Ambon, Maluku– Darahnya adalah darah juang dan pergerakan. Jiwanya dibesarkan bukan hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh denyut nadi perjuangan organisasi. Arman Kalean Lessy lahir dari rahim intelektual GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), mewarisi semangat Marhaenisme yang membara untuk membela rakyat kecil. Latar belakang inilah yang membentuknya menjadi seorang aktivis tulen, yang narasi perjuangannya dimulai dari jalanan kota Ambon.
Di masa mahasiswanya di Kampus Unpatti Ambon, Arman sudah menjadi ikon aktivis jalanan. Namanya dikenal bukan hanya karena retorikanya yang tajam dan berani, tetapi juga karena gaya orasinya yang sangat personal dan penuh simbolik.
Ciri khas bertelanjang badan saat berorasi di tengah terik matahari dan hujan, menyuarakan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat. Bagi Arman, aksi itu adalah metafora; sebuah perlambang ketulusan, keterbukaan, dan keberanian untuk “telanjang” sepenuhnya di hadapan rakyat yang dibelanya. Suaranya yang medelak-ledak, penuh emosi yang terukur, mampu membakar semangat massa dan sekaligus menusuk nalar penguasa.
Namun, jangan salah sangka. Di balik persona “pemberontak jalanan” itu, tersembunyi seorang intelektual yang disiplin. Meskipun aktif bergelut dengan aksi dan demonstrasi, Arman berhasil menyelesaikan studi strata satunya tepat waktu. Ini membuktikan bahwa baginya, aktivisme dan akademika bukanlah dua kutub yang bertolak belakang, melainkan dua sisi mata uang yang sama untuk mencapai perubahan. Komitmennya pada dunia pendidikan kemudian dibawanya ke Surabaya, salah satu kota yang dikenal sebagai kawah candradimuka para pejuang, untuk meraih gelar Magister Pendidikan di sana.
Kembali ke Ambon, ia memilih untuk mengabdikan ilmunya sebagai dosen di UIN AM Sangadji, kampus yang melahirkan banyak aktivis pergerakan. Pilihan ini bukanlah bentuk “penyerahan diri” pada sistem, melainkan strategi perluasan medan perjuangan. Dari dalam kampus, ia mencetak generasi penerus yang kritis dan berintegritas. Akar aktivismenya tidak pernah tercerabut. Semangatnya untuk memperjuangkan keadilan justru menemukan medium baru yang lebih strategis.
Kepercayaan pun datang. Berkat integritas dan rekam jejaknya, Arman dipercayakan seluruh elemen Organisasi Kepemudaan (OKP) di Maluku untuk memimpin Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Maluku.
Kini, penampilannya mungkin telah berubah. Peci merah dan setelan rapi telah menggantikan celana jeans bertelanjang badan. Uniform itu adalah seragam barunya, sebuah identitas yang melekat pada tanggung jawab barunya untuk berkolaborasi, berdiplomasi, dan membangun konsensus dengan para stakeholder.
Tapi, jangan tanya apakah apinya padam. Orasinya yang membara dan vokal yang lantang tetap menjadi karakteristiknya yang paling kuat. Yang berubah adalah pendekatannya; dari konfrontasi di jalanan menjadi negosiasi di meja rapat, dari meneriakkan tuntutan, menjadi menyusun agenda solutif.
Arman Kalean Lessy adalah bukti bahwa seorang aktivis dapat bertransformasi tanpa kehilangan jati diri. Ia membuktikan bahwa perjuangan tidak hanya soal melawan di luar sistem, tetapi juga tentang memasuki dan memperbaiki sistem dari dalam.
Ia menolak untuk terjebak dalam menara gading yang nyaman, memilih untuk tetap menjaga nyala api pergerakan itu. Meski kini api itu dibungkus dalam balutan jas KNPI dan peci merah, dia masih tetap membakar semangat perubahan dengan cara yang baru. Lebih cerdas, dan lebih berkelanjutan.***





































































Discussion about this post