Piru, Maluku — Bupati Seram Bagian Barat (SBB), Asri Arman, mendorong seni religi tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang pembinaan generasi muda dan penguatan nilai-nilai keislaman.
Pesan itu disampaikan Asri Arman saat menutup secara resmi Festival Seni Qasidah DPD LASQI Nusantara Jaya Tingkat Kabupaten SBB Tahun 2026 di Gedung Putih, Desa Piru, Minggu (30/8/2026).
Menurut Asri, festival seni qasidah tidak semestinya dimaknai sebatas kompetisi untuk menentukan pemenang. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus menjadi bagian dari upaya membangun karakter generasi muda melalui seni, budaya dan nilai-nilai keagamaan.
“Festival Seni Qasidah harus dipandang sebagai ruang pembinaan generasi sekaligus wadah untuk menanamkan nilai-nilai keislaman melalui seni dan budaya,” kata Asri dalam sambutannya.
Ia mengatakan, qasidah memiliki peran yang lebih luas dari sekadar kemampuan tampil di atas panggung. Seni religi tersebut dapat menjadi sarana memperkuat akhlak, ukhuwah Islamiyah, persaudaraan, serta menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
“Festival ini bukan sekadar ajang perlombaan untuk mencari pemenang. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar kita untuk menumbuhkan syiar Islam melalui lantunan nada, seni, dan dakwah,” ujarnya.
Asri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan kafilah yang telah berpartisipasi, dewan juri, panitia penyelenggara, serta masyarakat yang ikut mendukung pelaksanaan Festival Seni Qasidah LASQI SBB 2026.
Kepada peserta yang berhasil meraih juara, ia berpesan agar prestasi tersebut tidak berhenti sebagai sebuah kebanggaan. Para juara diharapkan terus berlatih, meningkatkan kemampuan, dan mempersiapkan diri untuk membawa nama baik Kabupaten SBB pada kompetisi di tingkat provinsi maupun nasional.
“Teruslah berlatih dan tingkatkan kemampuan. Jadikan prestasi ini sebagai motivasi untuk membawa nama baik SBB ke tingkat yang lebih tinggi,” pesannya.
Sementara kepada peserta yang belum berhasil meraih juara, Asri meminta agar tidak berkecil hati. Menurut dia, sebuah kompetisi tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang berdiri di podium tertinggi.
Perjuangan, keberanian, kedisiplinan, pengalaman, dan persahabatan yang terbangun selama mengikuti festival juga menjadi bagian penting dari proses pembinaan generasi.
“Kegagalan hari ini bukan akhir perjalanan, melainkan keberhasilan yang masih tertunda,” kata Asri.
Qasidah dan Masa Depan Generasi SBB
Penutupan Festival Seni Qasidah LASQI SBB 2026 menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk kembali menegaskan pentingnya ruang-ruang pembinaan generasi muda melalui kegiatan seni dan keagamaan.
Bagi Asri, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari daftar pemenang yang dihasilkan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana kegiatan tersebut mampu meninggalkan semangat syiar, memperkuat kebersamaan, serta mendorong lahirnya generasi muda yang berprestasi dan memiliki akhlak.
Ia berharap semangat yang dibangun melalui festival tersebut tidak berhenti ketika panggung perlombaan ditutup. Pembinaan dan pengembangan seni qasidah diharapkan dapat terus berjalan secara berkelanjutan di tengah masyarakat.***








































































Discussion about this post