Ambon, Maluku— Kepedulian terhadap warga terdampak konflik di Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), diwujudkan melalui aksi nyata.
Managemen Kafe Ujung Jembatan Merah Putih (JMP) Ambon mendonasikan 1 ton beras melalui Forum Peduli Seram Bagian Barat (SBB) untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang terdampak.
Bantuan tersebut secara langsung diserahkan oleh Manager Kafe Ujung JMP, Aan Bin Umar, Senin (14/09).
Sebelumnya penegasan bantuan itu disampaikan dalam rangkaian pertemuan Forum Peduli SBB yang mempertemukan puluhan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, akademisi serta perwakilan masyarakat Lisabata dan Patahuwe di Ambon, Minggu (13/9/2026) malam.
Kafe Ujung JMP tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertemuan, tetapi juga mengambil bagian langsung dalam gerakan kemanusiaan tersebut dengan menyediakan bantuan pangan bagi warga yang saat ini menghadapi kesulitan akibat situasi konflik.
Donasi 1 ton beras itu diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, sekaligus menjadi bentuk solidaritas dari masyarakat Kota Ambon dan para pelaku usaha terhadap saudara-saudara mereka di SBB.
Pertemuan Forum Peduli SBB sendiri tidak hanya membahas situasi kemanusiaan pascakonflik antara warga Negeri Lisabata dan Patahuwe.
Forum tersebut juga menjadi ruang untuk menghimpun informasi mengenai kebutuhan mendesak masyarakat di lokasi terdampak sekaligus merumuskan langkah-langkah kemanusiaan dan perdamaian.
Tokoh masyarakat sekaligus inisiator pertemuan, Levinus Kariuw, sebelumnya mendorong para tokoh SBB yang berada di Ambon untuk bersama-sama mengambil bagian dalam membantu masyarakat terdampak.
Menurutnya, solidaritas sesama anak SBB perlu diwujudkan melalui aksi sosial dan dukungan moril kepada warga yang sedang menghadapi situasi sulit.
Aksi Kafe Ujung JMP menjadi salah satu bentuk konkret dari semangat tersebut. Bantuan pangan tidak sekadar dipandang sebagai donasi, tetapi sebagai bentuk kepedulian untuk memastikan masyarakat yang terdampak tetap mendapatkan perhatian di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Selain bantuan pangan, Forum Peduli SBB juga mendorong adanya perhatian terhadap pemulihan korban serta kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak.
Rektor UIN Ambon, Prof. Dr. Abidin Wakano, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menegaskan pentingnya menghentikan kekerasan dan membangun kembali kehidupan sosial masyarakat.
“Mari kita baku keku sama-sama untuk baku bantu basudara pung susah di sana,” ajaknya.
Abidin mengatakan, masyarakat yang menjadi korban harus mendapatkan perlindungan dan rasa aman. Menurut dia, aparat negara perlu hadir untuk menjaga masyarakat, sementara pemerintah harus mengambil bagian dalam proses pemulihan dan pembangunan perdamaian.
“Yang kedua, aparat negara harus ke sana untuk menjaga masyarakat, memberikan rasa aman. Kemudian membangun perdamaian, rekonstruksi sosial masyarakat yang menjadi korban,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial.
“Setelah ini mari kita bicarakan akar-akar masalah yang terjadi di SBB. Kemudian penegakan hukum harus segera berproses, dan kita berharap tidak ada yang terprovokasi,” katanya.
Forum Peduli SBB juga menyerukan agar persoalan Lisabata-Patahuwe tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas, terlebih ditarik ke dalam isu agama.
Para tokoh yang tergabung dalam forum tersebut mendorong penghentian provokasi, penegakan hukum secara tuntas, kehadiran aparat untuk memberikan rasa aman serta keterlibatan pemerintah dalam pemulihan masyarakat terdampak.
Di tengah upaya tersebut, donasi 1 ton beras dari Kafe Ujung JMP yang diserahkan langsung oleh Manager Aan Bin Umar melalui Forum Peduli SBB menjadi bentuk nyata solidaritas kemanusiaan.
Keberadaan Kafe Ujung JMP sebagai titik kegiatan Forum Peduli SBB juga memperlihatkan bahwa gerakan kemanusiaan dapat tumbuh dari berbagai elemen masyarakat, termasuk dunia usaha.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus menjadi pesan bahwa masyarakat SBB di Ambon tidak tinggal diam melihat kondisi saudara mereka yang terdampak konflik di Taniwel.***








































































Discussion about this post