JENDERAL SENYAP, BERDAMPAK

Brigjen TNI Raffles Manurung, Ketika Tongkat Komando Turun ke Tengah Rakyat

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:05 WIT

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ambon, Maluku– Tongkat komando bagi seorang perwira tinggi TNI bukan sekedar simbol kewenangan. Di baliknya terdapat tanggung jawab untuk memastikan setiap perintah bergerak menjadi tindakan, setiap program menghasilkan manfaat, dan setiap kehadiran prajurit memiliki arti bagi masyarakat.

Bagi Brigadir Jenderal TNI Raffles Manurung, S.I.P., kepemimpinan tampaknya tidak cukup diletakkan di ruang rapat, meja komando atau lapangan upacara. Hampir setahun memimpin Korem 151/Binaiya, sosoknya justru kerap terlihat di lokasi pembangunan jembatan, desa-desa, hamparan sawah, kawasan terpencil, rumah warga hingga titik-titik kegiatan sosial dan pembangunan. Ia datang untuk melihat langsung, memeriksa pekerjaan, berbicara dengan prajurit, mendengar masyarakat, kemudian memastikan apa yang dikerjakan TNI tidak berhenti sebagai laporan, tetapi benar-benar memberikan dampak.

Dari cara itu, karakter kepemimpinannya perlahan terbaca: tidak banyak bicara, tetapi bekerja; tidak selalu berada di depan sorotan, tetapi hadir di tengah persoalan. Karena itu, satu ungkapan terasa tepat untuk menggambarkan sosoknya di Maluku: Jenderal Senyap, Berdampak.

Jendral Raffles lahir di Pematang Siantar pada 19 November 1970, putra almarhum Drs. Jamilin Manurung dan Tiolina Tarihoran.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Pematang Siantar, kemudian pendidikan menengah di Medan. Ia melanjutkan pendidikan tinggi dan menyelesaikan S-1 FISIP Universitas Jenderal Achmad Yani.

Perjalanan militernya dimulai sebagai lulusan Akademi Militer tahun 1994 dan terus berkembang melalui Sessarcab Infanteri 1995, Selapa Infanteri 2003, Seskoad 2010 hingga Lemhannas RI 2022.

Pendidikan tersebut berjalan beriringan dengan rangkaian penugasan panjang di lingkungan TNI Angkatan Darat, mulai dari Danton Yonif Dam IV/DIP, Danton 3 Kipan D Yonif 408/SBH, Pasi-1/Lidik Yonif 408/SBH, Dankipan B Yonif 408/SBH, Dantim Intel Rem 074/WRT, Pasi Intel Rem 031/WB, Kasdim 0314/Inhil Rem 031/WB, Kasi Intel Rem 131/Santiago, Danyonif 714/SM Rem 132/TDL, Kabag Evdiklat Sdirbindiklat Pussenif Kodiklat TNI AD, Dandim 1710/Mimika Rem 174/ATW Kodam XVII/Cenderawasih, Pabandya-4 Turjuk Spaban VI/Minintel Spamad, Kasi Intel Rem 171/PVY, Asintel Kasdam VI/Mulawarman, Patun Seskoad, Dirlitbang Pusintelad hingga Pamen Denma Mabesad.

Lintasan itu mempertemukan Raffles dengan berbagai fungsi, mulai dari infanteri, intelijen, kewilayahan, pendidikan, perencanaan hingga pembinaan organisasi, sebelum akhirnya dipercaya memegang tongkat komando Korem 151/Binaiya.

Pada 2025, Raffles memperoleh kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal TNI. Pada Agustus tahun yang sama, ia dipercaya memimpin Korem 151/Binaiya, menggantikan Brigjen TNI Antoninho Rangel da Silva.

Tongkat komando tersebut membawanya ke wilayah dengan karakter geografis dan sosial yang kompleks. Maluku merupakan provinsi kepulauan dengan rentang wilayah luas, pulau-pulau yang dipisahkan laut, desa-desa yang berjauhan serta tantangan infrastruktur yang masih dirasakan sebagian masyarakat.

Dalam kondisi seperti itu, kepemimpinan kewilayahan tidak cukup dibangun dari balik meja. Seorang Danrem harus memahami medan dengan melihatnya sendiri. Raffles memilih jalan tersebut.

Pada akhir Mei 2026, ia meninjau pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih di Desa Administratif Englas, Seram Bagian Timur. Ia datang untuk melihat perkembangan pembangunan sekaligus meninjau program cetak sawah, Kawasan Daulat Ketahanan Mandiri Pangan dan persiapan pembangunan Batalyon Teritorial Pembangunan.

Baca Juga :  Hewan Qurban dan Beras untuk Pondok, RBS: Doakan Kita, Doakan Negeri Ini

Bagi Raffles, jembatan bukan hanya konstruksi fisik, tetapi akses yang menghubungkan masyarakat dengan pusat aktivitas, membuka pergerakan hasil bumi dan hasil laut serta memperluas kesempatan ekonomi.

Cara pandang itu terlihat berulang dalam berbagai agenda Korem 151/Binaiya. Ia menerjemahkan pembangunan melalui sesuatu yang konkret: jembatan yang selesai, jalan yang terbuka, sawah yang dikembangkan, rumah warga yang diperbaiki, air yang tersedia, sekolah yang dapat digunakan dan masyarakat yang memperoleh manfaat.

Pola tersebut terlihat dalam pelaksanaan TMMD ke-127 di Kepulauan Aru. Berbagai program yang direncanakan dinyatakan selesai, tidak hanya berupa pembangunan fisik, tetapi juga rumah tidak layak huni, MCK, sumur bor, tandon air, penyuluhan, pengobatan massal hingga bantuan kepada masyarakat. Bagi Raffles, TMMD bukan sekedar program pembangunan dengan awal dan akhir, melainkan ruang perjumpaan antara prajurit dan rakyat.

Prajurit datang ke desa, bekerja bersama warga, memahami persoalan masyarakat dan meninggalkan hasil yang dapat digunakan setelah program berakhir. Pola serupa terlihat dalam TMMD ke-128 di Maluku Barat Daya. Program Kodim 1511/Pulau Moa bahkan menghasilkan sejumlah capaian di luar target awal, antara lain pembangunan kandang jepit ternak, satu unit rumah baru warga, rehabilitasi perpustakaan dan lapangan voli SD Negeri Moain serta bantuan pembangunan rumah ibadah.

Ukuran keberhasilan bagi Raffles bukan hanya berapa banyak pekerjaan yang selesai, tetapi sejauh mana keberadaan TNI benar-benar dirasakan masyarakat.

Pada April 2026, Raffles berada dalam agenda peletakan batu pertama pembangunan Jembatan Garuda di Desa Kaibobu, Seram Bagian Barat. Jembatan sepanjang 14 meter dengan lebar enam meter itu ditargetkan selesai dalam 30 hari melalui karya bakti yang melibatkan TNI dan masyarakat.

Beberapa bulan kemudian, hasilnya terlihat di Dusun Layuen, Desa Lumoly, Seram Bagian Barat. Jembatan Garuda di wilayah tersebut selesai dan diresmikan pada Agustus 2026 setelah dikerjakan dalam waktu 28 hari. Bagi masyarakat kepulauan, jembatan memiliki makna lebih besar daripada ukuran fisiknya.

Ia menjadi penghubung antarruang kehidupan, memperlancar mobilitas, membuka akses ekonomi dan mengurangi keterisolasian. Di titik itulah pembangunan infrastruktur bertemu dengan tugas kewilayahan TNI.

Kehadiran Raffles juga terlihat dalam berbagai agenda yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Pada Juli 2026, Korem 151/Binaiya ikut menyalurkan 3.000 paket sembako bantuan Presiden Prabowo Subianto kepada masyarakat Kepulauan Tanimbar, khususnya warga di sekitar kawasan Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Blok Masela. Raffles hadir langsung dalam penyaluran bantuan tersebut.

Pada sektor ketahanan wilayah, ia dipercaya sebagai koordinator umum program Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat 2026 di jajaran Kodam XV/Pattimura. Program itu berlangsung di 121 titik di Provinsi Maluku dengan sasaran pembangunan jembatan, rehabilitasi sekolah dan rumah ibadah, perbaikan irigasi, renovasi rumah tidak layak huni, pembangunan MCK, pengobatan massal, penyuluhan hingga bakti sosial.

Skala kegiatan itu menunjukkan bahwa tugas seorang Danrem bukan hanya mengendalikan satuan secara administratif, tetapi juga mengorkestrasi kerja kewilayahan yang melibatkan TNI, pemerintah daerah, lembaga negara dan masyarakat. Pada akhir Agustus 2026, rangkaian Karya Bakti tersebut ditutup di Kabupaten Buru. Raffles kembali turun ke lapangan bersama Pangdam XV/Pattimura untuk meninjau sejumlah hasil kegiatan, termasuk sumur bor, rumah tidak layak huni dan fasilitas MCK.

Baca Juga :  Kesederhanaan di Balik Nama Besar, Pelajaran Hidup dari Barnabas N. Orno

Di sisi tata kelola, kepemimpinan Raffles juga menempatkan pengawasan dan akuntabilitas sebagai bagian penting. Pada Maret 2026, Kepala Perwakilan BPKP Maluku datang ke Makorem 151/Binaiya untuk memperkuat koordinasi pengawasan dan akuntabilitas program pembangunan.

Jenderal Raffles menyatakan Korem terbuka untuk berkolaborasi agar program pembangunan berlangsung aman, tertib dan sesuai aturan. Baginya, keberhasilan sebuah program bukan hanya diukur dari seberapa cepat pekerjaan selesai, tetapi bagaimana prosesnya dikawal agar tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pengalaman panjang di berbagai satuan dan jabatan menjadi bagian penting dari cara Raffles memimpin. Ia tumbuh melalui pengalaman komando, intelijen, kewilayahan, pendidikan, perencanaan dan staf strategis TNI AD. Ketika memasuki ruang komando Korem 151/Binaiya, pengalaman tersebut bertemu dengan karakter Maluku yang membutuhkan kemampuan membaca persoalan secara utuh.

Keamanan dapat bersinggungan dengan persoalan sosial, infrastruktur berkaitan dengan mobilitas masyarakat, ketahanan pangan berhubungan dengan ekonomi, sementara hubungan TNI dengan rakyat menjadi bagian dari kekuatan kewilayahan itu sendiri. Raffles tampaknya membaca seluruh persoalan tersebut dalam satu kerangka.

Karena itu, ia bisa berada di lokasi pembangunan jembatan, kemudian meninjau cetak sawah, melihat program ketahanan pangan, memeriksa hasil karya bakti, bertemu pemerintah daerah hingga berbicara langsung dengan masyarakat.

Bukan karena seorang komandan harus berada di setiap tempat, tetapi karena seorang komandan perlu mengetahui wilayah yang dipimpinnya bukan hanya melalui laporan. Ia perlu melihat tanahnya, menyusuri jalannya, menyeberangi lautnya, mendengar masyarakatnya dan melihat sendiri bagaimana prajuritnya bekerja.

Di tengah lanskap Maluku yang terdiri atas pulau-pulau, pendekatan semacam itu menjadi penting. Jarak geografis tidak boleh berubah menjadi jarak antara negara dan masyarakat. Raffles tampaknya memahami bahwa seorang Danrem bukan hanya pemegang tongkat komando, tetapi juga wajah institusi TNI di wilayah.

Karena itu, komando tidak boleh berhenti sebagai instruksi. Komando harus turun menjadi kerja, kerja harus menghasilkan manfaat, dan manfaat harus kembali kepada rakyat.

Di situlah sosok Brigjen TNI Raffles Manurung menemukan karakternya. Ia bukan perwira tinggi yang selalu membutuhkan sorotan untuk menunjukkan kepemimpinannya. Justru dalam kesenyapan kerja di lapangan, jejak kepemimpinannya terlihat: pada jembatan yang selesai dibangun, rumah warga yang kembali layak dihuni, sumur yang mengalirkan air, sawah yang dikembangkan, sekolah dan fasilitas umum yang diperbaiki, bantuan yang sampai kepada masyarakat serta prajurit yang bekerja berdampingan dengan rakyat.

Seorang jenderal tidak selalu harus hadir dengan suara keras untuk menunjukkan kewibawaannya. Wibawa dapat lahir dari ketenangan seorang pemimpin ketika menjalankan tugas, keteguhan ketika berada di lapangan dan hasil yang dapat dilihat masyarakat. Raffles memilih jalur itu. Tongkat komando yang diterimanya pada Agustus 2025 tidak dibiarkannya menjadi simbol yang hanya tersimpan di ruang komando.

Tongkat itu seperti dibawanya keluar dari markas, ke jalan-jalan desa, ke jembatan yang sedang dibangun, ke hamparan sawah, ke pulau-pulau yang jauh dari pusat pemerintahan, ke rumah-rumah masyarakat dan ke tengah rakyat.

Di sana, karakter Brigjen TNI Raffles Manurung sebagai Danrem 151/Binaiya menemukan bentuknya: seorang perwira tinggi yang memimpin dengan ketenangan, bekerja dengan disiplin, hadir tanpa banyak suara, tetapi meninggalkan dampak.

Jenderal Senyap, Berdampak!.

  • Ditulis oleh : Muhammad Fahrul Kaisuku | Jurnalis, Penggiat Literasi di Maluku

Follow WhatsApp Channel trendingmaluku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Tongkat Komando ke Tengah Rakyat, Cara Jenderal Raffles Manurung Pimpin Korem Binaiya
Karim Souwakil, Bonu: Dari Jalan Aktivisme ke Panggung Musik, Menjaga Api Perjuangan Lewat Karya
Menakhodai Perubahan dengan Kerendahan Hati dan Kepedulian
Mengenal Jafar Sidik, Akademisi Muhammadiyah yang Kini Nahkodai Dinas Pendidikan Kabupaten SBB
Hewan Qurban dan Beras untuk Pondok, RBS: Doakan Kita, Doakan Negeri Ini
Gelar Doktor di Usia Muda, Ruswan Latuconsina Jadi Inspirasi Generasi Maluku
Jejak Dr. Achmad Jais Ely, Dari Pengabdian Kementerian Menuju Penguatan Transformasi Maluku
Koko Pietersz, Pahlawan Persebaya Asal Maluku: Ubah Nasib Lewat Gol-Gol Penentu

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:05 WIT

JENDERAL SENYAP, BERDAMPAK

Minggu, 6 September 2026 - 05:20 WIT

Dari Tongkat Komando ke Tengah Rakyat, Cara Jenderal Raffles Manurung Pimpin Korem Binaiya

Jumat, 14 Agustus 2026 - 02:49 WIT

Karim Souwakil, Bonu: Dari Jalan Aktivisme ke Panggung Musik, Menjaga Api Perjuangan Lewat Karya

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 00:14 WIT

Menakhodai Perubahan dengan Kerendahan Hati dan Kepedulian

Jumat, 31 Juli 2026 - 02:29 WIT

Mengenal Jafar Sidik, Akademisi Muhammadiyah yang Kini Nahkodai Dinas Pendidikan Kabupaten SBB

Berita Terbaru

Trend Kesehatan

Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT

Senin, 2 Nov 2026 - 08:21 WIT