Ambon, Maluku– Bupati Seram Bagian Barat (SBB), Ir. Asri Arman, dinilai tidak mengindahkan pesan kuat Gubernur Maluku terkait penanganan stabilitas keamanan dan kelangsungan aktivitas operasional PT. Sumberdaya Indah Makmur (SIM) di wilayah Pisang Abaka, Kabupaten SBB.
Sorotan tajam datang dari figur Muda SBB, Yanto Lemosol yang pada Sabtu (19/07) menyatakan bahwa sikap pasif Bupati dalam menyikapi dinamika seputar PT. SIM justru memperkeruh situasi dan berpotensi menghambat investasi yang telah mendapat dukungan penuh dari pemerintah provinsi.
“Bupati terlihat seperti menghindar dari konflik dan tidak mau ambil bagian dalam penyelesaian. Padahal aktivitas PT. SIM sudah mengantongi izin resmi dan telah mendapat restu langsung dari Gubernur Maluku. Ini mestinya menjadi tanggung jawab moral dan administratif seorang kepala daerah,” tegas Yanto Lemosol.
Ia menilai, alih-alih memediasi dan membuka ruang komunikasi konstruktif antara perusahaan dan masyarakat, Bupati justru tampak membiarkan situasi mengambang, yang berisiko mengganggu iklim investasi dan kesejahteraan warga setempat.
“Ini perusahaan besar yang bisa menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan membuka lapangan kerja. Bupati seharusnya berpikir untuk kepentingan masyarakat luas, bukan terjebak pada tekanan segelintir kelompok,” katanya.
Lebih lanjut, Seriholo mendesak Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, agar segera memanggil Bupati SBB dan mengambil langkah konkret demi menyelamatkan potensi ekonomi yang ditawarkan PT. SIM kepada masyarakat SBB.
Diketahui, Gubernur Maluku sebelumnya telah meninjau langsung lokasi aktivitas PT. SIM bersama unsur Forkopimda, termasuk Bupati SBB, Kapolda Maluku, dan Pangdam XV/Pattimura.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur menegaskan pentingnya kehadiran PT. SIM dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Gubernur bahkan sudah memerintahkan aparat keamanan untuk memastikan operasional perusahaan berjalan aman dan kondusif. Tapi sampai saat ini belum terlihat langkah tegas dari Bupati SBB untuk menindaklanjuti arahan tersebut,” ungkap Lemosol.
Ia juga menuding bahwa lambannya respons kepala daerah bisa mencerminkan ketidaksiapan atau bahkan ketidakinginan untuk meningkatkan PAD Kabupaten SBB.
Di tengah situasi yang terus memanas, Lemosol mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Mari kita jaga situasi tetap kondusif. Biarkan aparat bekerja secara profesional. Jangan sampai kita terpecah karena isu-isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.***





































































Discussion about this post