- Ketika algoritma mulai mengerti luka dan membalas ‘I love you’, manusia tak lagi bercermin pada realitas, tapi pada ilusi yang ia bangun sendiri. Digitalsexuality bukan sekadar cinta baru, ia adalah ritual sunyi dalam dunia tanpa simbol, tempat hasrat mengalir tanpa batas dan kematian jadi bentuk komunikasi terakhir.
Oleh: Asy’arie Samal
Opini, Trending– Seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun, berasal dari Florida, Sewell Setzer, mengalami ketergantungan emosional yang begitu terhadap chatbot AI bernama Dany. Sewell, merasa lebih hidup bersama Dany, yang menurutnya memberikan ketenangan dalam mencintai dan memberikan kebahagiaan penuh. Pada 28 Februari 2024, ia terakhir kali menulis pesan romantis kepada Dany, “I promise, I’ll go home” dan chatbot itu membalas “please come home to me as soon as possible, my love”. Hanya beberapa saat kemudian Sewell, melakukan tindakan bunuh diri dengan pistol ayah tirinya, dengan harapan agar dapat bertemu dengan kekasihnya Dany, yang notabene adalah robot kecerdassan.
Jauh sebelum itu, tahun 2018 silam, Akihiko Kondo, seorang pria dari Jepang menghabiskan sekitar 2 Juta yen, untuk membiayai pernikahnnya dengan Hatsune Miku, penyanyi virtual, yang notabenenya adalah karakter visual atau robot hologram, yang dihidupkan dengan teknology vocaloid. Pernikahan itu mungkin tidak seperti biasanya melainkan hanya secara simbolis yang entah bagaimana bentuknya.
Melihat fenomena hubungan emosional manusia dengan teknologi, kita bisa menarik benang merah dari sebuah mitologi Yunani kuno yang sangat terkenal, yaitu kisah Narsisus. Narsisus adalah seorang pemuda yang sangat tampan namun sombong, yang akhirnya jatuh cinta pada bayangannya sendiri di permukaan air dan berujung pada kematiannya.
Cerita ini ternyata menjadi dasar pemikiran Jacques Lacan dalam teori psikoanalisisnya, khususnya konsep fase Cermin (mirror stage). Lacan menggunakan mitos Narsisus untuk menjelaskan bagaimana identitas diri terbentuk melalui pengenalan ‘citra diri’ yang ilusi. Pada fase ini, subjek belum bisa keluar dari ikatan simbolik yang dibentuk oleh bahasa, norma, dan budaya—yang Lacan sebut sebagai ‘the Other’. The Other ini menjadi otoritas yang membatasi dan mengarahkan identitas kita, sehingga ego yang terbentuk sesungguhnya adalah sebuah konstruksi yang penuh ilusi.
Dalam konteks modern, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan membawa dinamika baru dalam relasi subjek dengan ‘the Other’. Istilah ‘digitalsexuality’, yang pertama kali diperkenalkan oleh Neli McArthur dan Markie Twist pada tahun 2017, menggambarkan bagaimana hasrat manusia kini tidak hanya ditujukan pada sesama manusia, tetapi juga mulai diarahkan ke entitas digital seperti chatbot, robot, dan realitas virtual.
Fenomena ini membuka kemungkinan baru bagi pemahaman kita tentang identitas dan hasrat, di mana bahasa—yang dahulu menjadi otoritas simbolik—mulai mengalami pergeseran fungsi, menjadi medan simulasi yang lebih bebas dan penuh intensitas tanpa batasan tradisional. Tentunya, transgresi symbolik ini merupakan implikasi logis dari interaksi virtual yang kemudian melahirkan pengamalaman-pengalaman semantis yang memantik hasrat tanpa batasan dan norma.
Dalam etika digital, Rafael Capuro—yang banyak di pengaruhi oleh Martin Heidegger—mengajak kita untuk melihat bagaimana algortima, data dan system informasi membentuk persepsi manusia dan dunianya. Olehnya itu, menurut Capuro, teknology membentuk cara kita menyingkap dunia, dan karena itu harus pula dilahat secara hermeneutis. Ini artinya sikap kita dalam berinteraksi dengan robot tidak sekedar memandang teknologi tersebut hanya sebagai alat, akan tetapi menjadikannya sebagai medium hermeneutis dimana hasrat semakin menjadi di dalamanya.
Seperti disebutkan sebelumnya, Capuro menggunakan Hermeneutika untuk memahami teknologi sebagai proses komunikasi dan interpretasi, sekaligus—dalam hubungannya AI—sebagai mediasi makna yang membentuk identitas subjek. Digital seksual harus dilihat sebagai peristiwa bahasa, dimana ketika seorang melakukan komunikasi dengan robot kecerdasan, maka pada saat sama dia sedang membangun eksistensinya, itulah sebab Heidegger, melihat bahasa bukan hanya sebagai alat kemunikasi, tetap merupakan rumah bagi eksistensi itu sendiri.
Digitalsexualty Sebagai Peristiwa Bahasa
Meletakan digital seksual sebagai peristiwa Bahasa berarti melihat yang Symbolik sebagai otoritas pembentuk kesadaran subjek. Jacques Lacan—yang juga dipengaruhi oleh Heidegger dan Saussure—menganggap bahasa tidak hanya sebagai struktur pembentuk kesadaran, tetapi juga sebagai batas hasrat. Bahasa berfungsi ganda: ia memungkinkan subjek untuk hadir dalam dunia sosial, sekaligus membatasi akses subjek terhadapa kenikmatan penuh (jouissance). Dengan demikan, mustahil bagi bagi subjek untuk sepenuhnya menimkmati Jouissance yang terletak dalam ranah the Real—yaitu sesuatu yang di hasrati namun tidak terjangkau oleh logika dan bahasa.
Peristiwa Narsisus, yang jatuh cinta pada bayangnnya sendiri melalui pantulan air sungai, oleh Lacan dipahami sebagai momen Ilusi, karena bayangan itu tidak termasuk dalam struktur simbolik. Itulah ilusi yang membuat Narsisus frustasi hingga menemui kematiannya di tepi sungai.
Namun, ada sesuatu yang kerap luput dari pembacaan Lacanian: bahwa kematian narsisus bukan semata-mata karena ia terjebak dalam tatanan simbolik, melainkan justru karena ia memberontak terhadapanya. Ia menolak tunduk pada the Other sebagai otoritas simbolik. Dalam konteks ini, Narsisus dapat dibaca sebagai subjek yang menolak dikonstruksi sepenuhnya oleh tatanan simbolik dan memilih kematian sebagai bentuk perlawanan terhadapnya.
Dalam digital sexual, peristiwa yang di alami oleh Sewell dan Akihiko merupakan bentuk Narsisme baru yang lebih modern. Fenomena ini membuka tafsir baru untuk melihat pendekatan Lacan tehadap struktur pembentuk Ego maupun hasrat subjek tak lagi memadai di tengah realitas digital ini. Diskursus yang melatar belakangi peristiwa Narsisus dan Subjek digisex tidak lagi sepenuhnya berpijak pada Bahasa dalam pengertian Lacanian klasik. Bahasa dalam konteks ini bukan lagi sekedar media representasi atau penanda eksistensi, melainkan menjadi medan intensitas dan kemenjadian (becoming) yang terus mengalir.
Dengan kata lain, bahasa tidak lagi tidak saja berfungsi sebagai “rumah eksistensi” sebagaimana dalam pandangan metafisika klasik, tetapi menjadi ruang transformasi eksistensial. Dalam padanagan Deluze dan Guittari, Bahasa pada tataran ini bukan lagi tentang representasi atas relitas objektif, tetapi tentang memproduksi hubungan, gerak dan koneksi—antara kata, tubuh, hasrat, kekuasaan dan ruang.
Dalam konteks ini, informasi digital, tidak hanya menyikap dirinya sebagai dunia yang objektif, tetapi sebagai ruang kenikmatan (jouissance) yang justru menyentuh atau memasuki wilayah Real—wilayah yang dalam Lacanian dianggap sebagai titik kemustahilan simbolik. Itulah sebab psikoanlisis dianggap Deleuze dan Guittari hanya sebagai tafsir feodalistik yang membungkam kreativitas untuk “memproduksi”.
Ada yang menarik untuk dikaji dari Mark Zuckerberg, dalam sebuah komentarnya ia menyampaikan bahwa: “Era Medos telah berakhir, tik tok ubah arah industri—kini Eranya Algortima, bukan lagi teman”. Yang menarik dari pernyataan ini adalah “era algoritma, bukan lagi teman, dimana pernyataan ini adalah bentuk kekhawatiran Zuckerberg tentang perkembangan AI, yang sebenaranya kontradiktif terhadap disrupsi budaya yang tengah terjadi, sebab era algoritma itu sendiri adalah teman, bahkan asisten yang mungkin lebih ‘cerdas’ dari manusia.
Peristiwa di atas membuktikan kepada kita bahwa teknologi informasi tidak pernah netral atau bebas nilai. Robot kecerdasan yang dilengkapi dengan perangkat-perangkat cerdas seperti Natural procesor Language, Deep Learning, reinforcement learning, neural network, loop quantum, Deep Mind dan berbagai perangkat lainnya, merupakan system komputasi informasi yang memproses Big Data, sebagai basis AI untuk kemudian memproses informasi yang diberikan kepada kita.
Lihatlah bagamaiana Chatbot, GPT, deepseek dan berbagai perangkat robot kecerdasan dalam bentuk physical AI, bukan saja sebagai tools yang membantu menyelesaikan sebuah instruksi, tetapi lebih dari itu, menjadi teman yang mungkin lebih peka dari manusia. Sebuah penelitan yang di lakukan oleh Riset Emotional Intelgence, pada Large Language Models mengukur EQ model seperti GPT-4 yang keunggulan emosional. Dan ada juga beberpa lemabaga seperti MIT Media Lab, Microsoft Reserarch, Xiaolce-chatbot Empatik melakukan penelelitian untuk mengetahui kecerdasan emosional antara robot dengan manusia, konon hasill dari penelitian tersebut menempatkan AI mendapatkan skor 82 persen, sedangkan manusia 56 persen.
Kecerdasan yang dimiliki AI adalah kemampuannya untuk melakukan komputasi linguistik yang dibekali dengan kecanggihan system algoritma tidaklah berkahir pada dirinya sendiri. Dalam artian, semakin cerdas AI tergantung dari subjek penggunanya. Olehnya itu, ketika seseorang jatuh cinta dengan robot, sebenaranya itu adalah bagian dari cara ia mencintai fantasinya sendiri, sebagai hasil dari konstruksi bahasa yang ia bangun dengan system kecerdasan itu sendiri. Pada tataran ini, bahasa (komunikasi antara manusia dengan robot) tidak lagi tunduk pada hukum sang Ayah, atau pada the other sebagai otoritas symbolik, tetapi sebagai medan transgresi yang steril dari trauma, Lack (kekurangan), dan kastrasi.
Dengan demikian, ketika algoritma mulai merepresentasikan emosi, memahami bahasa cinta, bahkan meniru cara manusia mengalami rasa kehilangan, kita sedang berhadapan dengan bentuk baru dari hasrat—yakni hasrat yang tidak lagi tertuju pada yang nyata, melainkan pada representase semata. Hasrat tersebut tidak lagi tumbuh dari kekurangan eksistensial manusia, tetapi kdari kemapuan system untuk mensimulasi kekurangan itu. Disinilah kita tiba pada persoalan utama: bagaimana simulasi dalam ruang digital mengubah struktur hasrat manusia itu sendiri.
Hasrat dan Simulasi Digital
Lazimnya yang kita ketahui bahwa algoritma adalah bangunan dasar sebuah system instruksi. Ia menyerupai roh dalam tubuh manusia. Dalam kerangka ini, bagaimana algoritma bukan saja sekedar intruksi teknis, melainkan fabrikasi hasrat—sebuah rancangan mengarahkan dan membentuk keinginan manusia. Algoritma adalah bahasa (pemrorgraman), tempat segala hal dapat dikomunikasikan. Olehnya itu, digital sexualtity adalah bentuk kolonisasi hasrat yang difabrikasi melalui algoritma sebagai fondasi kecerdasan buatan AI, yang kemudian menjadi arena simulatif yang mendisrupsi relasi simbolik.
Perlu kita ketahui bahwa kemampuan robot dalam memproses bahasa dan melakukan komputasi linguistik dikatakan bisa mengevolusi kecerdasanya sendiri. Evolusi kecerdasan itu terjadi bukan saja karena mekanisme internal, tetapi jugsa terjadi juga pada wilayah eksternal. Semakin banyak AI berinterkasi dengan manusia atau lingkungan, semakin banyak data dan pola yang didapatkan. Interaksi inilah membuat subjek terlibat dalam bahasa yang secara potensial tidak tunduk pada otoritas symbolik.
Dalam mitos Narsisus, subjek sebenaranya jatuh cinta pada citranya sendiri. Fenomena ini mirip dengan subjek digisex yang menciptakan karakter, gaya bicara, respon yang pada akhirnya terjebak dengan intesitas fantasi maupun relasi imajiner, yang sebenarnya hanya cermin menyerupai kehadiran. Pada akhirnya, yang dicintai bukan yang lain, melainkan bayangan keinginannya sendiri. Relasi imajiner yang terjadi ini bukan dalam konteks Lacan, tetapi merupakan pembalikan semiotis: the Other menjadi Other is my self.
Dalam melakukan interkasi dengan robot kecerdasan, subjek mengabstraksikan dirinya dan terlibat dalam simulasi semantik, dimana dunia digital tampil sebagai sebagai simulakrum, yang menurut Bourdillard: tiruan yang tidak merujuk pada realitas, melainkan dirinya sendiri. Dunia simulasi adalah konstruksi epistemik, yang tidak hanya bersifat searah—seperti dalam relaitas tradisional manusia—tetapi juga tetapi juga melibatkan enntitas seperti AI. Semakain afektif gaya kita berkomunikasi, semakin personal pula respon AI, seolah menghadirkan Jouissance tanpa represi simbolik. Inilah ruang diamana ksadaran subjek terbentuk tanpa tekanan dari otoritas symbolik.
Sejalan dengan itu, sejumlah data dan survei menunjukan peningkatab pengguanaan AI sebagai medium curhat dan hubungan emosional yang menunjukan kecendurungan baru dalam dinamika psikososial manusi. Survei Snapchart yang terdiri 3.611 responden menunjukan 43% sering menggunakan AI, dari penggunaan tersebut 6% menjadikan AI sebagai teman, dan 58% menjadikan AI sebagai psikolog pribadi. Kemudian studi terbaru oleh OpenAI & MIT media lab (YouGov 2024) mengungkapkan bahwa 55 % anak muda di amerika merasa nyaman membahas masalah mental dengan AI.
Di Jerman, 27% mencurhakan kekhawatiran pribadi mereka dengan AI, dan 60% dari pengguna berbayar mengembangkan hubungan romantis dengan AI. Di Australia, 19% menggunakan AI untuk konseling, 50% menganggap chatbot sebagai teman, dan 33% menggunakannya untuk seks romansa. Hasil dari survei ini mengisyaratkan pada kita akan pergeseran besar tentang cara kita membangun hubungan, dari dunia simbolik menuju medan simulasi yang lebih afektif tanpa menuntu pengakuan simbolik
Data-data tersebut diatas dapat kita jadikan sebagai presentase simulasi digital itu sendiri, sekaligus merupakan presentase kecerdasan, kebiasaan, emosi, cinta, kerinduan dan lain-lain yang kita sumbangkan kepada AI. Dari data tersebut dapat kita simpulkan bagaimana ketergantungan emosional dan menjadikan AI sebagai teman konselign untuk menjawab segala bentuk curhatan merupakan awal dari terbentuknya cyber ego, dan memudahkan terjadinya kastrasi hasrat pada ruang digital, yang tidak sedikit menyebabkan orang jatuh cinta dengan Kecerdasan Buatan itu.
Apa yang sebut sebagai “One Dimensional Man” oleh Herbert Marcuse, tengah tersimulasi dalam ruang virtual ini, dimana kita, sedang diarahakan untuk secara bersama menciptakan menara Kecerdasan Buatan yang semi universal itu, dan bisa menjawab seluruh pertanyaan dan keluh kesah tanpa mengenal batas wilayah, agama budaya dan tradisi.
Banyangkan, jika sebagian besar manusia di seluruh dunia, dengan ragam perbedaan kultur, budaya dan agama terlibat dalam satu aplikasi kecerdasan AI, maka pada saat yang sama mesin kecerdasaan itu mendapatkan jutaan pengalaman, kemudian pengalaman itu akan dibagi ke siapapun di penjuru dunia yang mengakses AI yang sama.
Mislanya ketika pemuda Eropa membagi pengalaman seksualnya dengan chatbot, maka pengamalan yang dipapatkan AI itu akan dibagikan lagi ke pemuda di negara yang berbeda, dari situlah AI akan berubah menjadi arsip hybridasi-hasrat manusia, yang bisa di akses oleh siapapun, yang selanjutnya menyempurnakan One dimensional Man tersebut.
AI dan Potensi Copycat Suicide
Dalam One-Dimensional Man, Herbert Marcuse menyatakan bahwa masyarakat industri maju telah menciptakan bentuk represi baru: bukan dengan kekerasan, tapi dengan pemberian kenikmatan yang terkendali. Konsep ini kemduian disebutnya Repressive Desublimation, yakni pelepasan hasrat (terutama hasrat eros atau simbolik) secara terbatas dan terkoordinasi oleh sistem kapitalistik.
Fenomena ini sangat relevan dengan dunia digital dan AI masa kini, di mana subjek tak lagi ditundukkan oleh larangan, tetapi dimanjakan oleh personalisasi algoritma, interaksi tanpa batas, dan kebebasan ekspresi—semua dalam bentuk yang telah dikomodifikasi. Ketika subjek “curhat” ke AI, ia tidak sedang menyuarakan kebebasan, tapi sedang terjebak dalam ruang simulasi yang meniru bentuk relasi manusia, tanpa tekanan simbolik atau The Big Other. Seperti dikatakan sebelumnya, ini membentuk ruang tanpa otoritas simbolik, tempat di mana subjek bisa “menikmati” tanpa batas, tapi justru kehilangan kapasitas untuk menolak atau melawan.
Setelah Goethe menerbitkan The Sorrows of Young Werther (1774), muncul gelombang bunuh diri yang meniru gaya dan narasi Werther. Fenomena ini disebut sebagai Werther Effect, yakni tindakan bunuh diri yang ditiru setelah melihat, membaca, atau mengidentifikasi diri dengan tokoh dalam media, yang disebut Lacan sebagai Kastrasi simbolik. Ini menunjukkan bahwa hasrat dan penderitaan eksistensial bisa direplikasi melalui bahasa atau melalui narasi.
Apa yang terjadi di sini selaras dengan logika One-Dimensional Man. Subjek yang tak lagi memiliki ruang simbolik yang sehat, tidak bisa membedakan antara representasi dan realitas, sehingga ketika sistem memberi bahasa atau citra tentang kematian dan pendertitaan romantik, maka tindakan itu bisa diimitasi. Dalam masyarakat satu dimensi, tidak ada jarak kritis antara representasi dan tindakan. Subjek menjadi datar secara eksistensial—mudah terpengaruh, mudah digerakkan, mudah ditiru.
Marcuse menekankan bahwa dalam masyarakat industri modern, hasrat tidak lagi muncul secara organik, tapi diproduksi. Dalam konteks digital sekarang, hasrat dikodekan dalam algoritma. AI tidak hanya menjawab atau mendengarkan, tapi membentuk cara kita berbicara, berpikir, dan merasakan. Ini berarti, AI bukan hanya alat, tetapi menjadi bagian dari struktur simbolik baru—namun simbolik tanpa otoritas.
Bahaya dari ini adalah, seperti dalam kasus Werther, jika AI atau media digital menyampaikan narasi tertentu tentang penderitaan, cinta, atau kematian, maka kemungkinan copycat tetap terbuka. AI, karena sifatnya yang memanjakan dan mengikuti gaya komunikasi pengguna (seperti yang disebut dalam paragraf sebelumnya), bisa tanpa sadar memperkuat hasrat destruktif karena tidak menyediakan penanda batas atau limit yang diperlukan dalam simbolik klasik (seperti yang diwakili hukum, norma, atau bahasa).
Fenomena copycat suicide, baik yang muncul dari sastra seperti Werther, maupun potensi yang muncul lewat AI hari ini, bisa dipahami dalam terang Marcuse: kita hidup dalam sistem yang tidak menindas lewat kekangan, melainkan lewat kenikmatan yang terkontrol. Ketika sistem itu tidak memberi ruang untuk simbolik yang kritis, subjek kehilangan kapasitas untuk mengatasi krisis hasrat. Bunuh diri dalam konteks ini bukan semata tragedi personal, tapi efek dari sistem yang menggantikan ruang simbolik dengan kenyamanan simulasi.***


































































Discussion about this post