tom pulang balik Ambon-Jakarta, Ambon-Saumlaki dengan Tim ICTI, saya yang diutuskan jauh-jauh ke hutan Atubul ke sebelah barat untuk foto ada longsor di sana,” ceritanya.
Ia juga pernah dipercaya membawa speedboat untuk menghadang tongkang perusahaan di perairan Ukurlaran.
“Saya juga yang disuruh bawa speedboat untuk kita buat sedikit sirih pinang untuk hajar tongkangnya perusahaan waktu itu di Ukurlaran,” ujarnya.
Pelajaran tentang Keberanian
Kisah Petrus Werembinan menghajar pimpinan Inhutani menjadi simbol perlawanan rakyat kecil terhadap kekuasaan korporasi. Meski caranya kontroversial, ia membuktikan bahwa masyarakat Tanimbar tidak tinggal diam ketika hak-haknya diinjak-injak.
Bagi generasi muda yang kini terlibat dalam gerakan Save Hutan Yamdena, kisah ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menolak HPH membutuhkan keberanian, bukan hanya retorika. Namun, Petrus sendiri kini menekankan pentingnya strategi yang lebih terukur, seperti penyiapan data yang kuat dan boikot internasional terhadap kayu Tanimbar.
“Saya pikir ini luar biasa lengkap. Ini bagus sekali,” ujar Petrus mengapresiasi kehadiran berbagai elemen dalam gerakan penolakan HPH saat ini.
Dari kantor camat yang bubar hingga hutan Atubul yang jauh, dari ancaman “saya kasi keluar kepala kau nanti” hingga boikot kayu internasional, perjalanan Petrus Werembinan adalah potret perjuangan panjang menolak eksploitasi hutan di pulau kecil bernama Tanimbar.














Komentar