Ambon, Maluku– Musyawarah KOHATI HMI Cabang Ambon ke-XXXIV menjadi momentum penting bagi arah perjuangan organisasi perempuan Islam tersebut di tengah tantangan era post-truth yang ditandai krisis kepercayaan publik, banjir informasi, serta kaburnya batas antara fakta dan opini.
Musyawarah ini tidak hanya dimaknai sebagai agenda rutin organisasi, tetapi juga ruang penentuan relevansi dan peran KOHATI dalam menjawab persoalan zaman.
Dalam konteks tersebut, Nadra Tehuayo secara resmi mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Ambon dengan mengusung tagline KOHATI Solutif. Pencalonan ini dipandang sebagai ikhtiar ideologis untuk mengembalikan KOHATI pada khittah perjuangannya sebagai organisasi kader perempuan Islam yang kritis, berdaya, dan bermartabat.
Nadra menilai era post-truth menghadirkan tantangan serius bagi gerakan intelektual dan moral, di mana kebenaran kerap dikalahkan oleh emosi, popularitas, dan kekuatan narasi. Kondisi tersebut berpotensi menjadikan perempuan, termasuk kader KOHATI, sebagai objek disinformasi dan manipulasi opini apabila tidak dibekali dengan daya kritis yang kuat.
Melalui visi menjadikan KOHATI Cabang Ambon sebagai episentrum intelektual-profetik yang mandiri dan progresif, Nadra menegaskan pentingnya integrasi antara nalar kritis dan nilai moral.
Menurutnya, KOHATI tidak boleh terjebak pada pemisahan antara intelektualitas dan etika keislaman, melainkan harus mampu menghadirkan keduanya secara beriringan dalam praksis organisasi.
Ia juga menyoroti kondisi kaderisasi yang dinilai cenderung pragmatis dan seremonial, sehingga berisiko melemahkan tradisi berpikir ilmiah dan kesadaran sosial kader.
Situasi tersebut dinilai membuat kader mudah terpengaruh arus opini dan kurang responsif terhadap isu-isu strategis perempuan dan kebangsaan.
Sebagai respons, Nadra mengusung misi Restorasi Marwah Jati Diri KOHATI melalui Jihad Literasi. Literasi dimaknai sebagai upaya membangun kesadaran kritis, metodologi berpikir ilmiah, serta keberanian intelektual kader, bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis.
Melalui pendekatan ini, KOHATI diharapkan mampu melahirkan kader perempuan yang tidak hanya aktif secara struktural, tetapi juga matang secara epistemologis.
Sejumlah komisariat diketahui telah memberikan rekomendasi dukungan terhadap pencalonan Nadra Tehuayo. Dukungan tersebut mencerminkan harapan kader terhadap perubahan arah kepemimpinan KOHATI Cabang Ambon yang lebih substantif dan berorientasi pada penguatan intelektual serta kemandirian organisasi.
Meski demikian, Musyawarah KOHATI ke-XXXIV diharapkan tidak direduksi menjadi arena perebutan posisi semata. Musyawarah dipandang sebagai ruang dialektika tertinggi organisasi untuk menguji gagasan, mempertaruhkan nilai, dan menentukan arah sejarah KOHATI ke depan.
Pada akhirnya, dinamika Musyawarah ke-XXXIV diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya cakap mengelola struktur, tetapi juga mampu merawat tradisi intelektual, menjaga marwah organisasi, serta memperkuat peran perempuan di tengah tantangan zaman.
Keberhasilan KOHATI dinilai tidak semata ditentukan oleh figur terpilih, melainkan oleh konsistensi organisasi dalam melahirkan kader perempuan yang berpikir jernih, bersikap berani, dan bertindak solutif.***






































































Discussion about this post