Piru, Maluku– Iklim investasi di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dinilai semakin tidak kondusif akibat ketidakpastian sikap dari DPRD dan Pemerintah Daerah terkait polemik lahan kontrak PT. SIM di wilayah Petuanan Negeri Kawa. Meskipun uji petik lapangan telah dilakukan, hasilnya hingga kini belum diumumkan secara resmi kepada publik SBB.
Proses ini merupakan kelanjutan dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di Kantor DPRD SBB dan dihadiri sejumlah pihak terkait. Namun hingga saat ini, tidak ada kejelasan tindak lanjut, yang memicu kekhawatiran tentang adanya kepentingan politik yang bermain di balik lambannya penyelesaian masalah.
“Jika DPRD sudah terbius dengan kepentingan kekuasaan, maka daerah ini akan terus terombang-ambing tanpa arah dan tidak akan mengalami kemajuan berarti,” ujar Yanto Lemosol, Koordinator Pemerhati Investasi Maluku, Selasa (05/08).
Menurut Yanto, investasi tidak boleh dijadikan alat permainan politik. Ketika kepastian hukum dan keberpihakan terhadap iklim investasi hilang, kepercayaan investor pun akan ikut memudar. Hal ini, lanjutnya, sangat membahayakan masa depan ekonomi daerah.
Ia juga menyayangkan dampak yang harus ditanggung oleh PT. SIM, baik dari sisi kerugian materil maupun tertundanya aktivitas para pekerja lokal yang belum bisa kembali bekerja karena belum adanya kejelasan.
“Kasihan pihak perusahaan. Mereka sudah mengeluarkan biaya besar, tapi tidak tahu harus mengadu ke siapa. Di sisi lain, pekerja lokal pun belum bisa bekerja. Apakah ini dianggap hal sepele?” tambahnya.
Yanto menegaskan bahwa DPRD SBB seharusnya menuntaskan proses yang sudah mereka mulai. Setelah RDP dan uji petik dilakukan, DPRD mestinya menyampaikan hasilnya secara terbuka kepada publik dan perusahaan, serta memberikan jaminan bahwa tidak ada lagi kendala untuk melanjutkan aktivitas investasi.
“Kalau Bupati tidak bisa bersikap tegas, maka DPRD adalah benteng terakhir untuk memastikan iklim investasi berjalan dengan baik,” pungkasnya.
Polemik ini menjadi perhatian serius. Yanto mengaku, pemerhati investasi di Maluku mengkhawatirkan dampaknya terhadap minat investor masuk ke wilayah SBB di masa mendatang. Ketidakpastian ini dinilai berpotensi mencoreng citra daerah dan menghambat pertumbuhan ekonomi lokal.***





































































Discussion about this post