Ambon, Maluku – Aktivis asal Jazirah Leihitu Ramadan Tuhelelu, menyayangkan keras pernyataan DPRD Kota Ambon yang menyebut konflik antarwarga Desa Hitu dan Hunuth sebagai bentuk kelalaian Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah (Pemkab Malteng) dalam membina keamanan dan ketertiban masyarakat.
Pernyataan itu sebelumnya disampaikan Ketua DPRD Ambon, Morits Tamaela, saat konferensi pers di Kantor DPRD Kota Ambon.
Dalam kesempatan itu, Morits menyebut, “Apa-apa sedikit dari Malteng kejadian di Ambon. Kami minta Pemkab Malteng bertanggung jawab. Pemkab Malteng telah lalai membina Kamtibmas rakyatnya.”
Menurut Tuhelelu, pernyataan tersebut sangat tidak pantas diucapkan oleh sebuah lembaga legislatif. Ia menilai DPRD Kota Ambon seharusnya mampu menciptakan suasana kondusif dan non-provokatif dengan mengedepankan nilai pela dan gandong, bukan justru memperkeruh keadaan.
“Sebagai anak Jezirah yang berdomisili di Kota Ambon, saya menilai DPRD periode kali ini tidak bijak dan cenderung mencari panggung popularitas. Saya khawatir pernyataan seperti ini justru bisa memicu konflik baru,” tegas pemuda asal Negeri Wakasihu itu.
Ia juga mengingatkan bahwa 72% masyarakat Kota Ambon berasal dari Kabupaten Maluku Tengah, sekaligus menjadi penyumbang terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kota Ambon.
Karena itu, menurutnya, DPRD harus menjaga kesejukan, bukan melontarkan pernyataan kontroversial.
Bupati Malteng Bergerak Cepat Redam Ketegangan
Di sisi lain, Bupati Maluku Tengah langsung mengambil langkah cepat meredam situasi pascakonflik.
Selain memberikan santunan kepada korban penikaman, Bupati juga menemui Raja Hitu Lama dan Messeng untuk menjaga komunikasi dan meredakan ketegangan antarwarga.
Tak hanya itu, Bupati juga menjalin koordinasi dengan Wali Kota Ambon dan Gubernur Maluku untuk mencari format penanganan bersama, terutama terkait rumah-rumah warga Hunuth yang terbakar akibat bentrokan.
Langkah cepat ini diapresiasi banyak pihak sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam menjaga stabilitas dan keamanan masyarakat di tengah konflik yang sensitif.***





































































Discussion about this post