Ambon, Maluku—Ngobrol Pintar (NGOPI) kembali digelar di pelataran Fakultas Sosial dan Keagamaan (FISK) IAKN Ambon pada Jumat (14/11), dengan fokus pembahasan mengenai “Kebebasan Akademik dan Tantangannya dalam Rezim Birokratisme”. Forum rutin mingguan ini dibuka oleh Wakil Dekan I FISK IAKN Ambon, Dr. Sipora B. Warella dan menghadirkan tiga narasumber, Dr. Saidin Ernas akademisi UIN AMSA Ambon, Dr. Handry Piris akademisi IAKN Ambon, serta Ketua DPMF FISK, Nus Oktavianus Siahaya.
Sebagai narasumber tamu utama, Dr. Saidin Ernas memaparkan secara komprehensif dinamika kebebasan akademik yang menurutnya semakin melemah akibat dominasi birokrasi di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam materi berjudul “Birokrasi Negara dan Kebebasan Akademik: Antara Intelektualisme dan Banalisasi”, ia menyampaikan bahwa kampus idealnya menjadi ruang tumbuhnya nalar kritis, kebebasan berpikir, serta keberanian ilmiah dalam menguji gagasan. Namun dalam kenyataan, ruang tersebut semakin menyempit akibat pengaruh kuat mekanisme birokrasi negara yang mengatur secara ketat aktivitas akademik.
Ia menilai kooptasi negara telah mendorong perguruan tinggi untuk bergerak mengikuti logika administratif, bukan logika ilmiah.
Hal itu menurut nalar kritisnya, tampak dalam penilaian kinerja dosen yang serba kuantitatif, standar publikasi yang menekankan skor dan pemenuhan syarat administratif, hingga tata kelola organisasi kemahasiswaan yang semakin diatur.
Menurutnya, dominasi indikator administratif menyebabkan kampus kehilangan jati diri sebagai pusat produksi pengetahuan.
“Kampus kehilangan wataknya sebagai pusat produksi pengetahuan ketika indikator administratif menjadi lebih dominan daripada nilai-nilai ilmiah,” ujar Dr. Saidin dalam pemaparannya.
Ia menyebut gejala tersebut sebagai banalisasi intelektual, yakni kondisi ketika aktivitas akademik menjadi rutin dan dangkal karena terjebak pada tuntutan birokrasi.
Dosen, katanya, lebih disibukkan dengan akreditasi, laporan kinerja, dan publikasi instan, sementara mahasiswa menghadapi pembelajaran yang minim ruang eksplorasi gagasan.
Dr. Saidin juga mengkritisi maraknya industri publikasi dan tingkatan kompetensi yang menempatkan kuantitas dokumen sebagai ukuran utama kualitas akademik.
“Ini adalah gejala hilangnya roh akademik, ketika ilmu diatur bukan oleh kebenaran, tetapi oleh sistem,” tegasnya.
Ia kemudian menguraikan perubahan historis posisi intelektual, dari masa ketika pemikir berdiri independen mengkritik kekuasaan, hingga kondisi saat ini ketika banyak akademisi justru terintegrasi dalam struktur birokrasi, sehingga melemahkan figur kepemimpinan intelektual.
Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga problem utama yang dihadapi kampus saat ini, yaitu ruang akademik yang semakin diawasi, organisasi mahasiswa yang semakin diatur, dan produksi pengetahuan yang tunduk pada logika administratif.
Ketiga faktor tersebut, menurutnya, menyebabkan kampus kehilangan daya kritis dan tidak lagi berfungsi sebagai kekuatan moral bagi masyarakat.
Sebagai jalan keluar, ia mendorong penguatan etos intelektual melalui literasi yang serius, budaya dialog, serta keberanian mempertahankan independensi akademik.
Peneliti aktif di FKPT Maluku itu menekankan perlunya kemandirian kampus serta penguatan peran dosen sebagai penjaga nilai ilmiah, sementara mahasiswa didorong untuk membangun kesadaran kritis.
“Kampus hanya bisa menjadi pusat peradaban bila ia bebas. Tanpa kebebasan akademik, tidak ada intelektualisme sejati,” kata Dr. Saidin menutup materinya.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan dialog terbuka yang menyentuh pengalaman mahasiswa mengenai proseduralisme kampus serta tantangan mempertahankan ruang akademik yang terbuka.
Sementara Wakil Dekan I FISK IAKN Ambon, Dr. Sipora B. Warella, kepada media menegaskan, NGOPI merupakan agenda mingguan yang dirancang untuk membangun iklim akademik yang sehat melalui pelibatan mahasiswa dan dosen dalam dialog kritis.
Menurutnya, setiap tema NGOPI dipilih berdasarkan kebutuhan masyarakat, kebutuhan akademik, serta isu-isu sosial yang relevan.
Ia menyebut forum ini sebagai ruang bagi mahasiswa untuk melatih keberanian berpendapat secara bertanggung jawab, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
Dr. Sipora memberikan apresiasi kepada Dr. Saidin Ernas atas kehadirannya yang dinilai membuka cakrawala berpikir mahasiswa, sekaligus berterima kasih kepada puluhan mahasiswa UIN AMSA yang ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa hubungan antara IAKN Ambon dan UIN AMSA adalah hubungan “gandong” yang akan terus diperkuat melalui kegiatan-kegiatan ilmiah seperti NGOPI.
“Kita IAKN Ambon dan UIN Amsa Ambon ini kan gandong. Sangat luar biasa, kita akan terus memperkuat hubungan orang sudara ini dalam ruang-ruang ilmiah seperti kegiatan hari ini,” pungkasnya.***






































































Discussion about this post