– Perkuat Tradisi Adat untuk Pulihkan Laut dan Kesejahteraan Nelayan
Ambon, Maluku — Masyarakat pesisir Desa Kaibobu menggelar upacara Buka Sasi, menandai dibukanya kembali area tangkap perikanan tradisional setelah masa penutupan. Penerapan Sasi menegaskan hak adat masyarakat dalam mengelola wilayah pesisir, memulihkan stok ikan, dan mendukung pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan.
Buka Sasi ini berlangsung di Pantai Kaibobu, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, dengan prosesi adat, pertunjukan seni budaya, dan pembacaan tanda buka oleh para tetua adat. Selain masyarakat setempat, acara turut dihadiri Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten SBB, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Upacara Buka Sasi berlangsung sakral, yang dipimpin oleh para Tua Adat Desa Kaibobu. Turut meresmikan acara ini adalah Wakil Bupati Seram Bagian Barat, Stefanus Kainama. Dia mengatakan, melalui pelaksanaan Sasi masyarakat menerapkan prinsip-prinsip konservasi. Dalam konteks pembangunan daerah, praktik Sasi memiliki relevansi yang kuat dengan arah kebijakan pembangunan bekelanjutan, khususnya pada dimensi ekologi dan sosial budaya.
“Kelestarian Sasi tidak hanya berfungsi sebagai menkanisme adat untuk menjaga ekosistem laut, tetapi juga sebagai instrumen sosial dalam memperkuat kohesi masyarakat, membangun solidaritas dan lain-lain,” ujar Kainama.
Dia berharap, Buka Sasi dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat Kaibobu dan sekaligus melestarikan alam laut demi generasi mendatang.
Kegiatan adat ini menjadi momentum penting bagi warga Kaibobu untuk menegaskan kembali kewenangan mereka dalam menjaga sumber daya alam berdasarkan nilai kearifan lokal. Sasi adalah salah satu tradisi Maluku yang menetapkan periode larangan pemanfaatan sumber daya laut maupun darat, memberi kesempatan ekosistem pulih sebelum dimanfaatkan kembali.
Kepala Desa Kaibobu, Alex Uhuwael, berharap upacara Buka Sasi kali ini dapat memperkuat kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, dan pihak pendukung untuk mengelola sumber daya perikanan di desanya.
“Sasi bukan sekadar tradisi, tetapi sistem pengelolaan sumber daya yang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Kami juga ingin para generasi muda memahami, menghargai, dan melestarikannya,” ujarnya.
Pengelolaan Perikanan Berbasis Komunitas
Sasi di Kaibobu mulai berlaku akhir 2023 dan berlangsung selama dua tahun, mencakup area Hatupokor, Sartetu, Lahkana, Sandrahuhi, dan Motiela dengan total luas mencapai 823,82 hektare. Revitalisasi praktik Sasi difasilitasi Yayasan SAHARI dan Blue Ventures, mendukung penguatan pengelolaan perikanan skala kecil berbasis masyarakat.
Sejak 2023, masyarakat nelayan Kaibobu telah melakukan pendataan perikanan secara mandiri. Selama periode penutupan Sasi, total tangkapan nelayan tradisional mencapai lebih dari 19 ton, terdiri dari lebih dari 100 spesies ikan bernilai ekonomi tinggi.
Pendapatan nelayan sebelum pembukaan Sasi tercatat sekitar 330 juta rupiah selama hampir dua tahun. Dengan dibukanya Sasi, masyarakat berharap nilai tangkapan dan pendapatan dapat meningkat seiring pulihnya stok ikan dan semakin terkelolanya sumber daya perikanan.
Sejak 2023, Yayasan SAHARI bersama Blue Ventures mendampingi nelayan di Kaibobu melalui penguatan kelembagaan adat dan pengelolaan perikanan berbasis komunitas. Dukungan ini turut mencakup penyusunan dan revitalisasi aturan adat Sasi, pelatihan pemantauan sumber daya laut, penguatan kapasitas perempuan dan pemuda, serta dukungan teknis dan logistik.
Sasi Menjaga Laut Dunia
Menjelang puncak upacara Buka Sasi, anak-anak Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil Kaibobu mengikuti kegiatan menggambar dan mewarnai yang mengangkat kisah Sasi dan pesan menjaga laut. Selain itu, Yayasan SAHARI juga memperkenalkan masyarakat pada pengolahan pangan laut bergizi, mengajak mereka membersihkan pesisir pantai, serta menyelenggarakan pameran foto dan pemutaran film edukatif dari Blue Ventures.
“Kami berharap melalui Buka Sasi, masyarakat semakin menyadari nilai penting tradisi dalam menjaga laut dan sumber daya alam. Sasi bukan sekadar simbol adat, tetapi sistem pengelolaan lingkungan yang bijak dan berkelanjutan,” jelas Petrus Wairissal, Ketua Yayasan SAHARI.
Rangkaian kegiatan ini memperkuat pemahaman pranata adat sekaligus membangun rasa memiliki terhadap tradisi dan lingkungan pesisir. Dengan pendekatan partisipatif, masyarakat pesisir, termasuk generasi muda dan perempuan, didorong melihat Sasi sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar ritual.
Momentum Buka Sasi di Desa Kaibobu tahun ini sekaligus menjadi peringatan nyata atas Hari Perikanan Sedunia pada 21 November. Tradisi adat yang menjaga kelestarian sumber daya laut ini mencerminkan nilai-nilai yang sama dengan tema global, yakni keberlanjutan, pengelolaan bijak, dan kesejahteraan komunitas pesisir.
Untuk mendorong proses buka Sasi, SAHARI juga menggelar sejumlah kegiatan di masyarakat, seperti menggambar dan mewarnai bersama anak-anak Sekola Minggu Tunas Pekabaran Injil (SMTPI), Latihan Pengolahan Makanan Laut Bergizi bersama Perempuan Kaibobu, Nonton Film Dokumenter Blue Ventures, dan Pameran Foto.
Yayasan SAHARI
Yayasan Nusa Bahari Lestari (SAHARI) merupakan lembaga pemberdayaan yang berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil di Maluku. Sejak berdiri pada 19 Agustus 2024, SAHARI melanjutkan pengalaman lebih dari 30 tahun LPPM-Maluku dalam pembangunan masyarakat. SAHARI mendukung masyarakat adat agar dapat berdaulat, inklusif, berdaya, dan berkelanjutan melalui penguatan kelembagaan, kemandirian ekonomi, dan model pengelolaan sumber daya alam yang adil, sambil menumbuhkan semangat gotong royong untuk menjaga laut demi masa depan bersama.
Bagi SAHARI, masyarakat lokal adalah penjaga utama ekosistem laut sekaligus pewaris kearifan tradisional seperti Sasi, praktik adat yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Tradisi tersebut kini menghadapi tantangan akibat perubahan zaman, dan SAHARI berkomitmen untuk menghidupkan kembali nilai-nilai lokal serta memperkuat kelembagaan adat agar tetap relevan di era modern.
Berbasis di Desa Nuruwe, Kecamatan Kairatu Barat, SAHARI didukung tim multidisiplin yang merupakan anak daerah dan sangat mengenal wilayah serta karakteristik masyarakat Maluku. Lembaga ini beroperasi di berbagai wilayah Maluku, termasuk Seram, Buru, Banda, Lease, Aru, Kei, dan Ambon. (**)








































































Discussion about this post