TANIMBAR, TRENDING-MALUKU.COM, – Ada pengalaman yang tidak mudah dijelaskan hanya dengan kata-kata. Salah satunya adalah ketika saya kembali ke kampung dan berdiri di Pusat Kampung, di tengah para Mela, para tua-tua adat yang dalam kehidupan adat menjadi tempat seorang anak mengenal akar, identitas, dan asal-usulnya.
Saya datang ke sana sebagai seorang biarawati. Saya datang dengan pakaian biara, dengan panggilan dan perutusan yang Tuhan percayakan kepada saya. Tetapi di tengah Pusat Kampung, saya kembali menyadari bahwa sebelum saya menjadi seorang biarawati, saya adalah seorang anak adat.
Saya adalah Anak yang Lahir Dari Rahim Mereka
Dalam tarian penyambutan, saya diterima sebagai “Lamdit Mela” anak perempuan dari Mela. Sebutan itu bagi saya bukan sekadar ungkapan dalam sebuah ritual adat.
Di dalamnya ada kasih, penerimaan, penghormatan, dan sebuah penegasan bahwa sejauh apa pun saya pergi dan sebesar apa pun tanggung jawab yang saya emban, saya tetap memiliki akar tempat saya berasal.
Saat para Mela mendoakan dan menerima saya di tengah kampung, hati saya tersentuh. Saya merasa seperti seorang anak yang kembali kepada rahimnya.
Saya kembali bukan untuk tinggal di masa lalu, tetapi untuk menerima kembali kekuatan dari akar sebelum melanjutkan perjalanan hidup dan panggilan.
Saya datang sebagai seorang biarawati, tetapi saya diterima sebagai seorang anak.
Saya datang membawa tugas dan tanggung jawab, tetapi saya pulang membawa berkat.
Saya datang untuk mengunjungi kampung, tetapi justru kampung mengingatkan saya kembali siapa saya dan dari mana saya berasal.
Pengalaman ini semakin menyadarkan saya bahwa panggilan kepada Tuhan tidak pernah menghapus akar kehidupan seseorang. Sebaliknya, panggilan Tuhan mengajarkan kita untuk menghargai akar itu, memurnikannya dalam iman, dan membawanya menjadi kekuatan untuk melayani.
Sebagai anak adat, saya belajar bahwa akar memberi identitas. Tetapi akar tidak pernah dimaksudkan untuk menahan kita agar tidak bertumbuh. Akar justru membuat kita kuat untuk berdiri, bertumbuh, dan menghasilkan buah.
Di sinilah pengalaman saya sebagai Lamdit Mela menemukan makna yang indah dalam perjalanan Tarekat Maria Mediatrix menuju Yubileum 100 tahun dengan tema:
Berakar Dalam Kristus, Berbuah Bagi Dunia
Saya boleh berakar pada tanah kelahiran dan budaya yang membentuk saya, tetapi akar terdalam hidup saya adalah Kristus. Dari Kristus saya menerima kekuatan untuk bertumbuh. Dan dari pertumbuhan itu saya dipanggil untuk berbuah bagi Gereja, bagi masyarakat, dan bagi dunia.
Karena itu, pengalaman diterima sebagai Lamdit Mela menjadi sebuah pesan rohani yang sangat pribadi bagi saya:
Jangan pernah melupakan akar dari mana Tuhan menumbuhkan kita. Jangan pernah malu dengan asal-usul kita. Dan jangan pernah menyimpan sendiri buah dari rahmat yang Tuhan berikan kepada kita.
Ketika para Mela menerima saya, saya seakan mendengar pesan yang tidak terucapkan:
“Engkau adalah anak kami. Pergilah dan teruslah melayani. Bawalah nilai-nilai yang kami wariskan. Jangan lupakan kampung dan akar kehidupanmu. Dan jadilah berkat bagi banyak orang.”
Pesan itu akan selalu saya bawa dalam perjalanan panggilan saya.
Sebab semakin jauh seseorang berjalan, semakin penting ia mengetahui dari mana ia berasal. Dan semakin besar tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya, semakin ia dipanggil untuk tetap rendah hati.
Saya adalah Lamdit Mela.
Saya adalah anak adat.
Saya adalah seorang biarawati yang dipanggil Tuhan.
Dari tanah adat saya bertumbuh,
dalam Kristus saya berakar,
dan melalui hidup saya, saya dipanggil untuk berbuah bagi dunia.
Semoga pengalaman sebagai Lamdit Mela ini senantiasa menjadi pengingat bagi saya untuk tetap rendah hati, tidak melupakan akar kehidupan, dan selalu mensyukuri setiap rahmat yang Tuhan titipkan melalui keluarga, adat, kampung, dan perjalanan panggilan hidup.
Ke mana pun kaki melangkah, sejauh apa pun perjalanan ditempuh, ada satu tempat yang selalu mengingatkan kita siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Dan bagi saya, Pusat Kampung adalah salah satu tempat itu, tempat di mana saya kembali diterima sebagai anak, didoakan sebagai anak, dan diteguhkan untuk melanjutkan perjalanan sebagai seorang biarawati.
Kiranya Tuhan senantiasa memberkati para Mela, keluarga, kampung, dan seluruh masyarakat yang telah menerima saya dengan penuh kasih. Semoga doa dan berkat yang saya terima di tengah kampung menjadi kekuatan bagi saya untuk terus setia melayani Tuhan dan sesama.
Salam kasih dari seorang Lamdit Mela,
anak adat yang tetap membawa akar kampungnya,
biarawati yang berakar dalam Kristus,
dan dipanggil untuk berbuah bagi dunia.
Tuhan memberkati kita semua.
Shalom.
Dengan kasih dan doa,
Sr. Epivany Ongirwalu, TMM








































































Discussion about this post